Spring in Sardegna, 1

“Eropa di bayangan aku ya Sardinia, Mas. Nggak kayak Belanda gini. Dulu aku tinggalnya di desa, di atas gunung. Kalau ke sekolah aku harus ke Seuli, desanya Patty naik bus yang adanya cuma sekali pagi-pagi dan sore untuk pulang. Di Seulo nggak ada SMA karena penduduknya cuma seribu, maksimal SMP, kalau mau sekolah SMA harus ke Seuli dan untuk kuliah hampir semua ke Cagliari.”

“Di sana semua orang saling kenal. Tetangga kalau dirunut masih ada hubungan darah.  Kerjanya sektor informal, paling banyak bertani. Babo Romano salah satu yang disegani karena ia seorang guru dan kepala sekolah. Aku biasa main di sungai, jalan ke gua, ambil air untuk minum di fontana di tengah hutan,  dan tiap sore kita sekeluarga naik (FIAT) centocinquanto -mobil khas sekaligus favorit Itali era 90-an- pergi berkebun ke Reneli.”

Spontan Muti menceritakan Seulo, paesse atau dusun di mana ia pernah tinggal selama sepuluh bulan di Pulau Sardinia, Italia. Sebelumnya aku “memaksakan” pandanganku bahwa Eropa yang “sesungguhnya” adalah Belanda bersama negara-negara Eropa Barat dan Eropa Utara lainnya. Di mana kebudayaan dan peninggalan fisik khas lokal berdampingan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Pandangan serupa yang banyak didapat oleh banyak orang Indonesia yang pernah berkunjung, belajar atau bekerja di Eropa.

Sementara it Haarlem, yang dipercaya sebagai salah satu kota tercantik di Belanda, kota di mana dulu aku pernah tinggal bagiku adalah proyeksi mimpiku di waktu kecil akan Eropa “sesungguhnya”. Bangunan klasik yang terakomodasi baik oleh tata kota modern, kincir angin tua yang berdampingan turbin angin raksasa pembangkit listrik, dan lalu lintas padat sepeda onthel yang berpadu transportasi massal modern.

Aku masih separuh percaya, kalau Seulo itu bukan sekedar sebuah cerita.

16 Marzo 2012, Mudik ke Sardinia

Di dalam pesawat Ryan Air yang membawa kami dari Aeroport Charleroi Bruxelles Sud, sambil memegangi crutch yang masih kubawa untuk membantuku berjalan, pandanganku tertarik pada sebuah pemandangan indah nan menakjubkan di balik jendela. Barisan pegunungan Alpen denga latar belakang mentari senja yang perlahan menghilang di batas horisonnya.

Nggak nyangka ya, sebulan lalu Mas baru nyungsep di sana sekarang kita bisa lihat pemandangan cantik dari langit di atasnya.

Mendarat di Aeroporto Cagliari, dibantu special assistance dari satuan petugas pemadam kebakaran yang mendampingi kami sejak turun dari pesawat, kami mencari taksi menuju apartemen Fabio. Tidak jauh dari kampus tempatnya berkuliah, Università degli studi di Cagliari.

“Muuutii.. Come staaai??!!” Lima belas menit kemudian kami sudah sampai dan disambut hangat oleh Fabio. Dengan intonasi khas Itali nya menyapa Muti. Kakak perempuan Indonesia nya yang sudah enam tahun tidak saling bersua. Sudah menantikan kedatangan kami, Fabio langsung mengajak kami makan malam di sebuah pizzeria di seberang apartemennya. Dua pizza Fruti di Mare ukuran besar dan satu pizza Gambereti Panna kami pesan untuk makan malam bertiga. Bagiku, inilah kali pertama menikmati sekaligus melihat pembuatan pizza asli buatan Itali. Sambil kuabadikan momen-momen kami di pizzeria kudengar Fabio dan dua pemilik pizzeria yang sudah jadi langganannya ini sempat membicarakan kedatangan kami.
“Chi sono, Fabio?” 

“La mia famiglia indonesiana.”

“Aa.. Indonesiana, siamo andati a Bali la scorsa estate!” rupanya kedua pemilik pizzeria ini baru saja berlibur ke Bali musim panas lalu.

Karena Fabio tidak berbahasa Inggris lancar, kami akhirnya ngobrol dalam bahasa Prancis yang kini giliranku yang belum lancar. Syukur Prancis berakar latin seperti Itali, dengan sedikit improvisasi, memelesetkan beberapa kosa kata dalam bahasa Prancis dan mengamati percakapan Muti dan Fabio aku berhasil menysusun kalimat, meski banyak salahnya, dalam bahasa Itali. Beruntung sejak SD aku rajin membaca tabloid bola, untuk mendukung percakapan dengan Fabio yang seorang Juventini sejati kukeluarkan semua kosa-kata Itali yang kudapat dari informasi pergelaran Seri-A Italia, termasuk para pemain Juventus yang kukenal sejak era duet Del Piero-Pippo Inzaghi. “Incredibile che si sa quanti giocatore della Juventus,” puji Fabio. Alhamdulillah, ada manfaatnya juga sempat langganan tabloid BOLA.

Di tengah perbincangan kami, aku melihat tulisan “Andalas” terpampang jelas pada hiasan gantung di dapur apartemen Fabio. Andalas? Nama yang tidak asing dalam bahasa Indonesia pikirku. Andalas adalah nama tua pulau Sumatera. Penasaran dengan kata “Andalas” di sana, kutanyakan pada Fabio apa maksudnya. Menurut Fabio, Andalas adalah salah satu hari perayaan di Seulo yang diadakan setiap tanggal  13 Agustus dalam rangka melestarikan lembah Flumendosa, di mana sebuah sungai utama bagi masyarakat Seulo mengalir di tengahnya. Subhanallah,  13 Agustus, tanggal perayaan Andalas di Seulo, persis sama dengan tanggal pernikahan kami. Muti pun berdarah “separuh” Andalas, karena Papa Hendry, ayah Muti, berasal dari Solok Sumatera Barat. Seperti kebetulan, tapi sesungguhnya tidak ada yang namanya kebetulan. Tidak ada sehelai daun pun jatuh tanpa seizi-Nya. Pun kondisi alam pegunungan Seulo serasi dengan topografi Solok dan Gunung Kidul dari mana Mama Nani berasal. Perjalanan kami ke Sardinia pun tak ubahnya serasa perjalanan mudik ke kampung halaman.

17 Marzo 2012, Kembalinya Muti, Anak Gadis yang Hilang

“Muutiii..’

‘Ciaoo, Maamaaa..,” Mama Eliana yang awalnya sempat ragu khawatir tak mampu menahan haru, akhirnya maju memeluk Muti. Aku yang turut terharu menyaksikan adegan ini mencoba menguatkan diri dan merekam detik-detik emosional ini. Mama Eliana, memeluk, mengelus dan menatap Muti berulangkali, memastikan ini benar-benar terjadi. Enam tahun sudah sejak terakhir kali keduanya bertemu. Sepuluh bulan tinggal bersama sudah cukup memberikan waktu bagi Muti menjadi bagian famili Carta. Si anak gadis satu-satunya.

