Belajar Integritas di Belanda

wpid-afbeelding-095.jpg.jpeg

Suasana ulang tahun ke-18 bersama Mom dan putra-putrinya di rumah Twijnderslaan, Haarlem

Suatu hari di tahun 2005

“What’s your plan today, Fadjar?”

“I am going to visit Indonesian ambassador and family in Den Haag”

“Wow, good for you. That’s great that you manage your days to see great people around. You’re going to learn a lot of things. Go ahead with your plan you and will you have dinner at home?”

“Yes Mom, I will be at home before dinner time.”

“Great, see you then.”

Hari itu aku bersilutrahmi ke Wisma Indonesia, kediaman Bapak Dubes Indonesia dan keluarga di Wassenaar, Den Haag.

Disambut begitu hangat oleh Ibu dan putra putri beliau, aku sangat gembira. Padahal aku belum pernah kenal dan bertemu sebelumnya. Hari itu untuk kali pertama aku silaturahmi keluarga Indonesia sejak 1 bulan di Belanda. Berkat rujukan kawan masa kecil ibuku yang kini menjadi seorang diplomat.

Seharian aku bermain dengan putra beliau. Bersepeda ke pantai Scheveningen. Pulang kelelahan sepeda kami naikkan ke tram. Pengalaman pertama.

Aku tidak bisa mengelak ketika Bu Dubes mengundangku tinggal sedikit lebih lama untuk makan malam. Selain
tidak mampu menolak aku juga sangat rindu makanan Indonesia dan makan bersama keluarga. Di rumah di Belanda aku hanya makan malam berdua dengan Mom. Anak-anaknya sudah tinggal dengan pasangannya masing-masing. Sementara di Indonesia, aku tinggal di asrama. (Saat itu usiaku 17 tahun, sudah 5 tahun terakhir aku meninggalkan rumah di Bogor untuk sekolah di Jogja kemudian pindah ke Serpong karena masuk sekolah berasrama, lalu setahun mengikuti program pertukarana pelajar AFS ke Haarlem Belanda)

Setelah diizinkan kutelpon rumah untuk mengabari aku pulang terlambat.
“Dag Mom, met Fadjar”
“Gaat het alles goed?
“Ja, het spijt me dat ik moet een beetje laat thuis komen, ze vroegen me uit om hier langer blijven te eten.” -maaf, aku harus pulang terlambat,, mereka memintaku untuk tinggal dan makan malam di sini-

Duss…??” -terus.. maksud lohh..-  nada bicara Mom berubah. Sepertinya dia tidak suka dengan keputusanku dan aku merasakan degup jantungku lebih cepat. Seketika aku sadar. Ini salah. Tapi semua sudah terlanjur. Aku mengutuk diriku yang hingga saat itu tidak pernah bisa menolak tawaran baik orang lain meski harus “mengorbankan” diriku atau orang terdekatku.
“Okay, up to you. But I hope you still remember that you told me you’ll have dinner with me. Ik heb boodschappen gedaan and ready to cook for you, for me, for Us. But we’ll talk about it again later. Doei.. krekk..” sebelum menutup telepon Mom menekankan ia sudah belanja untuk masakan kami berdua.

Deg!!! Mati aku. Percakapan terakhir Mom tidak menyahut lagi dalam Nederlands, bahasa Belanda tetapi dengan bahasa Inggris, artinya beliau ingin aku benar-benar paham bahwa ini masalah serius. Kebetulan kami masih komunikasi campur-campur hingga saat itu. Tetapi untuk masalah penting Mom akan menggunakan bahasa Inggris dan aku tahu kali ini sangat penting. Sepanjang makan malam di rumah Pak Dubes aku gelisah bahkan hingga ketika Pak Dubes tiba di rumah menyalamiku,  dari raga serasa jiwaku  serasa terpisah. Inginku segera kembali ke rumah dan minta maaf langsung pada Mom. Usai makan malam aku diantar Bu Dubes dan putra beliau ke stasiun.

Tiba di halaman rumah jantungku berdegup makin cepat, sensasi ini bahkan jauh lebih menegangkan dibanding aku harus berhadapan dengan juri siswa teladan tingkat Kota yang begitu intimidatif maupun ujian apapun.

Rasa gelisah, penuh bersalah, bahkan ketakutan karena aku tahu betul aku salah.

