1 BR Apartment in The Hague – for Rent

1-bedroom Apartment at Amperestraat 158, 2563ZX Den Haag.  Available from Friday, July 1st 2016 with minimum contract of 1 year.

The rent is €895,- per month. INCLUSIVE electricity, water, gas, internet. The space of the apartment is 72m/square.

It has 1 bedroom, a balcony, spacious living room, extraordinary light and compact kitchen, bathroom with a separate toilet room, inside bicycle parking, a warehouse.

It’s FULLY FURNISHED including one double bed, one single bed, clothing wardrobe, dining table, chairs, and kitchen utensils. The furniture belongs to us, not the owner, so please be advised that we sell the furniture to the new tenant for 1,500 Euro (to be paid once in advance).

Wanted tenant:  Single/couple/family with 1 little kid

From our apartment it only takes a 15 minute tram ride to both Den Haag Centraal Station and Den Haag Hollandspoor. A 15 minute bike ride to Schevening strand or Kijkduin. From our apartment is also a 3 minute walk to the tram stop of Fahrenheitstraat, 5 minute walk to a Albert Heijn, and a 10 minute bike to Haagse Maarkt (KFC, Halal Slagerij, etc).

If you’re interested, please contact me asap: fadjar.wibowo@yahoo.com

 

Mohon Dukungan untuk Riset Thesis Saya

Survey Layanan Berhenti Merokok berbasis Telepon GenggamSahabat pembaca blog MutiaraFadjar yang baik.

Saat ini, saya (Fadjar) telah memasuki fase akhir studi di Swedia. Sebagai bagian finalisasi studi saya mengadakan penelitian bersama peneliti dari Karolinska Institutet dan Fakultas Kedokteran UGM dengan tema Studi Eksplorasi “Layanan Berhenti Merokok berbasis Telepon Genggam” .

Studi ini bertujuan mengkaji pengenalan metode terbaru untuk membantu siapapun terutama yang ingin berhenti merokok. Jika sahabat pembaca pernah atau masih merokok, saya ingin mengundang sahabat pembaca untuk bersedia berpartisipasi pada survey terkait penelitian ini di sini: https://fadjar.typeform.com/to/ToKfVS

Dengan beberapa temuan ilmiah berikut:

(1) layanan konseling berhenti merokok di fasilitas kesehatan di Indonesia sangat terbatas,

(2) Indonesia belum memiliki hotline service berhenti merokok,

(3) baru pada Standar Keterampilan Dokter Indonesia 2012 keterampilan membantu pasien berhenti merokok dimasukkan pada kurikulum pendidikan dokter,

(4) hanya 0,4% orang Indonesia berhenti merokok melalui pendekatan medis dan atau melalui dokter,

(5) 71% tidak memiliki metode pendukung apapun,

(6) hanya 1 dari 10 pasien merokok di layanan kesehatan yang mendapat anjuran berhenti merokok,

sementara

(7) penetrasi HP konvensional di Indonesia mencapai 84% dan Smartphone akan mencapai 42% pada 2017,

(8) mobile Health (mHealth) semakin popular digunakan untuk menunjang dan menghantarkan layanan kesehatan

(9) serta mHealth berpotensi menjembatani keterbatasan AKSES pada sumber daya kesehatan termasuk layanan berhenti merokok

melalui survey ini saya mengundang sahabat pembaca yang pernah atau masih merokok untuk menyumbangkan pendapat tentang potensi inovasi tersebut, “Layanan Berhenti Merokok berbasis Telepon Genggam”.

Bagi teman-teman yang pernah atau masih merokok, silakan berpartisipasi dengan mengisi survey di sini https://fadjar.typeform.com/to/ToKfVS dan bagi yang siapapun yang berkenan juga dapat membantu menyebarkannya, mengajak teman-teman atau anggota keluarga yang pernah atau masih merokok untuk berpartisipasi.

Atas perhatian dan dukungannya, saya ucapkan terimakasih banyak.
Hormat saya,

Mochammad Fadjar Wibowo
Master in Global Health
Department of Public Health Sciences
Karolinska Institutet, Sweden
mochammad.wibowo@stud.ki.se

mochammadwibowo_b

My Wife was Judged by the Wife of Judge in Sweden

Last Saturday, we went shopping to a store called ‘Hongkong Trading’ in Stockholm. Among most favorite store for Stockholmers to buy Asian spices and ingredients. The owner and all the staffs are very nice that we always enjoy all of our single shopping experiences there, as well as living as Muslim international student in Sweden, until yesterday we met a particular Lady and my wife was “invited” to a judgmental yet full of lessons conversation.