Pagi ini Babo dan Mama sengaja datang pagi-pagi dari Seulo, menjemput kami bertiga untuk kemudian sama-sama ke Seulo. “Yang, Sardinia ini derivat surga di bumi yang paling mendekati  kali ya.” Sepanjang perjalanan dua jam Cagliari-Seulo aku tak berhenti mengagumi keindahan alam pulau Sardinia. Di sisi kanan kiri jalan yang penuh liku dan naik turun aku selalu menemukan pemandangan baru mengejutkan, mulai dari pohon palem yang eksotis, pohon zaitun yang berbaris rapi, domba-domba berbulu lebat, sapi-sapi sehat, pohon jeruk, ladang anggur, pohon walnut, hingga bunga matahari yang tumbuh tersebar di atas hamparan rumput hijau bak karpet diselingi bebatuan obsidian berwarna terang khas Mediterania.

Memandang tanah Sardinia, kita masih bisa mendapat gambaran bagaimana kondisi pulau ini puluhan ribu tahun ke belakang.  Selain adanya batu-batu tua sisa letusan gunung berapi puluhan ribu tahun lalu yang tersebar di mana-mana, gambaran situasi masa lalu ini diperkuat oleh kehadiran Nuraghe, bangunan kuno khas Sardinia, semacam menara pengawas untuk mengetahui pergerakan musuh pada saat itu. Dibangun belasan ribu tahun lalu, hingga kini ribuan Nuraghe masih tegak berdiri tersebar di berbagai dataran tinggi maupun rendah di seluruh Sardinia.

Ketakjubanku makin bertambah manakala di beberapa bagian jalan yang kami lalui kami harus mengalah pada rombongan domba yang sedang digembala, uniknya selain mengokupasi jalan yang seharusnya bebas hambatan, domba ini digembala menggunakan mobil yang mengharuskan sang penggembala menggiring dengan dahan pohon melalui jendela mobilnya sambil terus bergerak perlahan. Sesekali mobil yang melaju harus memberi kesempatan pada domba yang akan menyeberang. Seperti yang Muti selalu ceritakan padaku, pupulasi domba di Sardinia jauh melebihi manusia.

Pemandangan yang sangat kontras ini semakin menjadi ketika pada satu daerah anatara Isili dan Seulo kami melintasi padang luas yang dipenuhi intalasi panel surya seluas lima hektar. Rupanya sejak 2008, Sardinia mengimplementasikan green energy untuk menyuplai kebutuhan listriknya sendiri memanfaatkan tenaga surya yang mumpuni ketersediannya. Tidak hanya sampai di situ, di daerah ini juga “ditanami” puluhan turbin angin raksasa yang juga berfungsi sebagai pembangkit listrik.

Saat separuh perjalanan ditempuh, Simone, si bungsu yang tidak ikut menjemput karena masih sekolah sudah menelpon menanyakan keberadaan kami, tidak sabar menantikan kedatangan sekaligus bertemu Muti. Sesampainya di rumah Seulo, Babo dan Fabio membawa kami berkeliling rumah dari bagian paling bawah hingga atas. Semua perabotan dan hiasan di rumah itu masih tampak sama bersih dan terawatnya seperti enam tahun lalu. Rumah Babo dan Mama berstruktur unik. Sebagaimana rumah lain yang juga terletak di lereng gunung, rumah mereka memiliki beberapa tingkat yang menyesuaikan topografi lereng gunung secara unik.  Rumah ini terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar berhadapan dengan akses jalan beraspal di sebelah utara merupakan ruang makan besar yang digunakan untuk makan bersama saat mengundang sahabat atau keluarga merayakan sesuatu, sedangkan lantai tiga berhubungan langsung dengan jalan paving block di sebelah selatan terdiri dari ruang keluarga, ruang makan, dapur dan ruang kerja Babo. Sementara lantai dua nampak bercokol pada lereng gunung di sisi selatan dan “mengambang” di sisi utara terdiri dari tiga kamar tidur.  “ti ricordo ancora questa?” tanya Babo sesekali menguji ingatan Muti tentang lokasi-lokasi dan barang-barang tertentu.

Di lantai empat, Mama Eliana sudah menyiapkan khusus kamar untuk kami selama di Seulo. Bersebelahan dengan kamar tersebut adalah kamar kosong tempat Mama Eliana menyetrika dan menyimpan beberapa barang.  Di sana pulalah Mama Eliana masih menyimpan seluruh foto Muti selama di Sardegna dengan rapi  bahkan beberapa buku sekolah, kertas catatan, sarung tangan dan sweater yang biasa Muti pakai ke sekolah. Muti menceritakan dan menerjemahkan percakapannya dengan Babo dan Fabio tentang setiap sudut rumah padaku, semua masih tampak sama, bersih, cantik, rapi dan tertata.

Siang itu kami lalui dengan makan siang menikmati pasta khas Sardinia. Makan siang di akhiri dengan bernostalgia bersama Mama Eliana, Babo Romano  juga Zia Caterina da Nonna Murgia, mama dari Mama Eliana yang sudah berusia 80 tahun, lengkap dengan kopi yang dimasak secara khas. Sebaga orang yang awam dengan kopi, inilah kopi dengan rasa paling unik dan begitu nyata perbedaan rasanya. Kopi tidak diseduh langsung dengan air panas melainkan “dikukus”, uap air yang sangat panas akan bersenyawa dengan kopi yang berada di atasnya dan menghasilkan embun yang kemudian diminum. Dengan mekanisme seperti ini terasa seluruh molekul kopi bereaksi bersama air dengan sempurna. Sore hari Simone menghibur kami dengan menunjukkan permainan gitarnya. Tak terasa, Simone yang enam tahun lalu masih seorang bocah kecil berumur 8 tahun kini sudah beranjak besar, meski kebungsuannya tetap tidak menghilangkan kebocahannya.

Malam harinya kami berenam semua menghadiri makan malam di rumah salah seorang sahabat dari keluarga Romano, Giliola. Giliola dan Babo Romano sama-sama anggota coro della chiesa dari Seulo. Anak pertama Giliola, Mauro, seperti Fabio dan Muti enam tahun yang lalu pergi ke sekolah yang sama. Sampai di rumah Giliola, seolah sudah menjadi tugas utamanya, didahului dengan membersihkan tungku  dari serpihan batu arang yang sudah membara, menggunakan dahan pohon cemara beserta daunnya yang menimbulkan aroma khas dan suara khas “kretek-kretek” terbakarnya daun cemara,  Babo langsung memasukkan satu demi satu pizza yang telah disiapkan para ibu ke dalam tungku. Benar-benar pizza Itali rumahan dan suasana keakraban khas Itali sesungguhnya.

18 Marzo 2012, Doa dari Nonna dan Nonno

Babo adalah sulung dari lima bersaudara famili Carta. Hari ini Sophie, salah seorang dari dua adik perempuannya, berulang tahun. Semua anggota keluarga berkumpul di rumah Nonno dan Nanno,  kakek dan nenek dalam bahasa Itali. Kehadiran Muti kembali disambut sukacita  oleh semua anggota keluarga, para sepupu, zia dan zio, paman dan bibi dalam bahasa Itali. Tidak ada yang menyangka setelah sekian lamanya Muti akan benar-benar kembali ke Seulo, pula bersama seorang suami. “Lui é mio marito,” terang Muti pada semua anggota keluarga kalau aku semuanya. Mio marito,mio  marito, terdengar menyenangkan sekali di kepalaku. Hehehe.

