Asal Mula Kita Senantiasa Mengembara

Sampai kapanpun hidup kita akan menyisakan teka-teki. Beruntung sekali jika pada satu titik kita berkesempatan menemukan sebagian jawaban dari beragam teka-teki itu. Yang kehadirannya seolah menjadi pembenar, penyemangat, bahkan petunjuk dari situasi yang sedang kita hadapi.

Malam ini secara tak sengaja Bapak membaca FB note Oom Dawud tentang Mbah Haji Haroen. Mbah Buyutnya Bapak atau juga Mbahnya Eyang Utinya Fattah.

Sejak kecil Bapak selalu tertantang untuk bertualang belajar di tempat yang sama sekali baru. Rasanya selalu seru. Lingkungan baru, teman baru, budaya baru. Di tahun 2000, lulus SD Bapak putuskan keluar rumah di Bogor, pindah ke Jogja bersekolah di SMP 5 dengan perwalian Mbah Kakungnya Bapak. Motivasi awalnya adalah agar kelak bisa kuliah di UGM, yang diperkuat faktor presipitasi galaknya almarhum ayahanda Bapak alias Eyang Kakungnya Fattah.

Sejak itu, Bapak menjadi selalu ingin tinggal dan menemukan tantangan di tempat baru. Sehingga seperti inilah secara singkat perjalanan petualangan hidup dan ilmu Bapak berdasarkan kota dan tahunnya.

– Ciawi, numpang lahir karena murah meriah (1987)

-Bogor, tumbuh hingga lulus SD (1987-2000)
– Yogyakarta, menjalani 3 tahun SMP (2000-2003)
– Tangerang, melanjutkan SMA di sebuah Madrasah (2003-2005)
– Haarlem, mengikuti pertukaran pelajar Bina Antarbudaya (2005-2006)
– Tangerang, melanjutkan 1 tahun tersisa di Madrasah (2006-2007)

-Yogyakarta, kuliah di UGM untuk s1 (2007-2011)

-Singapore & Kuala Lumpur, studi banding bersama perangkat BEM fakultas (2009)

-Groningen, konferensi pertama di luar Indonesia (2010)

-Olomouc, pertukaran mahasiswa 1 bulan di Ceko (2010)

-Berlin, konferensi kedua dan presentasi dan penghargaan ilmiah pertama di luar Indonesia (2010)

-Geneva, magang di Bakesda, Badan Kesehatan Dunia

-Brussels, pertukaran mahasiswa belajar Kesmas sekaligus tahun madu sama Mama di ibukota Eropa sehingga dekat jalan-jalan kemana-mana (2011-2012)

-Sleman, kembali ke Indonesia bersama Mama dan Fattah di kandungan, Bapak koass dan kerja untuk 2 professor dengan 5 proyek berbeda (2012-2014)

-S*******m, Bapak ingin ajak Fattah ke negera yang dinilai pendidikan anak usia dininya salah satu terbaik di dunia sambil Bapak belajar kesehatan dunia dan Mama magang di organisasi inovasi sustainable living.. (2014-…)

 

Nah, tidak bisa dipungkiri, hal ini sering membuat Bapak “sulit sendiri” saat Bapak mengenalkan diri bila orang tanya “dari mana asalnya?” karena lucunya orang kemudian selalu menyalahkan jawaban Bapak, entah Bapak menjawab Bogor, Jogja, atau Pemalang. Jadi Bapak pesan, jangan terlalu dalam hiraukan protes orang terutama dari rumpun kita. Karena fokusnya tidak pada hasil, cuma asal rame aja.