Let’s see how it goes and how we learn from it.
Continue reading

Living “without” Internet Access in Sweden

Five months already we lived in Sweden. We’ve been accommodated exactly in the heart of science and civilization. Situated right between Karolinska sjukhuset and Karolinska Institutet in Stockholm. Yet we still do not have equal internet access.

Our problem simply because our apartment was primarily provided for elderly and therefore do not provide internet and in order to subscribe internet, all companies we contacted required personnummer which we don’t have. Mobile data internet? It is too costly to support our internet-based needs from home (downloading journals, watching Hans Rosling’s video, etc).

To use KI internet by coming to the campus during the night was a quite promising idea in the beginning but soon became not sustainable as Son and Mom need some assistance during the evening. No single party could assist us. Neither Global Master programme, nor KI Housing, nor Swedish Institute, nor Komun (government).
image

Thus, our “indigenous”, “local acted”, yet genuine and creative solution revealed! We simply decided that every Saturday we move our house to KI Library so both Mom and Dad can work on their extra office hour work and thesis with other assignment while Son can still play and enjoy his day. Thanks God we live across the street (of KI campus)!!! We come as early as possible, bring lunch, snacks, and a part of dinner and leave the library as late as we could and make sure all tasks are submitted because we’ll be connected to the (real) internet world again on Mondays.

This story may sound exaggerating a bit. Internet need is not as critical as food need. But for students like us, is the fourth priority after housing, food and winter clothes. However, from this experience I could learn many things. Things that one always needs to remember one day when one especially become a policy maker. 1st, being in resource rich setting does not always mean you have access to sufficient/good/quality service. 2nd, solutions often come from the local, not the international organization or external funder. 3rd, no matter how huge resources we had, never get bored to spend some time to evaluate the programme we make, we may still miss one or two vulnerable group. At the same time, we will also never satisfy everyone needs.

#internetequality #internetishumanrigth #localwisdom #thinkglobalactlocal #whenthereisawilltherewillbeaway #personnummerdefinesyourQOL

Dua Jurus Praktis Naik Garuda Gratis

Dari pengalamanku mengikuti beberapa event di luar negeri bersama kawan-kawan, mutlak dukungan finansial dan non-finansial kami butuhkan. Tiga komponen pembiayaan terbesar di antaranya berasal dari transportasi, akomodasi, dan konsumsi. Bagi mahasiswa modal nekat seperti kami, upaya fundraising adalah satu-satunya jawaban tantangan finansial ini. Kami cukup beruntung, dalam hal transportasi sempat menikmati terbang “gratis” dua kali bersama Garuda dengan rute Jakarta-Amsterdam pp, ada dua jurus utama yang dapat kita lakukan untuk menikmati “fasilitas” ini. Dalam dua tahun terakhir jurus ini telah berhasil diulangi beberapa kelompok delegasi dari Fakultas Kedoktaran UGM yang berangkat pada event sejenis. Untuk akomodasi dan konsumsi akan kuceritakan lain waktu.

Ajian Proposal Program

Ajian ini kami berempat amalkan saat hendak mengikuti 17th European Students’ Conference 2010 di Berlin.

1. Kontak Marketing Garuda

Mbah Google, tahu “segalanya”. Dari Mbah Google-lah kudapatkan kontak Marketing Office Garuda di Gunung Sahari Jakarta. Setelah kami coba hubungi berkali-kali, akhirnya kami berhasil diterima dan dirujuk kepada seorang staff yang selanjutnya in touch dengan kami sebagai contact person. Olehnya, kami diminta mengirimkan proposal dan surat pengantar dari intitusi terkait, dalam hal ini universitas. Fakultas pun tidak masalah, namun kami sengaja memposisikan diri sebagai delegasi universitas agar memiliki bargaining position yang lebih kuat di hadapan Garuda. Sebagai informasi, sejak 2011, pengajuan proposal dapat langsung ditujukan kepada Marketing Office Garuda Indonesia di kota-kota besar lainnya, tidak harus ke Jakarta. Silakan mendatangi dan menghubungi langsung untuk informasi dan konfirmasi selanjutnya.