“Speriamo che il vostro matrimonio dureràcome noi.” Pesan Nonno dan Nanno agar kami bisa mengikuti jejak pernikahan mereka yang langgeng hingga lebih dari 50 tahun saat kami berpamitan. Nonno saat ini berusia 87 tahun dan Nanno 86 tahun. Dengan usia yang begitu senja keduanya masih tampak begitu sehat dan penuh semangat. Bahkan setiap pagi Nanno masih rutin mengendarai pick up roda tiga nya yang menyerupai bemo, untuk berkebun dan mengumpulkan kayu. Belakangan baru kuketahui warga asli Pulau Sardinia, dengan dukungan alamnya, merupakan salah satu populasi dengan usia harapan hidup terpanjang di dunia, berdampingan dengan populasi  centenarians, mereka yang dapat hidup hingga usia 100 tahun di Okinawa.

Usai acara ulang tahun dan makan siang yang penuh keakraban itu kami turut zio Giuseppe untuk menyaksikan pertandingan bola lokal antara tim Seulo dengan tim dari paesse tetangga. Sekali lagi aku bersyukur media Indonesia adalah pemuja Seri-A Italia. “Espulso, espulso arbitro!!” teriakku meramaikan suasana setiap pemain Seulo dikasari. Bertindak sebagai tuan rumah, aku mendapat dukungan dari penonton lain melalui senyum dan jempol mereka padaku.

“Muti, quando sei venuto, quanto tempo il vostro soggiorno?” rupanya di stadion, yang dipadati sekitar 200 orang pendukung kedua kesebelasan itu banyak yang masih mengenal Muti dengan baik, terutama teman-teman yang dulu pergi ke sekolah yang sama. Hadir di stadion ini bersama Muti dan Giuseppe yang seorang kepala paesse Seulo, aku merasa sensasi yang istimewa.

Sensasi ini berlanjut di hari-hari berikutnya setiap kali kami melintas jalan utama Seulo, baik di dalam mobil maupun berjalan kaki ada saja yang menyapa. Pada dasarnya, memang merupakan kebiasaan setiap warga untuk saling menyapa, namun saking sedikitnya jumlah penduduk Seulo mereka begitu mengenal satu sama lain bahkan Muti yang sudah lama tidak di sana. Suatu hari kami melintas parkir untuk membeli tiket bus yang dijual di caffe Murgia, -soal nama caffe yang sama dengan family name Mama Eliana ini Muti menjelaskan kalau Murgia merupakan salah satu family name terpopuler di Seulo bahkan Sardegna- seorang wanita setengah baya setengah berlari menyebrang jalan sambil melambaikan tangan berusaha mendekati kami, “Muti, Muti.. aspetti..” Rupanya  wanita ini adalah Maria, perajin sulaman  wool khas lokal yang ingin memberikan Muti kenang-kenangan berupa selembar kain hiasan dinding bertuliskan “Seulo”, begitu mendengar dari beberapa warga mengenai kedatangan Muti. Di kesempatan lain, seorang ibu pedagang sayuran dan buah-buahan berteriak memanggil nama Muti dari kejauhan. Melompat turun dari bak truknya menghampiri kami, menyapa dan bertukar kabar dengan Muti. “Yang, beken banget kamu di sini..” kagumku terhadap Muti yang seolah seperti artis di sini.

This slideshow requires JavaScript.

Dokter Umum Bukan Orang Bodoh

Dua hari lalu saya tersentak membaca sebuah artikel nelangsa tulisan seorang dokter PTT, RD, yang sepertinya bertugas di Papua. “Orang Bodoh yang disebut Dokter Umum” judulnya. Semakin membuat tersentak ketika seorang senior saya, dosen muda di universitas asal saya, hari ini menyampaikan kalau tulisan ini mendapat banyak apresiasi dan “pengaminan” dari para dosen senior. Meski sebetulnya ketika saya menjalani kuliah S1pun saya seringkali menjumpai dosen-dokter yang curhat mengenai kesejahteraannya sebagai dosen-dokter di bawah sistem yang berjalan. Saya menjadi tergerak untuk turut “meramaikan” respon terhadap tulisan ini setelah membaca dalam sebuah milis kebijakan kesehatan salah seorang professor idola saya menstimulus para member untuk mengomentari artikel ini dengan tulisan yang saya sesuaikan dengan pengetahuan-pemikiran, pengalaman dan status saya.

Keputusan saya membuat tulisan respon ini setelah saya membaca artikel tersebut berkali-kali dan menyimpulkan bahwa artikel ini “ekstrim bawah”, dalam arti meski berbasis fakta dan pengalaman nyata, DR menumpuk-numpuk kemalangan diri dengan junior-juniornya sehingga mewujudkan citra dokter umum yang bodoh. Bodoh secara finansial dan akan ke-Maha Besar-an Tuhan lebih tepatnya yang dikemukakan di sana. Tulisan bergaya seperti ini menurut saya berpotensi memunculkan inferioritas pada sahabat-sahabat saya yang sedang menjalani ko-ass dan yang baru disumpah menjadi dokter umum, menurunkan minat saudara saya untuk menjadi dokter umum, menumbuhkan kecemasan di kalangan masyarakat awam dan ancaman depresi bagi dokter umum yang kebetulan nasibnya serupa di daerah PTT sana. Sementara tulisan saya ini saya niatkan sebagai penawar agar motivasi kami yang sedang dan akan menjadi dokter umum tidak jeblok.

Pada paragraph pertama artikel tersebut, penulis (saudara RD) langsung memfokuskan topik bahasan pada nasib dokter dari segi ekonomi, khususnya dokter umum. Pada paragraph kedua, artikel tersebut menceritakan betapa nasib dokter umum (secara ekonomi) sudah sedemikian blangsaknya sejak masa kuliah. Uang pendaftaran, uang semesteran, uang buku yang hingga ratusan juta rupiah ditengarai sebagai penybabnya. Sebetulnya penulis sudah insyaf menyatakan, “bagi mahasiswa menengah ke bawah dengan tekad kuat dapat mensiasati biaya pendidikannya”, tetapi gejala depresi yang mungkin terlanjur melekat beberapa waktu menutupi pernyataan positifnya sendiri lalu melanjutkan kisah keluhannya.

Mengingat status saya baru sarjana kedokteran, kehidupan finansial mahasiswa kedokteran yang saya ingin kupas lebih dalam.

Betul biaya masuk fakultas kedokteran (FK) mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Kebijakan pemerintah menganggarkan 20% APBN untuk pendidikan tidak berpengaruh terhadap “tariff masuk” ini. Justru makin tinggi dari tahun ke tahun. Sebuah pengalaman nyata, usai dinyatakan diterima di fakultas kedokteran, dokter DSL, sahabat SMP saya yang cerdas dan gigih, bersama beberapa kawannya angkatan 2006 berhasil menemui pimpinan fakultas dan berdiskusi sehingga biaya masuk mereka dari 25 juta turun menjadi 5 juta dan gratis bagi beberapa di antaranya.  Jadi usaha dulu, jangan salah memahami informasi di media kemudian bilang mahal dan menyerah begitu saja.

