The Traveling Students: Buku Perdana bersama Kawan-kawan Mahasiswa Pengelana

image

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan, buku “The Traveling Students” yang merupakan buku yang telah kami rintis penerbitannya sejak empat tahun lalu kini sudah siap diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Sebelum buku ini tersedia di Gramedia terdekat di kota Anda, buku ini dapat dibeli dengan potongan harga 25% dengan melakukan pemesanan melalui: bit.ly/TravelingStudents

Simak cerita dan pengalaman saya menjalani kerja magang di Swiss serta petualangan seru 8 mahasiswa Indonesia lain di total 8 negara melalui buku ini. Selain cerita, para penulis juga membagikan tips dan trik, serta pengalaman berpartisipasi dalam beragam kegiatan mahasiswa (kompetisi, konferensi, kursus, magang, dll) di berbagai kegiatan dan organisasi mancanegara.

Segera pre-order buku ini dengan harga spesial melalui:
bit.ly/TravelingStudentst

Peringatan 70 Tahun PBB di Belanda

Disclaimer: Tulisan ini dibuat dalam rangka publikasi aktivitas mahasiswa pemegang beasiswa StuNed di Belanda

Mutiara Berpose bersama Para Undangan "High Level Panel Debate" di Peace Palace, Den Haag

Mutiara Berpose bersama Para Undangan “High Level Panel Debate” di Peace Palace, Den Haag

Mahasiswi Leiden asal Indonesia Sampaikan Gagasan tentang Sustainable Development

“Development Aid, Partnership and Cultural Adaptation: Is the combination a way forward?” atau “Bantuan Pembangunan, Kerjasama dan Adaptasi Budaya: Adakah suatu kombinasi untuk langkah maju?” adalah gagasan yang akan disampaikan oleh Mutiara Indriani, mahasiswi Leiden Universiteit penerima beasiswa StuNed asal Indonesia, dalam Workshop Global Governance: Climate Change and other Inconvenient Truths pada Jumat 23 Oktober 2015 di Den Haag. Kegiatan ini merupakan bagian dari Konferensi Peringatan 70 Tahun PBB di Peace Palace (Istana Perdamaian), Den Haag dan diselenggarakan oleh The Hague Project Peace and Justice bekerja sama dengan Leiden Universiteit.

Menangi kompetisi essay, raih kesempatan sampaikan gagasan

Dalam gagasannya, Mutiara menekankan bahwa mempertimbangkan potensi, pengetahuan dan budaya lokal sebagai fondasi pelaksanaan suatu proyek kerjasama amatlah penting demi terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. Lebih lanjut, mahasiswi jurusan Master of International Relations ini menegaskan bahwa pendekatan ini dapat menunjang kelanggengan kerjasama antar negara dan pemangku kepentingan lain karena mampu menempatkan sumber daya sesuai peruntukannya, mencegah inefisiensi dan meningkatkan efektifitas suatu proyek pembangunan.

Gagasan Mutiara ini terpilih setelah ia mengikutsertakan tulisan hasil kristalisasi penelitian yang ia lakukan selama menjalani internship di Global Action Plan Headquarter di Stockholm, Swedia pada kompetisi penulisan yang diselenggarakan oleh Leiden Universiteit. Essay tersebut kemudian mendapat penilaian sangat baik dari para juri berkat pendekatan yang inovatif dan didukung oleh hasil penelitian yang mendalam. Sebelumnya, Mutiara  (26 tahun) menyelesaikan studinya di Ritsumeikan-Asia Pacific University Jepang (2010) dan sempat bekerja untuk ASEAN Secretariat selama setahun di Jakarta.

Ulang Tahun PBB ke-70 dan Sustainable Development 2030

Bertepatan dengan hari jadinya yang ke-70 pada bulan Agustus ini, PBB melalui General Assembly telah mengadopsi Sustainable Development Goals 2013 yang terdiri dari 17 Goals dan 159 Actions yang merupakan hasil perundingan negara-negara anggota PBB. Demi terwujudnya tujuan-tujuan tersebut, negara-negara anggota diminta untuk melibataktifkan pihak-pihak di luar pemerintahan seperti  LSM, akademisi, pelaku usaha, pelajar, warga masyarakat dan organisasi lainnya.

Kota Den Haag, The Hague Project Peace and Justice dan Leiden Universiteit

Den Haag tempat Peace Palace (Istana Perdamaian) dan Mahkamah Internasional (International Court Justice) berada memiliki reputasi panjang sebagai kota tuan rumah perdamaian dan keadilan internasional. Pada peringatan PBB ke-70 ini Kota Den Haag bersama The Hague Project Peace and Justice, Leiden Universiteit menyelenggarakan UN @ 70 conference. Konferensi ini diharapkan akan menghasilkan sumbangan pemikiran bagi Sustainable Development yang kemudian diberi nama “Hague Manifesto”.

