Peringatan 70 Tahun PBB di Belanda

Disclaimer: Tulisan ini dibuat dalam rangka publikasi aktivitas mahasiswa pemegang beasiswa StuNed di Belanda

Mutiara Berpose bersama Para Undangan "High Level Panel Debate" di Peace Palace, Den Haag

Mutiara Berpose bersama Para Undangan “High Level Panel Debate” di Peace Palace, Den Haag

Mahasiswi Leiden asal Indonesia Sampaikan Gagasan tentang Sustainable Development

“Development Aid, Partnership and Cultural Adaptation: Is the combination a way forward?” atau “Bantuan Pembangunan, Kerjasama dan Adaptasi Budaya: Adakah suatu kombinasi untuk langkah maju?” adalah gagasan yang akan disampaikan oleh Mutiara Indriani, mahasiswi Leiden Universiteit penerima beasiswa StuNed asal Indonesia, dalam Workshop Global Governance: Climate Change and other Inconvenient Truths pada Jumat 23 Oktober 2015 di Den Haag. Kegiatan ini merupakan bagian dari Konferensi Peringatan 70 Tahun PBB di Peace Palace (Istana Perdamaian), Den Haag dan diselenggarakan oleh The Hague Project Peace and Justice bekerja sama dengan Leiden Universiteit.

Menangi kompetisi essay, raih kesempatan sampaikan gagasan

Dalam gagasannya, Mutiara menekankan bahwa mempertimbangkan potensi, pengetahuan dan budaya lokal sebagai fondasi pelaksanaan suatu proyek kerjasama amatlah penting demi terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. Lebih lanjut, mahasiswi jurusan Master of International Relations ini menegaskan bahwa pendekatan ini dapat menunjang kelanggengan kerjasama antar negara dan pemangku kepentingan lain karena mampu menempatkan sumber daya sesuai peruntukannya, mencegah inefisiensi dan meningkatkan efektifitas suatu proyek pembangunan.

Gagasan Mutiara ini terpilih setelah ia mengikutsertakan tulisan hasil kristalisasi penelitian yang ia lakukan selama menjalani internship di Global Action Plan Headquarter di Stockholm, Swedia pada kompetisi penulisan yang diselenggarakan oleh Leiden Universiteit. Essay tersebut kemudian mendapat penilaian sangat baik dari para juri berkat pendekatan yang inovatif dan didukung oleh hasil penelitian yang mendalam. Sebelumnya, Mutiara  (26 tahun) menyelesaikan studinya di Ritsumeikan-Asia Pacific University Jepang (2010) dan sempat bekerja untuk ASEAN Secretariat selama setahun di Jakarta.

Ulang Tahun PBB ke-70 dan Sustainable Development 2030

Bertepatan dengan hari jadinya yang ke-70 pada bulan Agustus ini, PBB melalui General Assembly telah mengadopsi Sustainable Development Goals 2013 yang terdiri dari 17 Goals dan 159 Actions yang merupakan hasil perundingan negara-negara anggota PBB. Demi terwujudnya tujuan-tujuan tersebut, negara-negara anggota diminta untuk melibataktifkan pihak-pihak di luar pemerintahan seperti  LSM, akademisi, pelaku usaha, pelajar, warga masyarakat dan organisasi lainnya.

Kota Den Haag, The Hague Project Peace and Justice dan Leiden Universiteit

Den Haag tempat Peace Palace (Istana Perdamaian) dan Mahkamah Internasional (International Court Justice) berada memiliki reputasi panjang sebagai kota tuan rumah perdamaian dan keadilan internasional. Pada peringatan PBB ke-70 ini Kota Den Haag bersama The Hague Project Peace and Justice, Leiden Universiteit menyelenggarakan UN @ 70 conference. Konferensi ini diharapkan akan menghasilkan sumbangan pemikiran bagi Sustainable Development yang kemudian diberi nama “Hague Manifesto”.

The Hague Project Peace and Justice adalah suatu inisiatif dari Kementerian Luar Negeri Belanda bersama Kota Den Haag dan 160 organisasi lain  termasuk The Hague Academic Coalition and The Hague Institute for Global Justice yang menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan berpengalaman yang bertujuan turut berkontribusi pada keberhasilan pelaksanaan Sustainable Development 2030. Perdamaian, keadilan dan penegakan hukum merupakan goal ke-16 dalam Sustainable Development Goals. Dalam perspektif yang lebih luas, perdamaian dan keadilan berperan penting untuk menjamin pembangunan yang berkelanjutan.

High Level Panel Debate

Selain menyampaikan presentasi, Mutiara juga diundang sebagai peserta dalam acara High Level Panel Debate yang menghadirkan panelis terkemuka dan merupakan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Ranomi Kromowidjojo (Perenang Wanita Belanda keturunan Suriname Peraih Emas Olimpiade), Ronny Abraham (), Miguel de Serpa Soares (Under Secretary General for Legal Affairs and UN Legal Counsel), Michel Solomon (perwakilan UNHCR), Emmanuel Jal (Musisi asal Sudan Selatan). Puncak acara yang diselenggarakan di Peace Palace ini ditutup dengan sambutan dari Walikota Den Haag, Jozias van Aartsen.

Peran Pemuda/i dan Akademisi Indonesia dalam Sustainable Development

Saat ditanya mengenai peran yang dapat akademisi dan pemuda/i Indonesia optimalkan dalam menyongsong Sustainable Development 2030, Mutiara, ibu dari seorang putra ini menyampaikan bahwa perubahan perilaku masyarakat menuju perbaikan sangat mungkin dicapai selama setiap anggota masyarakat tersebut merasa berdaya dan terlibat. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak masyarakat menggali potensi yang mereka miliki untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada di sekitarnya. Ketika disinggung mengenai motivasinya dalam menempuh bidang studi yang ia pilih, Mutiara yang baru saja kembali memulai aktivitas akademik dan profesional setelah tiga tahun berkonsentrasi penuh pada keluarga menjawab sederhana, “saya ingin menjadi jendela dengan sudut pandang yang luas bagi anak-anak saya dan generasi berikutnya dalam mengenali potensi diri dan bangsanya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s