Dari halaman aku bisa melihat Mom sedang duduk baca koran di meja makan dengan dua gelas cangkir teh dan satu buah lilin kecil di hadapannya. Orang Belanda senang sekali menggunakan lilin untuk relkasasi. Tapi bagiku saat itu kehadiran lilin seolah berfungsi sebagai lampu ruangan interograsi yang sering ada di film-film aksi. Mati aku. Mati aku. Kukutuk diriku berkali-kali. Aku menyesal betul dengan mudah tidak menepati janjiku untuk makan di rumah.

Kubuka pintu rumah dengan kunciku sendiri, kubuka jaas tebalku dan pelan-pelan kumasuki ruang makan.

“Dag, Mom,” kucoba melempar senyum berharap situasi berubah.

“Dag, Fadjar hoe was het?”

“Leuk..” aku pun menceritakan semua yang kulakukan di Den Haag hari itu dan ujungnya, aku minta maaf bahwa aku pulang terlambat dan tidak seharusnya aku begitu.

“Okay, great that you had beautiful day. So now, let’s start as I promise you to talk..”

“Do you remember what you promised me before you left this morning..?”

“Yes Mom, I do.”

“Do you consider that as a promise?”

“mmh.. iyyeess..” aku mulai ragu menjawab. Aku tahu kemana arah diskusi ini berjalan. dan aku sudah sadar dari awal kesalahanku dan ini membuatku makin tersiksa. Setiap pertanyaan kujawab antara terbata-bata atau excuse yang ngawur. Aku benar-benar ketakutan karena merasa begitu bersalah.

Sebelum menutup perbincangan kami di telepon tadi Mom menenkankan bahwa ia sudah belanja dan siap masak untuk kami berdua. Kesalahanku menjadi berlipat ganda.

Pertama membatalkan janji seenaknya dan sudah sore, terlalu mepet konfirmasinya. Padahal janji di Belanda adalah suatu yang sangat dihargai. Janji, ucapan adalah representasi diri kita. Integritas kita. Membatalkan janji hanya dilakukan jika dengan suatu yang benar-benar terpaksa dan sulit dihindarkan. Karena itu, memberi janji juga bukan hal mudah. Hingga setahun berikutnya, selama di Belanda tidak pernah kualami seseorang membatalkan janji dengan SMS atau bahkan janjian via SMS. Sekali berjanji dengan ucapan, tanpa perlu konfirmasi lagi biasanya kami akan benar-benar bertemu pada waktu dan lokasi yang sejak awal ditentukan.

Kedua Mom sudah belanja dan di Belanda belanja hanya dilakukan sesekali. Belanja juga bisa menjadi indikasi hari itu seseorang akan meiliki acara spesial. Belanja sayuran selalu diupayakan dihabiskan segera.

Ketiga aku baru benar-benar menyadari what Mom capable of. Mom adalah seorang psychoterapist. Beliau merupakan konsultan psikologi yang sangat berpengalaman. Dan beliau adalah spesialis relasi. Menangani kebanyakan pasien yang bermasalah dengan relasi atau hubungan dengan seseorang. Paling sering adalah pasangan suammi istri ataupun pasangan samenleven. Dari segi umur, jika di Indonesia aku bisa menganggap beliau sebagai nenekku. Beliau tentu sangat mahir “mewawancaraiku”, menggali diriku, mengenali kelemahanku sekaligus berusaha mendidikku. Apapun yang ia katakan menghujam dalam di benakku. Hatiku seperti diremas-remas.

Hingga pada satu titik ia bertanya, “I don’t understand how possibly you did such thing? You are a good boy. You are respectful, polite and I think honest too. I would never expect that you might do such thing. I don’t know if it is common in Indonesia to conduct such behavior?”

Mampus, mampus, mampus.. Indonesia kebawa-bawa. Aku makin mengutuk diriku, “dasar bego, baru sebulan di tanah orang udah malu-maluiin nusa bangsa!!!”

Secara naluri meski tahu aku salah aku masih membela diri. Aku sampaikan tidak enak hari karena mungkin aku tidak akan punya banyak kesempatan bertemu dengan tokoh seperti beliau lagi. Tapi justru ini semakin menjadi bumerang bagiku.

“I know today you saw your ambassador, which is an important experience for you, and tomorrow probably you can see our Prime Minister, but it’s not the point. Promise is promise.”

