Road to Docplomat: Refleksi seorang Calon Dokter menuju Karir dan Kontribusi Masa Depan

Sebagai bagian dari pendidikan Professional Behavior dari FK UGM, hari ini saya dan kawan-kawan yang mengakhiri pendidikan profesi dokter (ko-assisten) diminta menguraikan bidang profesi kedokteran yang selanjutnya saya jalani. Untuk itu saya harus memulai penjelasan dari hari sejak saya dilahirkan.

 

(Silakan putar video ini. Video ini dibuat dalam rangka UNESCO Youth Conference namun  cukuprelevan untuk mengawali membaca tulisan ini)

Masa Bayi hingga Pendidikan Dini, 1987-1993

Saya dilahirkan di RSUD Ciawi, 20 km dari rumah kami. Antara rumah dan RSUD Ciawi sebetulnya ada dua rumah sakit yang terletak lebih dekat yakni RS PMI (8 km dari rumah) dan RS AZRA (5km dari rumah). Keduanya tidak dipilih karena alasan biaya. Saat itu, orang tua dan kakak saya baru saja pindah dari rumah gedhek (anyaman bambu) di pinggir kali Ciliwung yang masih dengan kloset plung-lap, sekali nyemplung lenyap, alias tak berkloset alias BAB di kali, ke rumah permanen yang jauh lebih baik karena diminta menempati sekaligus menjaga sebuah rumah peristirahatan beserta kebun dan makam keluarga milik seorang Marsekal AURI hingga tahun 2000 kami diminta membelinya dengan ¼ harga.

Di musim kemarau, saat sedang mengandung saya, ibu dan ayah saya harus keliling kota Bogor untuk memenuhi bak mobil pick up untuk memenuhi kebutuhan air.  Itu semua terjadi di tahun 1987, 42 tahun setelah Indonesia merdeka. Kini, setelah 69 tahun Indonesia merdeka, 57 juta rakyat Indonesia masih buang air besar tanpa jamban dan 80 juta orang kesulitan air bersih.

Yang ingin saya tekankan, kami berasal dari keluarga ekonomi tidak mapan, tetapi sangat beruntung masih bisa tinggal sebab kebaikan sesamadan kebijakan pemerintah. Fakta golongan sosial asal keluarga saya saat saya dilahirkan kelak mempengaruhi cara pandang saya dalam human basic need and  healthcare provision.  Bahwa untuk mewujudkan kesehatan masyarakat, niat baik dan uluran tangan orang baik saja tidak cukup, dibutuhkan tenaga-tenaga ahli dan terampil yang diakomodasi oleh pemerintah melalui sistem yang baik sehingga tercipta akses pelayanan kesehatan yang memadai bagi seluruh masyarakat. Sistem yang baik kuncinya.

 

Masa Pendidikan Dasar 1994 – 2007

Namun keaktifan saya dalam beberapa kegiatan ekstrakurikuler membawa saya menjadi Ketua Ekstrakurikuler Dokter Kecil. Cita-cita saya saat itu dua, menjadi dokter atau pengusaha bis. Demi mengejar mimpi meraih pendidikan berkualitas dan murah serta tetap bisa masuk UGM, selepas SD saya mengejar pendidikan terbaik dengan pindah ke Kota pelajar, Jogja. Satu tahun saya tinggal bersama Kakek dan Oom yang sedang merampungkan ko-ass dan dua tahun tinggal bersama Pakde yang seorang dokter sekaligus dosen dan professor biokimia. Motivasi menjadi dokter tumbuh seiring motivasi dari Bapak agar ada putranya yang saya menjadi dokter seperti Pakde. Alasannya agar punya kehidupan yang sejahtera, yang didasarkan pada pengalaman masa mudanya ketika menjadi detailer obat saat kuliah.

Secara umum, keluarga cukup berpengaruh dalam pembentukan mindset menjadi dokter. Dari keluarga inti sisi Bapak ada 9 orang dokter dan 1 dari sisi ibu. Pilihan karir dokter di keluarga kami sangat beragam, tidak ada bidang keilmuan yang betul-betul yang seragam, tersebar di berbagai institusi yang berbeda dan tidak satupun memanfaatkan jejaring nepotisme. Di antara beliau-beliau ada yang tidak menjadi spesialis karena kendala biaya, ada yang menjadi spesialis justru karena dipaksa institusi tempat mengajar karena tidak ada staff lain yang meminati, dan banyak variable lain yang mempengaruhi keputusan mereka menjadi klinisi maupun non-klinisi. Fakta ini mendukung saya berpegang dan memperjuangkan pilihan saya yang berbeda pula dari mainstream peserta didik fakultas kedokteran serta menyesuaikan kondisi ekonomi.

Bulan ketiga di saya bangku madrasah aliyah, Bapak meninggal sebab myocardial infarct. Tidak ada skema beasiswa untuk anak yatim, saya kemasi buku dari meja belajar dan saya ubah menjadi warung tempat menjual aneka rupa makanan kecil dan minuman ringan.Juga, setiap hari ke sekolah dengan selusin minuman kotak yang sudah semalam didinginkan. Saya meraup untung bersih 400 ribu hingga 1,2 juta per bulan, hidup di asrama dengan keterbatasan biaya membuat survival skill saya berkembang.