2. Susun Proposal (download di sini)

Inilah yang paling penting, proposal yang mengkomunikasikan latar belakang, tujuan, waktu dan kegiatan terkait perjalanan kita. Sebaiknya proposal sudah siap saat kita menghubungi Garuda.  Dalam upaya fundraising, proposal adalah  barang dagangan utama kita sebagai pengaju sponsorship. Di sini kita bukan meminta bantuan, tapi menawarkan kerjasama sponsorship, menjual suatu event! Seperti yang kita lakukan saat SMA ketika membuat pentas seni dan event lainnya. Tidak ada aturan baku untuk menyusun proposal. Cukup memaksimalkan kreativitas  terutama dalam menawarkan kontraprestasi yang menjanjikan bagi pihak Garuda. Contoh yang umum adalah pencantuman logo pada kaos, jaket, topi, media presentasi, bungkus koper, spanduk, kalimat penutup atau pembuka presentasi, dan lain-lain. Untuk memperkuat posisi tawar, kami sertakan surat pengantar proposal yang ditandatangani oleh Dekan dan perwakilan Rektor. Saat itu kami dapatkan tanda tangan Kepala Kantor Urusan Internasional UGM.

Pada upaya mendapatkan dukungan saat perjalanan kami yang pertama ke Amsterdam, diceritakan pada Ajian Mandiri Visa, kami sebetulnya sudah mengirimkan proposal ini. Namun saat itu waktu yang ada sangat sempit dan pihak Garuda meyakinkan, lain kali kami dapat mencoba kembali.

3. Follow up

Begitu proposal dikirim, kami terus berkorespondensi dengan staff marketing Garuda tersebut, tidak hanya melalui e-mail, staff yang sangat antusias dengan proposal kami saat itu justru mengajak kami berko;unikasi melalui BBM contact. Kami terus menanyakan hingga mendapat konfirmasi bahwa proposal dan surat telah diterima. Saat itu sahabatku Zul yang melakukan komunikasi intens dengan marketing Garuda.

4. Negotiation dan Dealing

Proposal diterima, komunikasi melalui BB contact terus dilanjutkan hingga satu minggu kemudian marketing Garuda menyatakan bersedia memberi dukungan. Negosisasi dimulai dengan tawaran perta;a dari Garuda kepada kami berempat: Garuda menyediakan dua “free of charge ticket” Yogyakarta-Jakarta-Amsterdam pp. Permintaan kami semula tentu empat tiket gratis Yogyakarta-Jakarta-Amsterdam pp.

Prinsip dari negosiasi yang kami tangkap saat itu adalah Garuda berniat baik untuk mendukung kegiatan positif mahasiswa namun juga tidak ingin memberikan dukungan serta merta 100% agar kami tidak terlalu manja. Setelah kalkulasi, kami meminta agar didukung tiga tiket gratis Jakarta-Amsterdam pp saja, tanpa dua tiket Yogyakarta-Jakarta pp.

Dalam mengkomunikasikan permintaan kami, kami memegang prinsip “minta lebih sedikit, beri lebih banyak”. Di sini kami seolah merendahkan tawaran, dengan menyampaikan dulu untuk menghilangkan tawaran dua tiket Jakarta-Yogyakarta, dan diganti “hanya” minta tambahan satu tiket Jakarta Amsterdam pp. Dengan begini kami terlihat minta lebih sedikit. Tetapi sesungguhnya dapat lebih banyak. Meski kami sadar Garuda menyadari kalkulasi ini membebani Gqrudq lebih, tapi kami yakin permainan dua lawan satu tadi secara psikologis membuat marketing Garuda lebih ikhlas menggolkan permintaan kami. Lagipula, yang perlu kita ingat saat bernegosiasi dengan maskapai -saat itu Garuda- adalah, berpenumpang 250 atau 335 (full), Airbus A330-300 anyar milik Garuda hari itu akan tetap berangkat. Argumen kami saat itu via BBM, “Mbak, ketambahan satu mahasiswa gratisan, insyaAllah Garuda nggak rugi koq”. Setiap Airbus milik Garuda terbang di luar peak season, pasti ada ­seat kosong, apa salahnya mengangkut mahasiswa tukang promosi. Justru mahasiswa ini berpotensi menjadi juru kampanye kelak di konferensi yang diikutinya dan hari-hari selanjutnya. Salah satunya lewat blog ini, hehe. Itulah marketing. Sebagai informasi tambahan, tingkat okupasi Garuda Jakarta-Jogja lebih padat ketimbang Jakarta-Amsterdam, sehingga di luar peak season, lebih mudah sebetulnya menemukan seat kosong untuk penerbangan jurusan Amsterdam daripada jurusan Yogyakarta.