Kembali lagi ke kisah Oom Eyang Dawud di bawah ini, setelah membacanya, seolah teka-teki hobi merantau Bapak ini mendapat pencerahan tentang asal sumbernya. Ini ceritanya, yang dikisahkan Oom Eyang Dawud tanpa Bapak ubah:

Catatan penulis:

Haji Haroen adalah sebuah legenda di Yogyakarta, seorang pengusaha pribumi Jawa terbaik di masanya, ulama, dan dermawan. Beiiau tinggal dan wafat di dusun santri Rejodani yang terletak di kabupaten Sleman. Penulis tertarik untuk memulai mendokumentasikan biografi Haji Harun yang saat ini masih merupakan ‘puzzle’ yang perlu mulai dikumpulkan dan nantinya disusun menjadi sebuah gambar utuh. Cerita yang akan penulis buat nantinya diharapkan akan menjadi rujukan generasi penerus sehingga ‘historically accurate’ akan diusahakan dengan baik walaupun prosesnya ‘step by step’.

 

PERJALANAN PANJANG

 

Pada awal tahun 1900-an, Musa beserta istri dan dua anak laki-laki mereka yang masih sangat muda, Haroen dan Mansyoer akan melaksanakan perjalanan menuju tanah suci Mekkah untuk berniat menunaikan ibadah haji. Perjalanan haji pada masa itu merupakan ‘one way ticket’ bagi masyarakat Yogyakarta sehingga dengan sangat khusyuk dan haru mereka dilepaskan oleh saudara, tetanga, kerabat dan handai tolan dari masjid Suthony Rejodani yang kebetulan rumah mereka berada di satu halaman dengan masjid.

Perjalanan dimulai dengan mengendarai andong dari Rejodani menuju stasiun Tugu Yogyakarta. Dari sini dengan kereta api uap perjalanan dilanjutkan menuju Jakarta. Dari Jakarta mereka menunpang kapal dengan tujuan Jeddah dengan melalui transit di kota-kota: Singapura, Aceh, Madras, Mumbai, Aden, dan Jeddah. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 3 bulan.

Setelah selesai menunaikan ibadah haji, malang dan dapat ditolak untung tak dapat diraih, terjadilah perang di kawasan Asia dan Timur Tengah sehingga mereka berempat tertunda pulang karena tidak ada pelayaran. Berbulan-bulan penundaan tersebut sehingga bekal dan uang habis. Akhirnya para khalifah ini harus bekerja di negeri yang gersang itu. Banyak pekerjaan yang dilakukan, mulai kuli sampai akhirnya yang paling ditekuni adalah sebagai penjahit dan penenun. Penugasan dari perusahaan bahkan pernah sampai ke negeri Cina.

Enambelas tahun keluarga tersebut terdampat dan menetap di Arab Saudi sampai akhirnya mereka memiliki kemampuan pulang ke negerinya. Sesaat sebelum pulang dua pemuda Haroen dan Mansyoer memanjatkan doa yang sangat terkenal yaitu, Haroen berdoa kepada-Nya agar kalau sudah berkeluarga, dia dan anak keturunannya dijadikan bakul yang sukses. Bakul adalah sebutan untuk pengusaha di masa itu. Lalu di saat yang sama adik kandungnya Mansyoer juga memanjatkan doa agar beliau dan anak keturunannya dapat dijadikan pamong-praja.

Akhirnya mereka pulang ke desa Rejodani dan tinggal di rumah dekat masjid Sulthony, yang sesuai namanya memang masjid hadiah dari keraton Kasultanan. Setelah menikah dan memiliki keluarga, Haroen dan Mansyoer tinggal berdampingan di lokasi dekat pasar Rejodani. Belakangan hari doa mereka terkabul, Haroen menjadi tuan tanah dan orang sangat kaya dengan usahanya yang menggurita, dari mulai agrobisnis sampai perhotelan. Sementara Mansyoer menjadi lurah yang terpandang dan juga tuan tanah.

Sedikit kesmipulan dari Bapak

“berbakti untuk negeri bukan berarti serta merta segera pulang usai studi, tapi berupaya adu kompetensi, uji nyali, bangun jaringan, kumpulkan sumber daya di negeri orang, baru pulang kalau sudah jadi atau bisa menggerakkan orang. Karena pulang itu seperti perang, harus siap berjuang. Bukan cuma rindu makan nasi, pulang tanpa amunisi..”

***

Rejodani, 25 Mei 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s