Saat di aliyah pula saya mendapat kesempatan dan beasiswa mengikuti pertukaran pelajara AFS di Belanda. Pengalaman hidup sendiri di negeri Belanda saat remaja, tinggal bersama keluarga dan belajar di sekolah lokal dengan latar belakang agama, budaya, sistem sosial (pendidikan, kesehatan, , transportasi massal, dan pelayanan publik) berbeda. Tanpa disadari saya mengembangkan sikap nasionalisme, diplomatis, keterampilan public speaking dan percaya diri yang berbeda dari sebelumnya juga keterampilan bahasa. (hingga saat ini saya memiliki kemampuan bahasa Inggris (proficient), Belanda (fair) dan Prancis (basic)).

Berbekal modal tersebut, sekembalinya ke Indonesia saya memutuskan untuk mendaftar kuliah sesuai passion saya dan diterima dengan beasiswa penuh di jurusan International Studies di APU-Ritsumeikan University. Dilema hadir saat saya juga mendaftar dan diterima di Fakultas Kedokteran UGM. Sebelumnya pada wawancara ketika ditanya apa kelemahan saya, “saya tidak bisa melihat orang sakit dan menderita.” Ketika pewawancara menggugat jawab saya, dengan diplomatis saya menjawab, “saya punya waktu 4 tahun plus 2, untuk membiasakan diri dan mengubahnya.”

Terkait pelayanan kesehatan, di Belanda lah pertama kali saya mengalami furunkel satu-satunya dalam hidup saya dan mendapat insisi dari familiearts (dokter keluarga) Belanda dengan memanfaatkan jaminan asuransi. Saya terketuk, “sama dokter Belanda aja bisa gratis, kenapa di Indonesia saya harus bayar?” Kelak ini yang membuat saya melek dengan pentingnya pembiayaan kesehatan.

Ketika saat memutuskan universitas tiba, saya memilih FK UGM di atas kesempatan kuliah dengan beasiswa di Jepang. Metodenya sederhana, beberapa hari sebelum deadline di perpustakaan sekolah saya MAN Insan Cendekia, pada sebuah rak tidak sengaja saya temukan buku “To See The Unseen: Di Balik Damai di Aceh”. SIngkat cerita saya terinspirasi oleh tokoh utama dalam buku tersebut, Dr. dr. Farid Husein, SpBD., seorang dokter bedah digestif yang mendapat amanah Wapres Jusuf Kalla untuk menginisiasi perundingan RI dan GAM melalui mediasi Mantan Presiden FInlandia Marti Ahtisaari. Dari situ saya menyimpulkan, “Jika saya sekolah dokter, saya masih bisa bertindak sebagai diplomat. Tetapi jika saya sekolah diplomat, saya tidak bisa jadi dokter.”

Masa Pendidikan Tinggi, 2007-2011

Kuliah di FK pada tahun pertama, tantangan akademik secara umum bisa saya kelola. Tapi finansial, minta ampun rasanya. Biaya makan di luar, karaoke, hang out adalah adverse event menjadi mahasiswa FK. Sistem blok dengan metode belajar tutorial dan keterampilan klinik secara berkelompok menuntut kamai memiliki kedekatan interpersonal yang baik. Di sini adaptasi sosial menjadi penting. Termasuk adaptasi pertemanan yang seringkali berbiaya tinggi. Ditambah buku-buku kedokteran mahal, saya tidak sanggup lagi hanya menanti kiriman. Meski saya sempat mendapat beasiswa selama satu tahun di FK, jumlahnya masih jauh dari standar keamanan finansial.  Survival insting sayabergeming, tahun kedua hingga ketiga saya fokus mengembangkan business network marketing pengisian pulsa (selain itu berjualan parfum, tas wanita, agen asuransi pun saya jalani).

Meski akhirnya kesibukan saya justru membuat saya tidak berteman dengan cara di atas, alhamdulillah keuntungan dari usaha pulsa senilai dengan biaya masuk dan selama kuliah di FK. Tapi mahal konsekuensinya, nilai dan pemahaman ilmu saya tidak pernah lebih baik dari tahun pertama. Sampai sebuah jargon disematkan, “Fadjar itu kuliah cuma sampingan, utamanya jualan..”. Tidak salah masuk FK kalau tujuannya ingin secara finansial sejahtera, karena mayoritas mahasiswa FK berdaya beli tinggi. Meski begitu, akhirnya, saya ingin lulus dengan selamat, di tahun keempat saya putuskan untuk “tobat”.

Saya tinggalkan bisnis yang telah menyentuh omset bulanan puluhan juta, lalu fokus pada kehidupan kampus, memperbaiki nilai dan menyelesaikan skripsi. Alhamdulillah Tuhan izinkan saya wisuda tepat waktu dan IPK aman, 3.09. Cukup aman untuk memenuhi syarat berbagai beasiswa dan pekerjaan.