6. Eksekusi.

Deal! Permintaan kami dikabulkan tepat dua hari sebelum keberangkatan. Beruntung sejak ada lampu hijau dari Garuda kami sudah menyiapkan diri dengan mencetak spanduk dan poster kami dengan logo Garuda. Garuda membekali kami polo shirt dan topi berlogo Garuda.

Letter of support

7. Laporan Kegiatan (download)

Seperti proposal, tidak ada standar baku untuk penyusunan laôran kegiatan. Yang pentig itikad baik melaporkan kegiatan kita kepada marketing Office Garuda sesuai kontraprestasi yang kita tawarkan dalam proposal.

8. Nikmati Penerbangan Selanjutnya

Berkat penerbangan Jakarta-Amsterdam pp, masing-masing dari kami mendapat miles point dari garuda sekitar 14.000 point, di-claim setiap kali check in. Aku memanfaatkan point ini untuk dua kali ke Jakarta-Jogja pp  saat masih PDKT dengan Muti. Terimakasih Garuda, secara tidak langsung, sudah menjadi salah satu sponsor kami menuju pelaminan.

Cerita terkait perjalanan ke Berlin ini dapat dibaca di sini.

This slideshow requires JavaScript.

Ajian Mandiri Visa

Kami mengamalkan ajian ini saat akan mengikuti 21st International Students’ Conference in Medical Sciences 2010 di Groningen, Belanda. Sebulan sebelum keberangkatan, kami sibuk mencari dukungan financial mulai dari Kementerian Kesehatan, Kemendiknas dan Universitas. Empat tahun sejak aku pulang AFS meninggalkan Belanda. Sebelum pulang di Schiphol dulu aku membuat janji pada diri sendiri, dalam lima tahun harus kembali ke Schiphol, minimal dengan ibuku. Aku yang kebetulan di sedang di Bogor bersama ibuku  berkata, “wah, angel tenan mah golek sponsor. Kalau dapet, pengennya Mamah ikut, biar ketemu Ineke, Selma, lihat Belanda sama Eiffel mumpung masih kuat. Kalo nunggu Wowok jadi dokter kelamaan, sekarang waktu yang paling pas.” Hari sebelumnya aku memang baru kewalahan dilempar sana-sini saat mencari dukungan dari Dikti. Ibuku merespon dengan tenangnya,”ya Wok, kalau rejeki ya nanti pasti ada jalannya.” Ibuku pun kembali asyik menyirami tanamannya. Selang lima menit, suara pesan masuk di ponsel ibuku berbunyi. Dekat denganku, kuambil hp dan sambil merinding kubaca isinya, “Mandiri Visa. Beli sekarang dan dapatkan Garuda Jakarta-Amsterdam pp. Buy 1 Get 1 free. Berlaku selama periode Juni”. Garuda Indonesia sedang mempromosikan kembali pembukaan rute Erop mereka setelah 7 tahun dilarang terbang memasuki zona Eropa. Salah satu upayanya melalui kerjasama dengan layanan Mandiri Visa dari Bank Mandiri. Cerita mengenai perjalanan ini dapat dibaca di sini.

Dari pengalaman di atas inilah langkah mudah Ajian Mandiri Visa.

  1. Registrasi Kartu Mandiri Visa

Jika Anda pecinta kuliner dan traveler, jadilah member Mandiri Visa dengan mendaftar kartu kreditnya, InsyaAllah banyak manfaatnya. Jangan lupa gunakan dengan bijak tentunya.

2. Garuda Frequent Flyer

Banyak manfaat menjadi member Garuda Frequent Flyer. Salah satu yang terpenting adalah informasi kapan tersedia tiket promo Garuda baik yang berlaku dengan kerjasama Mandiri Visa maupun tidak. Sebagai ancang-ancang, tiket promo Jakarta-Amsterdam buah kerjasama Garuda Indonesia dan Mandiri Visa dalam tiga tahun terakhir tersedia selama periode Juni.