Sahabat saya lain, Z, alumni sebuah madrasah di Sukabumi saat ini sedang menjalani ko-ass berhasil mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama dan ditanggung biaya masuk, kuliah, buku, hidup bulanan sejak awal hingga menjadi dokter. Sejumlah beasiswa S1 dalam negeri pun tersebar luas jika seorang calon mahasiswa memang berniat mendapatkannya. Apalagi kini telah ada beasiswa Bidik Misi dari Kemendiknas. Beberapa universitas pun terus meningkatkan proporsi mahasiwa yang terjaring beasiswa lokal universitas. Sebut saja UGM dengan beasiswa UGM Peduli yang mencakup 17% mahasiswanya. Belum lagi beasiswa yang diselenggarakan berbagai perusahaan dan yayasan, sebagai contoh Beasiswa dari Lembaga Pendidikan Nurul Fikri yang bahkan menyediakan asrama dan biaya hidup untuk mahasiswa. Saya sendiri setelah gagal diterima beasiswa BOP UGM dibisiki oleh staff bagian kemahasiswaan rektorat, “Mas, coba yang dari Kalbe saja. Masih sedikit yang daftar”. Jadi sebelum putus harapan lihat faktur biaya masuk fakultas kedokteran, lihat dulu peluang beasiswa terbentang. Beramahtamahlah dengan teman mahasiswa, dosen kita, dan staff non-akademik, tambah saudara pasti tambah rezekinya.

Saya baru mengetahui informasi beasiswa di tahun kedua kuliah, tahun ketiga baru berhasil diterima. Jumlahnya pun hanya cukup menutupi biaya semesteran sebagian saja. Jujur biaya masuk yang harus kami bayar puluhan juta jumlahnya, beruntung saya memiliki Ibu dan Almarhum Bapak hebat yang membekali teladan semangat dan kerja keras tiada dua. Seperti mimpi, empat bulan terakhir menjelang pembayaran di luar dugaan aktivitas network marketing Ibu saya yang PNS golongan IIIC menghasilkan bonus yang mencukupi untuk membiayai dana masuk FK. Coba tes masuk FK dulu, Tuhan Maha Kaya, kalau memang diterima pasti ada saja jalan-Nya. Terbukti beberapa kali diberitakan anak tukang becak berhasil jadi dokter di FK UGM.

Berjanji pada diri sendiri untuk mengembalikan biaya masuk FK pada Ibu sebelum jadi dokter bahkan sarjana, sambil kuliah saya coba banting tulang dari ujung crania sampai phalangea. Jualan produk lintas network marketing, menjadi agen asuransi, memasarkan apartemen, franchise pulsa, suplemen, aksesoris, parfum, hingga tas wanita tiga tahun aktif saya lakoni silih berganti. Alhamdulillah setahun sebelum lulus Tuhan mengabulkan target saya.

Apa yang saya lakukan bukan hal aneh apalagi luar biasa. Teman angkatan 2007 saya, Bang L, sepanjang masa kuliah sarjana setia menjalani bisnis pulsa hingga merambah ke gerai milkshake. Saat ini sembari ko-ass ia mengembangkan usahanya hingga sektor konveksi. Tidak gengsi facebook nya kini dipenuhi foto sepatu dan jaket desaign terkini. Trio kawan angkatan 2007 sayang yang lain, B-B-K, sejak tahun ketiga membuka usaha bersama kafe Si Omay di kampus kami tercinta dan terus berkibar hingga kini. I, membuka usaha cakery, fashion dan accessory. Sahabat lain D, bersama kelompoknya sukses mengembangkan usaha Sukery, Sukun Bakery, usaha bakery berbahan dasar sukun dan kini ia mendapat beasiswa untuk mengikuti ko-ass di Italia. Saya rasa dia bisa menabung cukup banyak kelak untuk melanjutkan ko-ass nya di Jogja.

Lebih fenomenal, seorang senior dari angkatan 2005 Mas Dokter T, berhasil merintis dari nol dan mempopulerkan bisnis fotokopi 24 jam pertama di Provinsi Yogyakarta dan kini memiliki satu-satunya stadion futsal yang terletak di pusat kota Jogja. Yang bersangkutan kini sebagai dokter umum aktif melakukan penelitian kebijakan kesehatan di daerah pedalaman di NTT dan menjadi nominasi penghargaan Millenium Development Goals Award di bawah arahan Prof. Laksono Trisnantoro.

Di tahun kedua, saya ingin sekali ke luar negeri tanpa biaya. Tulisan saya tentang kehidupan akademik mahasiswa FK tempat saya belajar dinilai layak sehingga berhak mengikuti rombongan BEM FK ke Malaysia dan Singapura dengan biaya fakultas. Saat itu BEM FK hanya menyediakan dua jatah untuk mahasiswa non-pengurus BEM, anehnya hingga deadline berakhir BEM hanya menerima dua buah karya. Coba dulu, Tuhan selalu punya jalan.

Tiba di Malaysia, melihat buku Oxford Handbook of  Clinical Medicine dan seri lainnya yang sedang digemari di kalangan mahasiswa FK dijual dengan harga hanya sepertiganya di Indonesia, berkat pemerintah Malaysia mengcover sebagian besar buku kedokteran, bersama kawan-kawan kami mendadak membuat “joint-venture” kulakan buku-buku tersebut dan kemudian kami jual kembali di Indonesia dengan pasar UI, Unpad, UNS, Unibraw, hingga Udayana. Alhamdulillah pulang studi banding, kami justru menyebarkan ilmu dengan berjualan buku dan turut mensejahterakan kehidupan mahasiswa. Kelakuan kami ini akhirnya banyak ditiru dan berkembang menjadi usaha yang dikawal oleh Bang L, N, dan A. Semua masih kawan kami di angkatan yang sama. Uniknya, banyak di antara mereka yang kemarin lulus dengan predikat cum-laude.

Kelakuan kami yang unik ini sebetulnya bukan fenomena baru, jauh-jauh hari hampir lima puluh tahun ke belakang dr. Lucas Meliala, Sp.S menjalani kuliah kedokteran sambil menarik becak, kemudian berkembang menyewakannya hingga 41 buah, berkembang menjadi perusahaan truk, berkembang menjadi salah satu perusahaan bus pariwisata terbesar di DIY-Jateng saat ini. Begitu juga perjuangan Dokter Gideon pendiri apotek waralaba K-24. Tidak jauh-jauh, dosen kami yang berselisih usia kurang dari sepuluh tahun dari kami kini sedang naik daun di wilayah Kulon Progo akibat kesuksesan membuka usaha Bakul Bakmy yang menggunakan logo BB plesetan Blackberry.

Di paragraph ketiga, RD melanjutkan keblangsakan nasib dokter umum saat mengenyam status freshgraduate. Harus UKDI, STR, SKP, dan lain-lain yang ujung-ujungnya dikalkulasi dalam skala nominal. Ujung-ujungnya duit. Mudah saja, namanya jadi dokter ya memang begitu tahapannya. Di Eropa di Amerika, berbagai tahapan tes dan sertifikasi memang harus dilalui dan berbiaya relatif tinggi. Kalau tidak mau begini ya buka lapak saja. Pengacara, bankir dan profesi lain pun memiliki kenjlimetannya sendiri. Kalau hal teknis begini ingin terus dipermasalahkan tanpa berkontribusi aktif dalam solusi, silakan saya rasa lebih baik memilih meninggalkan kehidupan. Kalau masalahnya adalah kontraprestasi finansial yang tidak berimbang perlu diinsyafi lagi bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Memilih PTT berkonsekuensi ditempatkan di tempat nun jauh dan tidak berimbang secara finansial pendapatan dan pengeluaran. Karena kolaborasi kebijakan PTT dan kemampuan pemerintah Indonesia dalam meregulasi, dari dulu hingga kini ya begini. Kalau hanya punya bekal keluhan bukan solusi jangan pilih jalan ini, atau pilih setelah punya bekal cukup nanti. PTT sendiri sebuah “investasi”, meski diceritakan sering hidup dalam kondisi sulit saat di daerah, kelak alumni PTT mendapat prioritas untuk masuk residensi dibanding yang tidak PTT. Ada perjuangan ada hasil. Jer basuki mawa beo. Menteri Kesehatan pun memulai karirnya dengan PTT di daerah terpencil.