Sebetulnya saya sempat memiliki inisiatif untuk mengurai masalah mahalnya buku kedokteran dan kelangkaannya di perpustakaan. Saya sempat mengajukan tawaran informal kepada Pak Tung Desem Waringin (pemilik toko buku Toga Mas) sebuah program pengadaan buku masal untuk mahasiswa baru FK dengan harga dan sistem yang tidak terpikirkan sebelumnya, yakni beli sewa sebuah modifikasi pengalaman saya bersekolah SMA di Belanda. Tapi sayang, saya tidak punya kesempatan mem-follow up karena memilih fokus mengembangkan usaha pulsa untuk keamanan finansial saya.

Skripsi saya bertujuan mengungkap dampak pembelajaran keterampilan komunikasi mahasiswa kedokteran di masyarakat bagi masyarakat. Kebanyakan penelitian sejenis hanya berfokus pada manfaat bagi mahasiswa dan institusi pendidikan. Penelitian berbasis masyarakat selalu menarik minat saya. Dalam periode skripsi saya yang mencakup bidang pendidikan kedokteran dan bidang kesehatan masyarakat ini saya mempelajari banyak hal dan mendapat beragam kesempatan.

 

Menikmati kempatan terjun di masyarakat, sembari melakukan penelitian skripsi, saya mengajukan diri untuk menjadi asisten bagi dosen pembimbing saya. Sering berada di lingkungan dosen dan bagian kesehatan masyarakat saya menjadi terinspirasi oleh aktivitas para dosen non-klinis ini yang menarik di mata saya. Selain aktif meneliti dan menulis, mereka juga aktif diundang mempresentasikan penelitiannya kepada dunia internasional. Wow, bicara di hadapan akademisi internasional, dapat kesempatan jalan-jalan dibiayai pula. Motivasi dan percaya diri saya tumbuh, saya targetkan saya dapat mengikuti jejak para dosen pembimbing saya di kelak di event internasional.

Akhirnya saya berhasil memperoleh kesempatan berpartisipasi pada 1 studi banding ke FK di Singapura dan Malaysia, 3 konferensi internasional di Belanda, Jerman (meraih penghargaan presentasi poster terbaik) dan Jakarta mempresentasikan hasil skripsi dan penelitian saya serta mengikuti pertukaran professional di Ceko dengan pendanaan hasil bisnis pulsa, dukungan keluarga dan bantuan sponsor (Travel grant, Universitas, Fakultas, BPKLN Dikti, Garuda Indonesia, Kementerian Kesehatan, Kementerian Luar Negeri) serta kebaikan para staff diplomatic kedutaan Jerman, Ceko dan konjen Jenewa yang menampung saya. Hubungan baik saya dengan para duta bangsa ini membuat saya semakin tertarik dengan dunia diplomasi sekaligus kesempatan belajar diplomasi secara otodidak.

Saya meyakini segala penyakit dapat dicegah jika kita memahami dan mampu mengelola faktor risikonya. “Voorkomen  is  beter  dan  genezen”. Mencegah  lebih  baik  daripada  mengobati. Sayangnya, seperti yang saya sampaikan tentang jamban dan air bersih di atas, pekerjaan rumah paling mendasar sekalipun belum mampu kita selesaikan. Maka tidak heran, sebagai negara berkembang yang terus maju pertumbuhan ekonominya, secara sosial kesehatan kita seharusnya sudah fokus pada non-communicable disease tapi nyatanya beban communicable disease belum bisa kita tuntaskan bahkan masih terus menggerogoti. Sehingga kita kini memiliki beban ganda.

Tergerak dengan minimnya upaya prevensi dan promosi, pada tahun 2009 saya mengembangkan sebuah inisiatif promosi kesehatan berbasis teknologi mobile phone. Ide ini terinspirasi dari pengalaman masa kecil ketika nenek saya sering membuat kliping dari koran hingga meratakan koran  bekas  bungkus  cabe  dari pasar  untuk  mendapatkan  informasi  kesehatan yang kemudian diselipkannya ke plastik taplak meja agar seluruh anggota keluarga membacanya. Berbekal pengalaman  di  bisnis  pulsa,  saya berhasil menginisiasi kerjasama antara FK UGM dan PT Gama Techno dalam  membuat  konten  kesehatan yang tersedia di handset Nokia melalui program Nokia OVI Life Tools (sms-based) diluncurkan pada 2011 dan Nokia Healthy Life (application-based) pada 2013 bersama 6 mahasiswa FK UGM beserta  dr.  Bambang  Djarwoto  SpPD-KGH  dan  dr.  Ova Emilia Sp.OG sebagai supervisor.

 

Selain mengembangkan proyek dan terlibat penelitian, semasa kuliah saya juga menjadi sukarelawan Posyandu Lansia di lingkungan tempat tinggal saya di Baciro, membantu pemeriksaan vital sign sebagai kanal ketertarikan saya dalam memahami pelayanan kesehatan mandiri berbasis komunitas sekaligus media bersosialisasi langsung dengan masyarakat sembari mengaplikasikan ilmu sejak dini.