The Hague Project Peace and Justice adalah suatu inisiatif dari Kementerian Luar Negeri Belanda bersama Kota Den Haag dan 160 organisasi lain  termasuk The Hague Academic Coalition and The Hague Institute for Global Justice yang menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan berpengalaman yang bertujuan turut berkontribusi pada keberhasilan pelaksanaan Sustainable Development 2030. Perdamaian, keadilan dan penegakan hukum merupakan goal ke-16 dalam Sustainable Development Goals. Dalam perspektif yang lebih luas, perdamaian dan keadilan berperan penting untuk menjamin pembangunan yang berkelanjutan.

High Level Panel Debate

Selain menyampaikan presentasi, Mutiara juga diundang sebagai peserta dalam acara High Level Panel Debate yang menghadirkan panelis terkemuka dan merupakan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Ranomi Kromowidjojo (Perenang Wanita Belanda keturunan Suriname Peraih Emas Olimpiade), Ronny Abraham (), Miguel de Serpa Soares (Under Secretary General for Legal Affairs and UN Legal Counsel), Michel Solomon (perwakilan UNHCR), Emmanuel Jal (Musisi asal Sudan Selatan). Puncak acara yang diselenggarakan di Peace Palace ini ditutup dengan sambutan dari Walikota Den Haag, Jozias van Aartsen.

Peran Pemuda/i dan Akademisi Indonesia dalam Sustainable Development

Saat ditanya mengenai peran yang dapat akademisi dan pemuda/i Indonesia optimalkan dalam menyongsong Sustainable Development 2030, Mutiara, ibu dari seorang putra ini menyampaikan bahwa perubahan perilaku masyarakat menuju perbaikan sangat mungkin dicapai selama setiap anggota masyarakat tersebut merasa berdaya dan terlibat. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak masyarakat menggali potensi yang mereka miliki untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada di sekitarnya. Ketika disinggung mengenai motivasinya dalam menempuh bidang studi yang ia pilih, Mutiara yang baru saja kembali memulai aktivitas akademik dan profesional setelah tiga tahun berkonsentrasi penuh pada keluarga menjawab sederhana, “saya ingin menjadi jendela dengan sudut pandang yang luas bagi anak-anak saya dan generasi berikutnya dalam mengenali potensi diri dan bangsanya”.

Fattah dan Bendera Swedia Eyang

Hari ini, 22 Juni hari terakhir sebelum kita kembali ke Indonesia. Fattah sekali lagi datang ke sekolah di Karolina Pysslingen untuk pamit dengan guru-guru dan teman-teman. Di perjalanan pulang kita menjumpai bendera Swedia yang berkibar menyambut datangnya Midsomer 19 Juni lalu.

image

Momen bersamamu dengan bendera Swedia yang sederhana ini menjadi istimewa bagi Bapak. Selain karena harinterakhor kita di Swedia, juga karena bendera Swedia, bersama bendera Finlandia dan Norwegia sudah sejak 20 tahun lalu hadir dalam keseharian Bapak. Ya, satu set bendera negara-negara Skandinavia selalu berdiri tegak di atas lemari rumah Eyang Sophie di Bogor dan menyambut siapapun yang masuk ke ruang tamu rumah kita.

image

Berawal dari kebiasaan Eyang Sophie menjalin relasi dengan banyak orang dari berbagai negara, suatu hari Eyang Sophie meminta kepada staff Biro Kerja Sama Luar Negeri di kantornya untuk bisa memesan bendera trio negara Skandinavia ini untuk dipajang di rumah. Lucunya, meski sudah 6 kesempatan Bapak mengunjungi dan 3 di antaranya tinggal cukup lama di Eropa, tak sekalipun Bapak sempat mengunjungi negara-negara Skandinavia. Baru ketika kau hadir bersama kami, ketika bendera Eyang Sophie mulai lusuh dan berdebu, bersamamu Bapak dan Mamma berkesempatan datang bahkan tinggal di Swedia.

Nikmati momen ini Fattah, mari doakan almarhum Eyang Sophie yang selalu memiliki cara yang unik menumbuhkan motivasi untuk Bapak dan Da’do yang mungkin juga menggerakkanmu kelak!

Doha, 9 Agustus 2015

Catatan Sumpah Dokter untuk Fattah

Hej Fattah!!

image

4 Agustus ini, kau hadiri sumpah dokter Bapak. Di salah satu hari yang sarat makna bagi kita ini Bapak merenungkan beberapa hal yang Bapak ingin kelak Fattah mengerti..