3. Menjadi Nasabah Setia

Jadilah nasabah setia di beberapa perusahaan terutama BUMN. InsyaAllah kita turut memperkaya negara dengan cara yang lebih efektif, ketimbang lewat pajak yang banyak dikorupsi. Meski aku senang berpromosi mengenai Garuda dan sekarang Bank Mandiri, aku tidak melakukan ini untuk mendapat royalti. Murni karena memang fasilitas mereka yang selama ini dapat kunikmati sangat menguntungkan dan aku fans-nya Dahlan Iskan, Meneg BUMN yang ajaib.

Meski kunamakan jurus, tidak ada jaminan dua jurus di atas pasti selalu berhasil. Itu kunamai jurus biar banyak yang membaca, hehe. Baca juga kan? Tapi kalau tidak dicoba sudah pasti tidak dapatnya. Namanya usaha, bisa juga tidak berhasil. Yang perlu diingat saat menawarkan kerjasama sponsorship  kita bukan semata-mata sedang meminta-minta bantuan tapi menawarkan kerjasama agar calon sponsor memberikan dukungan dan meyakinkan akan memberikan kontra prestasi yang memadai. Lain hal jika sejak semula kita mengharapkan dukungan bukan dalam bentuk sponsorisasi tetapi hibah dalam bentuk corporate social responsibility.  Pengajuan sponsorisasi umumnya kami ajukan pada perusahaan profit baik swasta maupun milik negara, sementara pengajuan bantuan kami upayakan pada beberapa institusi pemerintah seperti Kemdiknas-DIKTI, Kemenkes, Kemlu, Universitas, Fakultas, Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi, Walikota, Gubernur, Aminef, DAAD, Kedutaan Belanda dll. (Bercetak tebal adalah institusi yang memberikan bantuan. Bantuan dapat berbentuk selain uang.)

Pernah juga suatu kali kuajukan proposal tiket gratis pada head of marketing Garuda Indonesia Yogyakarta, beliau belum dapat mengabulkan tawaranku. Alasannya saat itu kegiatanku, magang di WHO Jenewa, lebih bersifat pribadi. Tidak membawa dampak signifikan pada sebuah institusi, tidak seperti yang kulakukan saat bersama kawan-kawan ketika presentasi di Berlin dengan membawa nama UGM. Meski sudah kuyakinkan dengan berbagai upaya, bahwa aku juga secara tidak langsung membawa nama UGM dan akan mempromosikan Indonesia serta menawarkan kontraprestasi yang sama, beliau tetap tidak dapat mengabulkannya. Alasan lain, budget promosi kantor marketing Yogya sudah habis. Namun begitu beliau menegaskan sebagai pelajar aku masih mendapat diskon 10 persen (berlaku juga untuk penerbangan domestik bagi civitas akademika perguruan tinggi di Indonesia). Akhirnya, aku memilih maskapai lain saat itu karena langsung menuju Jenewa sehingga lebih murah dari Garuda meski tanpa diskon.

Lalu mengapa Garuda? Aku mendapat inspirasi mencari sponsor dari BUMN awalnya karena aku mendapat cerita dari sahabat di Fisipol UGM yang baru saja mengikuti International Student Festival in Trondheim, ISFIT 2010 di Norwegia dengan sponsor Pertamina. Gagal mendapatkan kontak person in charge di Pertamina terkait sponsorisasi, aku beralih ke Garuda yang saat itu baru saja melakukan terbang perdana kembali ke Eropa setelah absen 7 tahun lamanya. Logikanya mereka pasti butuh promosi dan masih banyak seat kosong, sehingga aku yakin Garuda adalah prospek positif untuk ditawarkan menjadi sponsor. Jadi ikuti terus perkembangan Garuda, hingga 2020 direncanakan akan bertahap membuka rute Jakarta – : Frankfurt, London, Paris, Roma. Terimakasih Garuda, bangga terbang bersamamu.

Mencoba adalah 50% perjalanan menuju keberhasilan. Sisanya, kombinasi izin Allah dan ridho orang tua. Selamat mencoba!!!

Semoga bermanfaat, silakan disebar informasi disini..!!!