 

Masa Semi-Professional 2011-2012

Bersamaan keaktifan saya mengikuti kegiatan tingkat internasional (konferensi, studi banding dan pertukaran pelajar), pada blok akhir di FK UGM menjelang kelulusan saya mendapatkan mata kuliah tentang sistem kesehatan dan Global Health oleh dr. Yodhi Mahendradhata, Phd. Kuliah ini membuka mata saya tentang peta kesehatan dunia sekaligus cabang karir lain bagi alumni pendidikan dokter. Sejak saat itu saya menargetkan untuk lulusan dari S1 pendidikan dokter dengan sebanyak-banyaknya pengalaman internasional karena jika sudah masuk ko-ass saya sadar kesempatan seperti ini lebih terbatas. Saya melihat Global Health ini sebagai kesempatan hibrida antara wasiat dan harapan orang tua agar saya menjadi dokter dengan cita-cita saya untuk menjadi diplomat.

Tepat usai wisuda, saya mendapat kesempatan internship di WHO Jenewa yang dilanjutkan dengan kesempatan mengikuti kursus public health di Belgia selama satu tahun termasuk magang di WHO Collaboration Center for Research of Epidemiology of Disaster. Di Jenewa saya bekerja di bawah tim External Resource and Mobilization pada Cluster Health Security and Environment dengan tugas utama mengidentifikasi sumber-sumber potensial pendanaan proyek-proyek kesehatan internasional hingga strategi kesiapsiagaan penanganan wabah pandemic berbagai negara.

Di WHO, saya belajar tentang sumber dan pola pembiayaan program kesehatan, strategi penggalangan dana dan pengelolaan biaya di WHO. Saya juga melihat sendiri betapa peran diplomasi kesehatan perlu dikembangkan oleh suatu negara, misal hingga saat ini keberanian mantan Menkes dr. Fadilah Supari, SpJP dalam meng-counter kebijakan WHO pada WHO’s Global Influenza Surveillance Network yang saat itu mengharuskan negara berkembang menyerahkan sample virus untuk pengembangan vaksin tanpa memiliki kesempatan untuk mengembangkan dan memanfaatkannya langsung sendiri, masih tercatat sebagai salah satu sejarah penting diplomasi kesehatan di dunia. Di masa depan, sangat mungkin sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar Indonesia membutuhkan kepiawaan menjaga kedaulatannya melalui diplomasi kesehatan.

Di Jenewa, saya beruntung mendapat supervisor yang baik hati di Jenewa dari Indonesia, Pak Ludy Suryantoro dan dan bekerjasama dengan 7 staff dari 6 negara berbeda. Saya juga sempat berdiskusi secara langsung dengan Director, Research Policy & Cooperation (RPC/IER), World Health Organization asal Indonesia, Bapak Tikki Pangestu tentang berbagai isu kesehatan di Indonesia dan karir di Global Health. Beliau menyampaikan bahwa partisipasi pemuda Indonesia dalam internship di badan internasional perlu ditingkatkan sebagai wujud partisipasi Indonesia dalam diplomasi kesehatan. Beliau juga nyatakan membutuhkan orang-orang muda yang bisa berkolaborasi dengannya sehubungan dengan rencananya diminta menjadi pelopor Global Health di Asia Tenggara yang berpusat di Singapore. Kelak, diskusi kami ini membuka jalan saya menuju National University Singapore. Di Jenewa saya juga berjumpa Prof Laksono Trisnantoro yang sedang mengikuti konferensi dan kami berdiskusi tentang peluang karir di bidang Global Health yang begitu luas. Pertemuan ini kemudian membuka jalan saya menjadi asisten beliau sepanjang tahun 2012-2014 (selama menjalani ko-ass).

Selama menjadi asisten beliau, banyak sekali inisiatif beliau yang saya temui sangat brilian menjadi terapi berbagai permasalahan kronis pelayanan kesehatan di Indonesia. Antara lain:

1. Inisiatif Program Dokter Nias

Semakin minimnya putra daerah menjalani pendidikan profesi dokter di perguruan tinggi unggulan karena kalah bersaing dalam raihan NEM, skor seleksi masuk, maupun kemampuan finansial menjadi pijakan awal inisiatif ini. FK UGM bekerja sama dengan pemerintah daerah Nias pada tahun 2007 mengalokasikan khusus 15 kursi pendidikan dokter untuk mahasiswa putra asli daerah Kepulauan Nias. Mereka adalah siswa SMA terbaik di antara yang diseleksi dari seluruh Nias. Program ini ingin membuktikan bahwa jika kesempatan dialokasikan, sesungguhnya putra daerah juga mampu bersaing dan berhasil dalam program pendidikan dokter. Terbukti 14 dari 15 calon dokter asal Nias tersebut lulus tepat waktu dengan hasil memuaskan.

2. Inisiatif Program Sister Hospital di NTT

Program ini memungkiknak Bagian Ilmu Penyakit Kandungan dan Kebidanan mengirimkan residen ke RSUD di NTT. Program ini berhasil menurunkan angka kematian di RS tersebut dan di satu sisi bermanfaat bagi calon spesialis obsgyn yang mendapat pengalaman keterampilan di setting klinis yang terbatas dan di daerah rural.