Brukk.. Mom benar-benar berhasil mengoyak pertahananku. Percuma aku beralasan. Aku memang sudah salah sejak awal. Mungkin selama ini ngeles, mencari alasan, membela diri lebih terbiasa kulakukan. Selanjutnya aku memilih diam. Merenungi sepenuhnya ucapan demi ucapan Mom.

Di tengah-tengah perasaan berantakan, pasrah, sedih, bersalah muncul bisikan dalam kepalaku..

“Ayatul munafiqi tsalatsun: Idza haddasa kadzaba, wa idza wa’ada akhlafa, wa idza’tumina khona.”
“Ciri-ciri orang munafiq ada tiga:
1. Bila berbicara, ia dusta.
2. Bila berjanji, ia ingkar.
3. Bila dipercaya, ia khianat.” [HR. Bukhari]

11 tahun sekolah di sekolah berbasis agama Islam, aku sudah hafal hadits ini di luar kepala.

Makin jatuh perasaanku. Ingin kutenggelamkan diriku dalam-dalam ke pusat bumi. Aku beragama Islam, belajar Islam, tapi selama ini semua hanya di kepala tidak meresap di hati dan perilaku. Hari itu aku adalah pendusta, pengingkar dan pengkhianat. Malam itu, justru mataku dibukakan oleh Mom yang seorang Atheist. Seorang yang tidak lagi beragama, merasa begitu dikecewakan oleh agama tapi juga justru hidup dengan prinsip yang kuat. “Mengamalkan” ajaran agama yang banyak diucapkan tapi tidak diamalkan pemeluknya. Bisa dikata, hari itu aku belajar agama dari seorang yang justru tak beragama. Ini baru soal janji, selanjutnya, banyak sekali nilai-nilai yang mengalami nasib serupa.

Malam itu aku belajar dengan utuh menepati janji itu mencerminkan pribadi, integritas seseorang. Sementara selama ini banyak sekali nilai-nilai moral kehidupan yang kupikir sudah sangat kupahami tapi malam itu aku baru sadar betul bahwa semua itu hanya pada level kognisi bukan aplikasi. Semua dilakukan dalam keadaan sadar, belum otomatis terinstal, terintegrasi dalam setiap sikap dan perbuatan. Setelah dua jam”mewawancaraiku” dan “berdiskusi” denganku ia memintaku untuk tidak ragu menyampaikan apapun, keraguan, perdebatan, perbedaan, Mom memelukku yang mulai tersedu dan melepasku untuk beristirahat di kamarku.

Hari-hari selanjutnya tidak hanya mengenai janji, aku begitu perhitungan dalam berkata, bersikap dan bertindak di Belanda. Seolah aku baru dibukakan pintu sekolah kehidupan. Sadar apa yang kudapatkan selama ini dalam pelajaran Agama dan PPKn hanyalah informasi belaka hingga suatu peristiwa mampu menanamkannya dalam-dalam di benak hingga tercermin dalam perilaku kita. Teladan kakek, keluarga dan orang tua kusadari rupanya adalah yang paling merasuk membentuk pribadiku, bukan pelajaran dari guru di sekolah apalagi ilmu di buku yang hanya dihafal dan diujikan melulu. Rupanya selama ini nilai-nilai yang kuanggap luhur dan kuanggap kita telah kuanut hanya nilai yang tersimbolisasi dalam kurikulum, dalam nasehat, dalam ucapan. Bukan sikap dan perbuatan.

Hidup “seorang diri”, tinggal, sekolah, bersosial di lingkungan asing, seolah aku diterjunkan langsung pada wahana Madrasah Kehidupan. Didebat soal keislaman dan terorisme, soal keyakinan akan Tuhan dan bencana, soal tidak satunya ajaran agama dan adab pemeluk agama, mispersepsi antara ajaran agama dan budaya dan masih banyak lainnya. Setiap detik kurasa begitu berharga di Belanda, pikiranku dibuka untuk mengkaji ulang nilai-nilai moral yang selama belasan tahun secara tekstual kuterima. Memastikan itu semua bukan hanya pengetahuan tapi juga termanifestasi dalam tindakan. Hingga kemudian aku betul-betul paham, yang masih terus harus aku ingatkan diriku selalu, makna dari integritas. Satunya kata dan perbuatan.

Rejodani, 18 Mei 2014

 

***

Jika artikel kami bermanfaat, silakan share, rate, like, atau follow blog kami. Terimakasih ya, kami sangat menghargai apresiasi teman-teman pembaca😀

3 thoughts on “Belajar Integritas di Belanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s