Kalau ingin PTT tapi tidak sengsara finansial, mungkin bisa mencontoh senior saya Dokter YH. Begitu bergelar dokter beliau tidak langsung PTT tapi mengumpulkan pengalaman dan rizki sebanyak-banyaknya di Yogyakarta. Dalam seminggu, inilah aktivitasnya: mengisi acara konsultasi kesehatan di radio, menjadi dokter jaga dan praktek di rumah sakit dan klinik, menjadi website developer pusat studi pengembangan kurikulum pendidikan kedokteran, berpartisipasi dalam sunatan massal, menulis artikel kesehatan popular, dll. Rezeki tambahan tidak selalu dari berbisnis. Tapi upaya beliau memang ekstra dan strategi beliau realistis, kelak menjalani PTT insyaAllah sudah berbekal finansial lebih dari yang langsung nyemplung. Dengan demikian selain mendapat pengalaman klinis, beliau tetap dapat bisa menghasilkan rezeki cukup, tetapi menjadi manfaat dan saya amati dari FB nya tiap dua minggu sekali beliau bisa jalan-jalan ke luar pulau Jawa.

Kalaupun ingin segera PTT dengan modal nekat (ilmu cukup, doa banyak, financial minimal), bisa belajar dari dokter-anthropologist Paul Farmer lulusan Harvard, yang bersama sahabatnya Jim Yong Kim (kini Direktur World Bank) dan mendirikan NGO Partners in Health, yang mendedikasikan diri sepenuhnya di Haiti meski awalnya tiada sebuah badan pun yang menggajinya, semua ia lakukan dengan sukarela, tingggal di apartemen bekas seadanya, sempat terkapar karena kehabisan makanan, namun kemudian novel tentangnya menjadi sangat popular di seluruh dunia, “Mountains beyond Mountains: A Man Who Would Cure The World” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Cinta dan Pengorbanan Seorang Dokter.

Untuk PTT ini saya tidak dapat membahas terlalu banyak mengingat minimnya pengetahuan dan pengalaman saya. Mengingat focus RD adalah kesejahteraan dokter umum yang diukur secara finansial, lebih akur jika pembahasannya mengarah ke kesempatan menjemput rizki finansial. Saya agak keberatan kalau karena kurang cerdas financial dokter umum dibilang orang bodoh.

Pada akhirnya, hidup adalah pilihan. Setiap pilihan membawa konsekuensi. Ketika konsekuensi datang tinggal seberapa luas hati kita untuk bersyukur dan menerima atau menggerutu sambil tidak bisa menolak. Saya sendiri tidak punya cukup banyak uang untuk melanjutkan ko-ass saat menjelang wisuda. Meski ibu akan memperjuangkan sisa biaya pendidikan, saya berusaha dulu untuk mencarinya sendiri. Maka saya memutuskan melamar beasiswa pertukaran Erasmus Mundus, rupanya saya diterima. Tinggal di Eropa sepuluh bulan seorang diri bukan pilihan yang mudah buat saya yang dulu telah menemukan pujaan hati, daripada menunggu sukses ala dokter (jadi spesialis) untuk bisa bulan madu ke Eropa, saya ajukan lamaran kepada calon istri untuk menikah. Alhamdulillah, kini kami bisa curi start bulan madu ke Eropa meski gelar dokter pun belum saya dapat.

Kini sembari mengikuti aktivitas akademik di Belgia, saya bersama kawan-kawan di Indonesia melanjutkan proyek kerjasama jilid dua dengan salah satu produsen ponsel  sebagai kontributor healt lifestyle content. Pekerjaan yang kami niatkan untuk “menyehatkan” orang Indonesia melalui promosi kesehatan ini sekaligus menjadi ikhtiar kami menjemput rezeki. Untuk saya inilah cara membiayai rumah tangga kelak sebagai ko-ass yang tidak bergaji. Juga mengikuti saran paman dan bibi, sebelum wisuda tahun lalu saya menanam bibit sengon dan jati yang insyaAllah akan dipanen kelak untuk biaya masuk TK di kemudian hari kami dianugerahi putra. Saya rasa lebih produktif membuat inisiatif seperti ini, daripada mengeluh jadi ko-ass yang tidak digaji (mau ko-ass ya harus terima tidak digaji, memang itu proses yang harus dilalui), kalah “nasib” sama teman seangkatan yang sarjana ekonomi yang sudah bekerja di segitiga emas Jakarta dan bergaji kemudian curhat menularkan pesimisme dan nelangsaisme di FB dan media lainnya.

Padahal cita-cita saya dulu jadi dokter dulu, baru cari beasiswa master lalu membawa istri ke Eropa. Itulah kehidupan, jalannya berliku, kita harus aktif tapi juga fleksibel dalam menjemput rezeki Tuhan. “God gives, but doesn’t share”. Tuhan memberikan semuanya pada manusia, nyoh pek’en kabeh bumi dan isinya. Tapi kita manusia sendiri yang ribut memperebutkan pendistribusiannya. Celakanya bukan berusaha merebut haknya, malah sebagian kita sibuk mengeluh di sosial media. Sadar atau tidak berpotensi besar menyebar negativisme ke masyarakat Indonesia lainnya.

Meskipun saya tampak menegasi artikel karya RD tersebut saya percaya kalau artikel itu didasari fakta dan yakin sesungguhnya artikel tersebut dapat berdampak positif jika ada policy maker terkait (PB IDI, Kemenkes, Presiden) yang membaca kemudian bergerak untuk membuat perubahan nasib kesejahteraan dokter umum pada situasi-situasi yang digambarkan di sana.  Namun mengingat artikel ini sudah berusia dua tahun dan tampaknya nasib dokter umum masih belum jauh berbeda, lebih baik kita bersama membangun sikap positivisme daripada hanya berharap dalam nelangsaisme. Suatu hari sepupu saya, dr. Nurul Hidayatie, yang mendapatkan gelar doktor dalam bidang farmakologi di Jepang (sekolah spesialis terlalu mahal, lebih feasible mencari beasiswa) berkata, “Indonesia itu negara auto-pilot”, yang bisa diartikan banyak hal yang tidak sempat terurus pemerintah atau banyak hal yang kalau nggak diurus pemerintah justru bagus jalannya. Ini juga yang menjadi pijakan saya dalam berpikir dan berkarir, daripada mengharap berujung kecewa, lebih baik menjadi positif mandiri sambil terus berbagi. Itu menurut saya. Wallahu a’lam, semoga niat saya, melalui tulisan ini terhantarkan. Semoga mereka yang menyebarluaskan link “Orang Bodoh yang disebut Dokter Umum” juga berkenan menyebarluaskan tulisan ini, kasihan orang Indonesia dicokok produk (tulisan) penuh aura pesimisme melulu. Mari juga berdoa untuk kebaikan implementasi UU BPJS yang akan dieksekusi pada tahun 2014 bagi kesehatan masyarakat dan dokter umum Indonesia.