3. Usulan diversifikasi tema Fakultas Kedokteran se-Indonesia.

Fakultas Kedokteran perlu memiliki tema spesifik dalam menggelar pendidikannya. Ini diperlukan untuk menjawab tantangan kesehatan yang unik dan spesifik di berbagai daerah di Indonesia. Misal, UGM yang telah dikenal unggul; memiliki kapasitas dalam penilitian biologi molekular dan biomedis dasar maupun terapan dapat menjadikan tema ini sebagai tema utama sehingga terus fokus untuk menjadi center of excelence bidang tersebut di Indonesia. Sementara Universitas Cendrawasih yang dihadapkan dengan permasalahan penyakit infeksi tropis dan menular seperti Malaria dan HIV dapat menjadikan infeksi tropik dan rural medicine sebagai tema utama sehingga dapat fokus membangun fakultas kedokterannya dengan semangat tersebut dan kelak kolaborasi internasional dalam bidang tersebut dapat terus dikembangkan.

dan masih banyak lahi.

 

Di Belgia saya belajar tentang persebaran potensi bencana alam di dunia, sebab-sebab kematian tersering pada beragam bencana, pola penanganan bencana oleh pemerintah berbagai negara. Salah satu hal yang paling mengetuk hati saya adalah manakala saya menemukan data yang menyatakan bahwa korban meninggal yang mencapai 1117 akibat gempa di Sumatera Barat pada 2009 tidak perlu terjadi jika bangunan-bangunan yang didirikan oleh pemerintah tidak rentan oleh korupsi semasa konstruksinya. Ironisnya, salah satu bangunan pemasok korban meninggal terbesar adalah rumah sakit yang diungkapkan berpotensi dikorupsi saat pembangunannya.

Saat di Belgia juga saya bersama dua belas mahasiswa penerima beasiswa Erasmus Mundus lainnya berhasil menginisiasi program fundraising berbasis cultural event for solidarity. Program ini lahir dari inspirasi dari salah satu ayah mahasiswa asal Laos yang mengalami kesulitan akibat sang ayah membutuhkan biaya untuk transplantasi ginjal yang harus dilakukan di Thailand. Fundraising yang kami buat akhirnya menggugah sekumpulan ahli transplantasi ginjal di Belgia untuk menawarkan bantuan pengembangan transplantasi ginjal di Laos. Sebelumnya saya pernah terlibat dalam fundraising untuk gempa Jogja 2006 saat di Belanda, dan Erupsi Merapi 2010.

Hidup di Belgia satu tahun saya sempat mengalami kecelakaan saat bermain ski pertama kali dan menjalani rekonstruksi ligament senilai 5000 Euro, sementara beasiswa saya setahun hanya 10,000 Euro. Sempat depresi, karena asuransi swasta yang dipakai oleh Erasmus Mundus penyandang beasiswa saya tidak berlaku untuk extreme sport, saya akhirnya tertolong dengan social security negeri Belgia. Pengalaman nyata yang membuat saya semakin melek dengan pentingnya pembiayaan kesehatan.

 

Masa Profesional, 2012-2014

Sekembalinya di tanah air saya memiliki waktu 3 bulan menjelang dimulainya koass. Saya bekerja full time pada Quit Tobacco Indonesia (QTI) FK UGM dengan supervisor Dra. Yayi Suryo Prabandari, PhD dan part time sebagai asisten Prof. Laksono Trisnantoro di Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) pada pengembangan “Web-based Knowledge Dissemination Program”.

 

Di QTI saya bekerja mengembangkan kurikulum tembakau dan kesehatan untuk fakultas kedokteran, mengawal implementasinya di beberapa fakultas kedokteran mitra. Menjadi pembicara tentang dampak merokok bagi kesehatan dalam sosialisasi pada masyarakat, diskusi dan dialog oleh organisasi mahasiswa, hingga pelatihan staff dinas kesehatan. Saat ini saya sedang terlibat dalam inisiatif dan penelitian pemanfaatan teknologi SMS dalam meningkatkan kesehatan seksual dan reproduksi remaja serta mengurangi kebiasaanmerokok anak muda di Indonesia. Sebagai bentuk salah satu upaya promosi kesehatan. Salah satu pengalaman berharga, pada sebuah presentasi saya di-counter oleh komunitas pecinta kretek dengan, “Saya tidak percaya data-data Mas Dokter, buktinya dari 10 teman saya yang merokok tidak ada yang kanker” yang disambut riuh mahasiswa peserta diskusi. Saya menyayangkan, kualitas pendidikan tinggi kita belum mampu membuat kaum berilmu bijak mengonsumsi informasi. Jika yang dikaatkan terdidik saja seperti ini, percuma saja kita mencetak ratusan ribu dokter dan jutaan tenaga kesehatatan, akan sulit membangun kesehatan manusia ki. Bagi saya, tidak ada masa depan bagi kesehatan tanpa pendidikan.

