Aneka Ragam Tabayyun dan Ustadz

Di masa era pertengahan (middle age), di jazirah asalnya dan sekitarnya, TABAYYUN dilakukan untuk meneliti matematika, astronomi, hingga kedokteran, dll. Yang melakukannya pun tak main2, Faraby, Khwarizmi, Ibn Khaldun, Ibn Sina, Imam Ghozali dll.

Di madrasah dalam pelajaran Quran Hadits, saya belajar pentingnya tabayyun. Sebagai contoh, informasi mengenai sikap penyampai hadits terhadap anjing dan budak dapat mempengaruhi kredibilitas penyampainya dan pada gilirannya hadits yang disampaikan.

Di madrasah juga saya belajar Bahasa Arab, bahwa bahasa arabnya guru itu ustadz. Di hari-hari dan kesempatan berbahasa Arab guru fisika/kimia/matematika pun kami panggil ustadz/ustadzah. Sementara di hari non-berbahasa Arab, semua guru dipanggil Pak dan Bu atau bahkan Sir termasuk guru-guru ilmu agama (aqidah-akhlak, Quran Hadits, sejarah dan kebudayaan islam, dan bahasa Arab itu sendiri).

Hari ini, di negeri ini sebagian kita semangat sekali kita teriak-teriak TABAYYUN dan asal sebut orang USTADZ.

Sementara, apa input dan output TABAYYUN kita?
Koran, Twitter, pesbuk, atau sudah sampai artikel ilmiah?

Lalu apa kriteria kita terhadap USTADZ/guru?
Sekedar pemakai seragam guru, berpenampilan bak guru, atau guru sejati yang mendidik dan mengajar kita di sekolah dan dimanapun berada dengan kurikulum dan standar keilmiahan bahkan teladan yang benar?

Sekedar refleksi seberapa jauh saya sudah aktif mencari ilmu dari USTADZ dan sumber lain dengan ber-TABAYYUN. Semoga Tuhan mengampuni saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s