Saya bersyukur kepada Tuhan yang atas anugerah lingkungan positif yang dilimpahkan-Nya sejak saya kecil dalam jalan “becoming a doctor” melalui: Almarhum Bapak yang mencoba masuk FK, diterima di Fak Biologi, mencari sambilan sebagai detailer obat di Dexamedica. Melihat dokter yang diprospeknya setiap hari membuatnya bermimpi anaknya kelak harus ada yang jadi dokter seperti kakaknya, Prof. Abdul Salam, yang mencoba menjadi spesialis anak, terhalang biaya namun ditunjukkan jalan menjadi ahli biokimia, sejak mahasiswa merintis apa yang kemudian menjadi HSC dan terus lestari hingga kini. Dokter umum yang hingga professor makan malamnya selalu berlauk tempe. Seperti adiknya, dr. Zaenal Muttaqien, yang darinya saya belajar tidak ada satupun  hal di dunia, kemalangan, keberuntungan terjadi tanpa seizin Allah dan betapa agama dan fisiologi itu akrab satu sama lainnya. Juga seperti dr. Muchlis A. Udji yang tumbuh besar dalam keprihatinan, kuliah dengan vespa pinjaman, demi mendapat nasi kotak saat mahasiswa aktif menjadi panitia simposium setiap angkatan, menjadikannya kini tetap sumeh, runduk dan bersahaja di masa suksesnya.

Sebagai penutup, pembakar nyala api positivisme dokter umum, mengutip titah favorit dari salah seorang guru idola saya dr. Bambang Djarwoto, Sp.PD-KGH

“Dokter itu harus SEHAT, agar dapat membantu yang sakit, Dokter itu harus KUAT, agar dapat membantu yang lemah, Dokter itu harus KAYA, agar dapat membantu yang miskin!”

Semangat, Dokter Umum Indonesia!

Paris Manis, 3

Lundi, 9 Avril 2012

“Assalamualaikum!” sapa pria bule di hadapanku.

“Did you just say something else instead of bonjour?” aku tidak yakin kalau ucapan salam yang barusan kudengar. Fakta bahwa dia seorang Prancis membuatku masih berpikir bonjour yang baru dikatakannya.

“Did you just say Assalamu’alaikum?!” sahut  Muti cepat.

“Yes, I did,” jawabnya perlahan dengan senyum ramah.

Sekilas aku memperhatikan wajah pria ini. Wajah ramah tanpa tendensi, pandangan lembut tapi bukan tanpa ekspresi. Bagiku senyumnya khas sekali menyerupai senyum mas-mas bule muallaf yang kukenal saat tinggal di Belanda. Melihat janggutnya, seolah mengafirmasi dugaanku.

“I am sorry for asking, but are you a moslem?”

“Alhamdulillah.. I have been a Muslim since 5 years.

“Alhamdulillah.. Good to know that. Sorry, I haven’t introduced my self. I am Fadjar, and this is my wife Muti.”

“I am Mathieu! Martha told me a bit about you”

Pagi itu kami berkenalan. Kedua orang tua Mathieu adalah sahabat baik Martha dan Pierre. Saat ini mereka berempat sedang bepergian ke daerah Prancis selatan, fishing trip. Kami merencanakan untuk sarapan bersama sebelum kami sama-sama meninggalkan rumah Martha hari kamis yang akan datang.

Mercredi, 11 Avril 2012

Kemarin rencananya kami akan mengunjungi La Grande Mosquee de Paris, demi lebih menghormati kunjungan kami nantinya Muti memutuskan untuk mengenakan jilbab sejak berangkat pagi. “Aku udah mulai enak pakai jilbabnya Mas sekarang.” “Alhamdulillah, mudah-mudahan bisa lanjut yaa”. Sayang, hari itu hujan deras mengguyur Paris begitu kami masuk Museé d’Orsay kami pun urung mengunjungi masjid setelahnya.

Jeudi, 12 Avril 2012

Karena besok kami akan kembali ke Brussels, hari ini adalah kesempatan terakhir kami mengunjungi  La Grande Mosquee de Paris.  Muti kembali mengenakan jilbab sejak pagi. Doaku masih sama. Sejak semula Muti sudah menunjukkan niatnya kelak mengenakan jilbab meski tanpa kuminta. Belakangan makin banyak pertanda yang mengarah dan mendukung doa dan harapan kami ini. Misalnya, sehari sebelum kami berangkat ke Paris, sahabat kami Ina yang baru dijenguk keluarganya dari Malaysia memberikan Muti oleh-oleh jilbab dari Malyasia. Di Brussels Muti juga sudah mulai membiasakan mengenakan jilbab dalam beberapa kesempatan dan merasa nyaman.

Pagi ini juga kami akan sarapan bersama Mathieu, dari percakapan sebelumnya kami saling penasaran satu sama lain. Aku dan Muti ingin mendengar kisah keislamannya dan Mathieu ingin mendengar pengalaman kami sebagai gifted Muslim yang tinggal di negeri non-Muslim.

“So, you two are Muslim and come from Indonesia which is a country with the biggest Muslim population in the world. How hard is that for you to live in very different environment like here, in Europe, while your Islam is gifted?”

“First, I can say I am very luck to be Indonesian. Indonesia has been through a very long history of multiculturalism.  Turns out, many scholars believe that Indonesians are among the most open society. We have been influenced and interacting with various culture since thousand years ago. In the begining of century Hinduism and Budhism was the common religion and persisted and influenced the society for many years. Around 11th century Islam was introduced by trader from India and Arab which successfully transform almost the whole nation to Islam even until now, around 80% of our population are Moslem. At 16th century, we were colonized by Dutch as representative of European culture whose introduced Protestant and Catholic.”

“Second, and my wife used to be an exchange student back 6 years ago. For us what people said about Indonesian openness seemed to be right. We and other exchange student from Indonesia were well-known to be adapting best among other exchange student in learning language and culture. Turns out, it helped us out to communicate more about our identity and need as a Muslim. Practicing religion is one of them. When I was in Holland, it was quite difficult for me. Dutch people seemed to be critical and tent to argue anything about religion to me, while some of their highly political are very anti-Islam at that moment. But the resistance disappeared along regular communication and exposure. It takes time, but communication is really important for this. The thing is, as long as we treat people well, people will notice we are not a bad guy right? You know, once you are kind, no matter what your religion is, you are a kind person. But I think, I am also very lucky to be Indonesian, particularly Javanese that we smile a lot. I think those wanted to treat me badly or argue with me would change their mind right after seeing me smiling.”

Muti kemudian menambahkan pengalamannya di awal yang sangat berat sebagai Muslim selama setahun di Sardinia. Sebagai satu-satunya orang asing dan Muslim di Seulo desanya yang mayoritas penduduknya beragama Katolik,  dan satu-satunya Muslim di antra 50 siswa pertukaran dari 20 negara di dunia, Muti menyampaikan melalui komunikasi yang persisten akhirnya ia mampu menjawab berbagai kekhawatiran dan pertanyaan yang mampir kepadanya. Seperti ketidakpercayaan Host-Mom nya kala Muti mampu berpuasa tanpa minum sepanjang hari, hingga menjadi pusat keingintahuan dan objek fotografi teman-teman saat sedang sholat.

Kasihan juga Mathieu, tanya sedikit panjang banget jawaban yang didapatnya dan dari dua orang pula.