Di PKMK bersama kolega saya, dr. Musthofa Kamal, kami mengembangkan website disseminasi ilmu dan informasi yakni www.pendidikankedokteran.net, www.dokterruralindonesia.net, dan www.dokterinternasionalindonesia.net. Kami juga bertugas menyiapkan kegiatan off-line terkait pengembangan dan pemanfaatan wesite ini seperti mengadakan seminar, diskusi, pelatihan dan konferensi. Konferensi terakhir yang cukup besar membahas Migrasi Dokter di kawasan Asia Tenggara. Tantangan migrasi pasien dan tenaga kesehatan begitu nyata, tetapi hingga hari ini kita tampaknya bahkan kekurang orang yang sempat memikirkannya. Migrasi dokter adalah salah satu isu Global Healthyang perlu dirumuskan untuk mengoptimasi kesejahteraan tenaga kesehatan dan kesehatan pasien. Pembiaran, hanya akan menambah daftar pekerjaan rumah sistem kesehatan kita di kemudian hari.

 

Masa Pendidikan Profesi

Suatu hari di sebuah rapat KKN yang kami jalani di tengah-tengah koass seorang adik kelas, salah satu mahasiswa FK terbaik dan terkritis yang pernah saya jumpai, 1 dari 10 orang di dunia peraih nilai sempurna final exam Biology untuk program International bachalaurate, bertanya,

“Mas, how possible you do it all? While doing your koass, you assist Prof Coco and Bu Yayi with all those projects together and at the same time being a father!”

“Well it’s not easy but it synergizes and completing each other if you can see what I mean. My work feed my family, my academic and my emotional needs as developing individual.”

 

Lebih lanjut saya jelaskan padanya, justru dengan berkeluarga dan bekerja saya terhindar dari depresi, retardasi mental dan intelektual. Yang saya rasakan di beberapa stage bagian, kehidupan ko-ass lebih didominasi tekanan yang tidak perlu dari oknum senior, sikap represif dari oknum pengajar, dan drama dari hubungan inter-profesi yang tidak sehat dan banyak hal kontraproduktif lain, tidak bisa saya jelaskan di sini secara detil, ketimbang proses mencari ilmu dan keterampilan yang merupakan tujuan awal koass atau pendidikan klinik itu sendiri.

Bagi saya pribadi hal ini cukup mengganggu kewarasan mental dan intelektual saya. Justru dengan bekerja di lingkungan IKM dan FK UGM saya dapat tetap mengaktualisasikan diri sehingga memiliki energy cukup untuk menjalani ko-ass hampir 2 tahun ini. Di fakultas, tanpa jas putih, saat rapat dengan para dokter dari lintas bagian di lingkungan FK saya diperlakukan setara, mungkin karena wajah saya tua dan sudah banyak yang mengira saya staff di salah satu bagian. Tetapi begitu kembali ke RS dengan jas putih panjang lengan panjang dengan nametag merah di dada, di beberapa stage bahkan saya mendapat perlakuan yang kadang membuat saya lupa kalau saya itu juga manusia.

Selain itu, fakta di setting klinis yang hampir setiap hari saya temukan semakin membuat saya sadar bahwa berbagai kekurangan yang terjadi di institusi pendidikan dan pelayanan kesehatan kita sifatnya sistemik dan kronis. Dokter bekerja overload dan overtime, residen tidak mendapat kompensasi, ko-ass tidak terorganisir dengan rapi, dokter memandang pasien inferior, pasien tidak kunjung paham instruksi dokter, paramedik menghardik keluarga pasien, keluarga pasien menjadi korban karena tidak memahami intruksi dokter dan sistem di rumah sakit bekerja (tidak paham proses pembiayaan medis, bergeletakan tidak terkelola di koridor, menjenguk berombongan, memarkir kendaraan dan mengklakson serampangan), aturan sterilitas pada unit-unit steril tidak dipatuhi oleh pengunjung maupun tenaga medis sendiri, dan banyak lainnya. Rupanya begitu banyak pekerjaan rumah mendasar, di luar kompetensi medis-klinis yang masih harus kita perbaiki.

Kondisi demikian, membuat saya semakin yakin untuk terfokus pada isu-isu meluas terkait pelayanan kesehatan dan status kesehatan masyarakat (pendidikan kedokteran, promosi kesehatan, kebijakan kesehatan, pembiayaan kesehatan, bencana kesehatan, kematian ibu-bayi, kebiasaan merokok masyarakat, penyebaran penyakit menular seksual, dsb.) yang memelibatkan banyak vulnerable group. Keberadaan vulnerable group adalah pijakan awal untuk kita bekerja dengan hati. Indonesia butuh perbaikan mendasar pada sektor-sektor tersebut menyangkut banyak vulnerable groupyang membutuhkan advokasi dari mereka yang peduli pada kondisi kesehatan mereka.

Karena bekerja dengan hati bukan hanya akan mengantarkanmu pada kesuksesan, tetapi pengabdian pada kemanusiaan dan ibadah kepada Tuhan. Sesulit apapun tantangan yang kita hadapi, bekerja dengan hati akan selalu membuat kita semangat dan membawa kita pada solusi. Bagi saya, dokter bukan sekedar profesi tapi pengabdian. Diplomat, ia bukan hanya profesi tetapi sikap, karakter.