1. Jadilah Dokter, hanya jika telah kau pastikan tidak ada profesi lain di muka bumi yang secara optimal mengizinkanmu berkontribusi kepada sesama dan bersujud khusyuk kepada-Nya. Jika kita mau jujur, kelak kau akan mengerti selain pemuka agama dan politisi, Dokter memiliki tanggung jawab moral yang memiliki konsekensi erat pada hajat hidup masyarakat. Terpapar detil manusia yang menjadi tanggung jawabnya, mulai dari struktur molekular hingga aspek sosial, ekonomi, politik dan budayanya.

https://scontent-fra3-1.xx.fbcdn.net/hphotos-xfp1/v/t34.0-12/11805664_10153574330262491_1093828573_n.jpg?efg=eyJpIjoidCJ9&oh=644b29db2cffb6149f537f9009f9bad3&oe=55C8DC0C

2. Pergilah sekuat kakimu dapat melangkah, sejauh matamu dapat memandang, sedalam keyakinanmu pada tujuan. Menetaplah hanya jika hatimu yakin di sanalah kau akan terus berkembang, bermanfaat dan bersyukur dengan hikmat.

3. Jadilah dirimu yang kau inginkan dan teruslah belajar hingga kau pahami tidak ada satu pun proses kehidupan yang tidak mengandung makna dan pembelajaran. Jangan anggap sulit jika mungkin. Jangan anggap tidak jika belum. Jangan anggap nihil hingga dicoba. Karena yang asing itu untuk dikenali, bukan ditakuti. Yang tampak sulit untuk dipahami, bukan dihindari.

Terima kasih untuk keceriaan dan kesabaranmu menjadi anak dari seorang mahasiswa, seorang ko-ass, seorang yang selalu belajar dari setiap langkahnya bersamamu.

Jag älskar dig så mycket, Fattah!!!

Cengkareng – Doha- Amsterdam, 8 August 2015

Our Last Getting to School Together, Buddy!

Onsdag, 13 Maj 2015. Stockholm.

Fattah last day with me to school

Hej, Fattah!!!

This might be the last day we go to school together. Of course, I will still take you to school in the days ahead, but I myself will not go to school anymore. It has been inspiring morning walks we spent. Letting you playing with your mini buddies always gave me sense that I am going to have fun with my master degree fellows too.

Taking you almost everyday to school, meeting other fathers who are about getting to their offices, is one of best life learning I get from living in Sweden. Yes, it’s not you who need me to take you to school.. it’s I that need to spend intimate time only with you.. (the only time Mamma is not around :D)
I love you buddy!!!
***
Bukan Fattah yang butuh Bapak untuk mengantar ke sekolah..
Tapi jika bukan saat mengantar dan menjemputmu sekolah.. kapan  lagi kita punya waktu berdua?
Terima kasih Fattah, di antara tahun terindah, adalah saat kita bersama berangkat dan pulang sekolah..

Ini mungkin hari terakhir kita sama-sama berangkat sekolah, lusa Bapak submit thesis, selanjutnya Bapak harus kerja dan tentu tetap bias mengantar Fattah. Fattah sudah mau “wisuda” grup Blåbar (1,5-3 th). InsyaAllah sisi bumi lain telah menantimu dan akan menerima kita sama indahnya dengan bumi Skandinavia.

(foto diambil saat Fattah mendarat usai melompat dari rumput ke atas tutup got. Fattah suka sekali membuat lompatan di atas permukaan yang tampak berbeda dari permukaan di sekitarnya, tutup got, batu, anak tangga)

Memperpanjang Usia, Mengurangi Penderitaan, Meningkatkan Kualitas Kehidupan

image

image

image

Pagi ini mendapat karunia menikmati indahnya sebuah taman pemakaman yang masih terhubung dengan Haga Park, salah satu Taman Kota Nasional Kerajaan Swedia, yang terletak hanya 100m dari tempat tinggal.

Menatap keluar dari bagian dalam sisi taman, nampak tiga bangunan monumental di luar taman pemakaman di antaranya Karolinska Sjukhuset, Karolinska Institutet (Medical University and School of Public Health) dan Life Science Laboratory – Center Biovitrum.

Ketiga bangunan dan taman pemakaman ini seolah mengingatkan peran para tenaga kesehatan: memperpanjang usia, jika tidak bisa cukuplah mengurangi penderitaan, namun alangkah baiknya sejak awal mendukung sesama meningkatkan kualitas kehidupan.