“Yes, I agree. It takes time. But for me, it is too hard for being a Muslim and to stay here. Too many questions and stigma arising among people only from what they heard from others. Not from what they look or understand. Even though I have been living 30 years as Parisien my family is here, my friend is here, I believe the best way for me to live peacefully is to live where the environment is supportive. As a beginner in this way of life, I need an environment which will support me. I am sure it’s not Paris. At the moment I consider Mali.  It’s hard you know, to know your origin is here but you have decided to go this way. But I take this as my jihad and hijrah to be a more complete Muslim and live peacefully.”

Diskusi kami terus bergulir. Mathieu yang bersyukur keluarg dan sahabatnya menghargai keputusannya menjadi seorang Muslim kemudian menanyakan bagaimana kondisi Muslim di Indonesia yang kami jawab apa adanya. Penerapan ajaran agama Islam di Indonesia begitu beragam dipengaruhi oleh faktor geografis, perbedaan etnis dan tradisi hingga keunikan karakter keluarga yang menurut kami menjadi faktor paling berpengaruh.

Mathieu yang kini mendedikasikan profesi arsiteknya untuk menyebarkan praktik konstruksi bangunan tanpa kayu, demi konservasi alam, bersama sebuah NGO dari Prancis di Mali menyatakan keinginannya yang sangat besar untuk dapat berkunjung ke Madinah lalu kemudian ke Indonesia. Menyaksikan implementasi kehidupan beragama Islam yang penuh keragaman. Melihat Aceh Serambi Mekah, Padang “Produsen” Ulama, dan Jogja Pusat Agama bersanding Budaya. Kami pun berpisah setelah saling bertukar kartu nama. Baik aku dan Muti, banyak sekali hikmah yang dapat kami renungi dari pertemuan ini. Melihat kesungguhan Mathieu untuk hijrah ke Mali sebagai jihad nya mendalami Islam, sungguh beruntung kita yang terlahir di Indonesia dan dianugerahi kesempatan menjadi muslim sejak lahir.

“Aku pakai jilbab seterusnya ya setelah ini Mas. Kita beruntung sekali lahir sebagai muslim dan tinggal di Indonesia yang kondusif untuk hidup beragama.”

 ”Iya Yang, karena gifted kita jadi masih superfisial banget dan masih harus terus belajar. Aku pengen kita minimal bisa umrah sebelum dapat sekolah di luar negeri lagi. Mas bakal cari jalan supaya kita bisa ke Mekkah dan Madinah sebelum lihat Paris lagi.”

Hari terakhir ini kami menggenapi liburan kami di Paris dengan mengunjungi dan menyempatkan shalat tahiatul masjid di La Grande Mosquee de Paris. Masjid terbesar dan tertua di kota Paris ini semula didirikan sebagai penghargaan kepada legiun Muslim yang berperang untuk Prancis pada perang dunia pertama dan kedua. Masjid ini juga menjadi saksi sejarah umat Muslim Paris melindungi umat Yahudi dari ancaman pasukan Aliansi pada perang dunia kedua. Saat itu masjid ini mengeluarkan akta lahir Muslim kepada para warga Yahudi demi menghindari kejaran tentara aliansi. Kini selain terus berfungsi sebagai pusat peribadatan dan berlokasinya  Institut Musulman. Meski sayang tidak banyak muslim Indonesia yang mengetahui,  masjid ini menjadi salah satu daftar bangunan bersejarah di Paris. Melihat sejaraha dan aktivitas umat Muslim Paris di La Grande Mosquee de Paris ini setelah berhari-hari dimanjakan kemegahan konservasi budaya Eropa abad pertengahan, di tengah pemerintahan sekuler yang tidak akomodatif terhadap para pemeluk agama, seolah Allah mengingatkan kami, di manapun kita berada, Islam bukan sekedar agama tapi jalan hidup dan rahmat untuk semesta.

Paris, Manis.

This slideshow requires JavaScript.

 

Paris Manis, 2

Avril 2010

Sepuluh menit sebelum pukul delapan malam, aku tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Seperti akhir pekan sebelum-sebelumnya, inilah momenku menjemput rizki ke luar kota. -Senin sampai Jumat kuliah, Sabtu dan Minggu cari nafkah-. Dua tahun terakhir ini giat kutekuni sebuah usaha marketing bisnis berbasis pengisian pulsa pribadi bersama ratusan partner-member di beberapa kota, Jakarta salah satunya. Sembari kuliah, hari Senin sampai Jumat aku mengembangkan di Jogja sementara Sabtu dan Minggu saatnya bergantian menggarap pasar luar kota. Bandung, Surabaya, Madura, Magelang, Semarang, Jakarta dan beberapa kota lainnya.

Sering bepergian keluar kota seorang diri, memperhatikan orang-orang di sekeliling hingga berkenalan dengan penumpang sebelah menjadi kebiasaan baru. Banyak di antara mereka kemudian menjadi rekan bicara menarik sepanjang perjalanan. Dari sini banyak hal tak terduga kemudian terjadi. Seringkali di tengah perbincangan terungkap bahwa lawan bicaraku adalah teman SD ibuku atau kawan kuliah almarhum Bapak. Pernah juga “penumpang sebelah” ini kemudian menjadi partner usaha yang sangat baik di kemudian hari. Tak terlupakan, pernah juga suatu kali aku berkenalan di kereta dengan sesama korban penipuan yang dilakukan oleh oknum yang sama. Hehehe, apes!

Malam itu pandanganku tertangkap sebuah adegan perpisahan antara seorang Mbak-mbak bule bergaya Parisien dengan sebuah keluarga Indonesia. Mereka tampak begitu akrab. “Mbak ini pasti bukan turis biasa, mungkin dia mahasiswa pertukaran atau sejenisnya,” pikirku sejenak.

Ting nong ning nong.. ting nong neng nong..”. Rangkaian kereta Taksaka jurusan Yogya – Jakarta memasuki peron 3, sekejap aku tidak ingat lagi apa yang barusan kulihat dan kupikirkan. Aku fokus mencari gerbong di mana kursiku berada. Saat itulah aku kembali melihat Mbak bule bergaya Parisien tadi memasuki gerbong yang sama. Wah, ada yang aneh pikirku. Aku pun membatin, kalau sampai dia duduk di sebelahku, akan kuajak ngobrol sekalian praktek Prancis. Dugaanku tidak sepenuhnya benar, tapi kami masih duduk di nomor baris bangku yang sama hanya terpisah aisle.

“Excusée-moi, vous parlez Francaise Mademoiselle?!” uwislah, kepalang tanggung. Itung-itung sinau Prancis mumpung ana native, pikirku.

“Ah oui, vous parlez aussi? Comment pourriez-vous parler le français?”

“Ou, no no no, pardon. A.. a..I don’t really speak French. I was just wondering if you were French. I just started learning French at LIPCentre Culturel Français..” aku ngeles sambil gelagepan. Sumpah ngomonge Prancis buanter nemen, ora nanggep babar blas.

“Ah, d’accord.. No problemLouisa“.

Kami kemudian saling memperkenalkan diri. Rupanya betul tebakanku kalau Louisa seorang Parisien. Aku bandingkan gaya berpakaiannya yang seperti mbak-mbak asal Paris, yang terkesan asal-berbanding terbalik dengan image Paris sebagai kota desain, seperti yang terdapat di buku les Prancis.