Dari paparan di atas, minat saya bersifat meluas dan mencakup banyak area ilmu kedokteran-kesehatan, namun semuanya berorientasi pada kebermanfaatan bagi masyarakat terutama mereka vulnerable group. Mulai dari pelayanan primer, promosi kesehatan, pendidikan kedokteran, ekonomi kesehatan dan bencana kesehatan, hingga kebijakan kesehatan. Saya tidak pernah secara kaku membatasi bidang minat saya. Namun kini saya harus mengerucutkan pilihan yaknisatu pilihan yang mampu merangkum ragam minat saya pada dunia kesehatan dan berkesesuaian dengan motivasi saya, Global Health.

 

Memutuskan dengan Mengikuti Pertanda

Dalam meraih hasil terbaik, saya selalu membebaskan diri mengambil kesempatan yang relevan dan terbuka di depan mata. Hingga beberapa waktu yang lalu saya masih memiliki concern dan minat yang sama tingginya di beberapa cabang ilmu kesehatan masyarakat. Untuk menentukan bidang spesialisasi dan meningkatkan kapasitas dalam bidang tersebut, di awal tahun ini saya mendaftarkan diri ke beberapa disiplin dan perguruan tinggi terbaik yang saya minati yakni.

  1. International Health di Royal Tropical Institute, Amsterdam dan Copenhagen University
  2. Health Economics di Heidelberg University im Mannheim, Jerman (68)
  3. Global Health di Maastricht University (99)
  4. Global Health di Karolinska Institutet (36)
  5. Public Policy di National University of Singapore (21)

Saya tidak diterima di nomor 1. namun diterima tanpa beasiswa di nomor 2 dan 3 dan diterima dengan beasiswa pada nomor 4 dan 5.

Diterimanya saya di NUS dan Karolinska menimbulkan dilema. Awalnya saya mendaftar Public Policy di NUS karena menilai saya harus betul-betul memahami seluk beluk kebijakan publik karena akar permasalahan rapuhnya sistem kesehatan di Indonesia karena kebijakan publik yang tidak berorientasi pada kesejahteraan manusia yang paling dasar, kesehatan dan pendidikan.  Lihat saja bagaimana selama puluhan tahun merdeka besar alokasi anggaran kita untuk keduanya. Untuk memperjuangkan kebijakan kesehatan yang mebih baik, saya harus memiliki kapasitas kebijakan public yang setara dengan para politisi dan policy maker.

Dalam mengambil keputusan penting nan dilematis, saya selalu mengikuti pertanda-pertanda yang biasanya datang dengan cara unik dan spesifik. Di atas kertas Swedia banyak melampaui Singapura. Tetapi kesempatan belajar di Singapura dengan kesempatan memahami politik dan sejarah ASIA Tenggara yang kelak bermakna dalam merumuskan kebijakan yang regionally accepted adalah sesuatu yang sulit dilepaskan. Keduanya sama-sama negara maju yang memiliki sistem kesehatan yang mapan.

Tetapi dengan berbagai pertanda, saya jatuhkan pilihan pada Swedia sebagai negara yang mengedepankan inovasi dan sustainability, kaya pengalaman dalam membantu negara-negara berkembang keluar dari jebakan masalah kesehatan akibat kemiskinan, korupsi dan kesalahan tata kelola. Sekaligus merupakan tempat kondusif untuk keluarga muda saya berkembang dengan, semangat inovasi, egalitarian, dan kesetaraan gender yang mereka tawarkan.

 

Karir di Masa Depan

Walau berliku jalannya, dari kronologi perjalanan hidup saya dengan dunia kedokteran dan kesehatan saya menyimpulkan bahwa setiap individu di dunia adalah stakeholder bagi pelayanan kesehatan. Berbagai teknologi canggih dan sistem telah dikembangkan untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat meski distribusinya masih sangat jauh dari merata. Di Indonesia permasalahan dunia kedokteran, pelayanan kesehatan dan status kesehatan masyarakat sudah begitu kronis, mulai dari APBN untuk kesehatan yang selalu masih dibawah 5% (idealnya menurut WHO 15%), ratio dokter-penduduk salah satu terendah di ASEAN, distribusi intitusi pendidikan dokter dan sebaran dokter beserta fasilitas layanan kesehatan yang tidak merata, angka kematian ibu yang tinggi akibat proses persalinan di luar kompetensi fasilkes, persentase perokok dewasa pria tertinggi di dunia dan serangkaian daftar permasalahan lainnya.

Menggunakan perspektif Global Health membantu kita dalam mengidentifikasi masalah kesehatan nasional berdasarkan prioritas urgensi penanganan, ketersediaan sumber daya penanganan, dan solusi potensial. Global Health memberi akses pada pertukaran sumber daya (informasi, dana, expertise, program) antar negara sehingga solusi pada setiap tantangan pelayanan kesehatan dapat ditangani lebih cepat, tepat dan komprehensif. Sementara Indonesia akan segera menghadapi berbagai tantangan lain di 2015 nanti sebagai anggota AFTA kita masih kekurangan ahli di bidang Global Health.

Memutuskan Global Health adalah titik kulminasi kegelisahan saya pada berbagai masalah kesehatan masyarakat dan kedokteran. Dengan perspektif Global Health, saya merasa mendapat kesempatan mengidentifikasi masalah dan solusi bukan dari dalam labirin yang sempit, tampak rumit dan penuh jebakan. Tetapi dari atas labirin, sehingga semua terlihat lebih memungkinkan untuk diurai dan ditemukan pangkal dan ujungnya.

Selanjutnya saya akan menuntaskan pendidikan saya di area Global Health sesegera mungkin sehingga dalam enam tahun ke depan saya telah menyelesaikan PhD dan memfokuskan diri pada upaya mobilisasi sumber daya internasional untuk peningkatan sistem dan pelayanan kesehatan Indonesia. Saya berencana mengumpulkan pengalaman kerja dan melatih skill diplomasi internasional dalam bidang kesehatan dengan bekerja di beberapa organisasi internasional yang memiliki platform distribusi pendanaan kesehatan dimulai dari project officer misalnya lalu menjadi senior officer hingga mencapai  posisi setara diplomat. Karena itu saya memiliki sebutan sendiri untuk posisi ini yakni Docplomat, dokter dengan kapasitas diplomat.

Saya melihat mobilisasi dan pengelolaan sumber daya (tenaga ahli, dosen, peneliti, konsultan) internasional merupakan salah satu solusi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Jika diamati, puluhan tahun bangsa ini belum pernah mengalokasikan perhatian dan anggaran kesehatan sesuai yang direkomendasikan (15% APBN). Juga mayoritas inisiatif program-program kesehatan berasal dari pihak asing nalun masih berjalan sporadis. Artinya kita tidak bisa berharap banyak pada internal negara ini, tapi kita bisa memaksimalkan sumber daya dari luar. Contoh praktis, bagaimana Saudi banyak mengontrak ribuan dosen dari berbagai negara maju untuk menjamin transfer ilmu kedokteran yang lebih cepat dan tidak bias. Contoh lain, Uganda terlepas dari jerat kuat transmisi liar virus HIV pada penduduknya lewat kolaborasi internasional terutama dengan negara-negara Eropa.

Di masa depan, dengan beberapa sahabat, kami telah berkomitmen untuk kembali ke Indonesia bersama-sama mendirikan Indonesian National Public Health Institute, sebuah think-tank yang berfokus pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan berbagai inovasi dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan dan peningkatan status kesehatan masyarakat di Indonesia. Di sana kami akan menghimpun expertise yang masing-masing kami miliki. Kontribusi saya sendiri, saya akan mengoptimalkan kapasitas dan jaringan yang saya miliki untuk menarik dan mengoptimasi sumber daya internasional dalam mendukung program-program kami seperti apa yang dilakukan oleh Jim Yong Kim dan Paul Farmer melalui Partners in Health di Haiti, Peru dan negara-negara berkembang lainnya.

Usai berkarir di organisasi internasional, saya bisa menjadi dosen tamu di berbagai universitas di Indoneisa atau bahkan dosen full time di salah satu universitas bervekal pengalaman saya sebagai praktisi Global Health di beberapa negara. Menjadi public speaker dalam area Global Health, peneliti dan profesi lain yang masih berkaitan juga masih sangat terbuka. Di mana pun saya kelak berkarya, tujuan tertinggi saya baru tercapai bila itu bermakna untuk Indonesia.

 

Ucapan Terimakasih

Terakhir izinkan saya mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada kawan-kawan koass kelompok V yang telah banyak memahami dan mendukung saya menjalankan fungsi trio saya sebagai ko-ass, pegawai kontrak, dan kepala keluarga selama 21 bulan terakhir kebersamaan menjalani rotasi klinik sehingga kita dapat menyelesaikan bersama-sama.

Terimakasih juga saya ucapkan kepada para guru lintas profesi untuk ilmu, kearifan dan teladan juga staff administrasi untuk dukungan sehingga saya menyelesaikan ko-ass ini sesuai waktunya.

Terimakasih tak terhingga kepada keluarga besar yang tak bosan-bosan bertanya “kapan selesai” hingga ibu saya yang sabar menahan rasa “ini anak kok gak kelar-kelar sekolahnya” terutama kepada istri dan anak saya.. mohon maaf atas banyaknya waktu dan perhatian yang hilang di saat seharusnya Bapak ada sepenuhnya.

Rejodani, 6 Juli 2014

13 thoughts on “Road to Docplomat: Refleksi seorang Calon Dokter menuju Karir dan Kontribusi Masa Depan

  1. Mas Fadjar, mau tanya2,
    1. Beasiswa yang didapat itu dari pemerintah indonesia (sprti LPDP, dll) atau beasiswa dari Universitas yg bersangkutan di Swedia (Karolinska Institutet) ?
    2. Partial / Full Scholarship mas?
    Awesome, Selamat ya mas Fadjar (serta Mbak Muti)… sukses unt studi nya nanti🙂

    • Terimakasih Gung, iya kadang ketika nulis seperti kesurupan mengalir begitu saja. Haru berlatih lebih terorganisir dalam mengelola konten.
      Makasih ya Gung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s