Sudah tiga bulan Louisa tinggal untuk mempelajari batik di Jogja. Selepas menyelesaikan sekolah designer Louisa memutuskan untuk mempelajari batik di Jogja. Indonesia menjadi pilihannya karena ia dan keluarganya sudah cukup akrab dengan budaya Indonesia. Di Jogja Louisa tinggal bersama keluarga Bapak Iskandar, ayah Pak Iskandar adalah kawan lama kakeknya, di daerah Imogiri. Malam ini ia berencana ke Bogor mengunjungi Leo pacarnya yang sedang mempelajari ragam botani khas iklim tropis sekaligus bekerja magang di Kebun Raya Bogor. Seperti Louisa, Leo yang berasal dari Lyon pun sudah jatuh hati kepada Indonesia. Leo berharap dapat melanjutkan pendidikan masternya di Fakultas Biologi UGM.

“You can stay over with my parents in Paris,” responnya di luar dugaanku, ketika aku menceritakan rencanaku mengajak Mama ke Belanda dan singgah di Paris. Aku yang tadinya tidak mengira, jadi ngarep. Kebetulan sekali bulan Juni nanti, aku, Zul dan Greta akan mengikuti 17th International Students Conference of Medical Sciences di Groningen. Bertepatan dengan promosi tiket dari Garuda, buy one get one free, cita-cita menunjukkan Eropa pada Mama pun kesampaian. Rencananya Mama akan kuajak mengunjungi Paris dan Amsterdam selama seminggu. Bagai mendapat durian runtuh, malam ini aku mendapat tawaran berkunjung dari seorang Parisien yang baru kukenal.

6 Juin 2012

“Louisa has not checked her email lately. I am Martha, Louisa’s mother. If you are still in Paris, you are most welcome to stay at ours. We live at..”

Kami sudah check-in ke hotel yang kami pesan untuk bermalam selama tiga hari di Paris ketika sebuah sms kuterima dari seseorang bernama Martha. Hari itu juga dibantu Nadia, sepupuku yang sedang mengikuti program pertukaran pelajar AFS di Prancis kami mencari alamat yang diberikan. Rue de Lappe, sebuah jalan di daerah Bastille yang memiliki sejarah panjang dan telah eksis sejak tahun 1600.

Menurut sejarah yang Martha ceritakan pada kami di kemudian hari, Rue de Lappe memiliki sejarah panjang yang sangat menarik. Di masa revolusi industri, jalan yang terletak tidak jauh dari stasiun kereta Gare de Lyon ini menjadi tempat dinamis bertemunya para pelaku industri. Di jalan ini terdapat beberapa toko yang menjual belt conveyor bekas yang diminati para pelaku home industry di beberapa daerah di luar Paris. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, para pelaku industri di daerah ini tidak menyia-nyiakan kunjungannya ke Rue de Lappe, usai membeli machine belt untuk menjalankan mesin di pabriknya mereka juga mampir ke Bal. Bal adalah arena dansa public, sebuah bentuk hiburan yang sangat marak dan digemari di masa itu. Pada sebuah Bal biasanya dapat ditemui para wanita penari yang menawarkan jasa berdansa sekaligus teman minum. Sejak saat itu Rue de Lappe terkenal akan eksistensi hingga belasan bal di sepanjang jalan. Seiring berubahnya zaman, permintaan akan bentuk ajang hiburan dan sosialisasi pun berubah kini Rue de Lappe lebih dipenuhi oleh bar dan kafe-kafe di mana pengunjung cukup duduk dan memesan minuman. Meski begitu hingga kini masih tersisa satu Bal, Balajo dari kata Bal à Jo, yang masih terus membuka bisnisnya sekaligus menggelar pertunjukan.

Setibanya di kediaman Martha dan suaminya, Pierre, kami langsung dijamu makan siang. Martha meminta maaf karena Louisa tidak terus memantau rencana kedatangan kami karena ia dan Leo beberapa waktu terakhir memilih tinggal di desa tanpa akses internet. Hari itu kami tidak langsung menginap di sana tetapi berjanji keesokan harinya akan segera pindah ke sana. Saat itu juga di luar dugaan kami Martha membekali salah satu kunci rumahnya pada kami.

“This house has a unique system. You don’t need any normal key. What you need is just to remember the code that I will give you and swab this magic little thing over a green light outside the glassed door.” Martha menjelaskan kinerja sistem akses rumahnya yang serba otomatis.

“You keep it now so that tomorrow you can just come in anytime you want, okay?”  Aku begitu takjub dengan sikap Martha yang begitu percaya pada kami yang baru dikenalnya. Ia memberikan kunci rumahnya hari ini bukan besok meski tahu malam ini kami masih akan menginap di hotel untuk satu malam. Baru kali ini kami saling bertemu namun Martha begitu mempercayakan rumahnya sepenuhnya pada kami.

One more thing, which is very important, if you are hungry you can find and use everything in the kitchen. You can take anything you want out of the fridge and if you want to cook tomorrow, no problem. These are all yours. So, take as if this home yours,” kami cuma bisa melongo.

Hari berikutnya kami diajak Martha ke Marché Aligré dan menjamu kami makan malam. Saat itu Martha menunjukkan pada kami buku mewarnai milik Louisa yang berbahasa Indonesia karena mereka sekeluarga begitu sering mengunjungi Indonesia, berkat ayahnya yang banyak bekerja untuk pemerintah Indonesia. Hari ketiga di Paris Martha mengantar kami berfoto di depan La Tour Eiffel. Martha hanya geleng-geleng kepala melihat kesuksesan Mama menego harga dengan para penjual souvenir di sekitar La Tour Eiffel. Bahkan dua tahun kemudian pengalaman itu masih membekas di ingatannya. Ia kemudian melepas kami di Gare du Nord menuju kembali ke Belanda.

Mercredi, 9 Avril 2012

“Hei, Fadjar!!! You remember the house?!” sapa Martha tiba-tiba dari balik pintu.

“Hi Martha, how are you?! This is Muti..”

“Nice to see you again. Come on, get in, get in!”

Usai menempuh perjalanan lima jam dengan Eurolines dari Brussels, siang ini kami tiba di Paris. Melanjutkan daftar honeymoon trip sekaligus silaturahmi kami selama di Eropa, kali ini kami akan tinggal di rumah Martha. Enam hari lima malam rencananya.

“Anytime you are in Paris, this is your house..” Aku hampir tidak percaya dengan apa yang Martha ucapkan dua tahun yang lalu, ketika kami akan meninggalkan rumahnya. Hanya dua hari satu malam kami bermalam di rumahnya, baru kali itu pula kami saling mengenal, namun sambutan Martha begitu tulus dan penuh kepercayaan. Dalam hati aku berdoa, ya Allah semoga aku segera laku dan bisa kembali lagi ke sini membawa istri.

Ucapannya bukan isapan jempol belaka, alhamdulillah, kurang dari dua tahun kemudian aku dapat kembali ke rumah ini bersama seorang istri, Muti. Di email balasannya Martha mengungkapkan ketidaksabarannya untuk bertemu denganku dan Muti. Ia begitu terkejut bahwa aku telah berada di Eropa lagi dan kini dengan seorang istri. “I cant’ wait to hear the story!”

Lima hari ke depan kami sudah siap dengan segudang hasil riset Muti di internet mengenai tempat-tempat yang akan kami kunjungi di Paris. Tiga hari terakhir Muti sudah mendedikasikan waktu melakukan riset yang salah satunya bersumber dari sebuah artikel “Ten Things to Do in Paris” dari TIMES Magazine.

Hari pertama aku mengira Muti ingin segera menyaksikan simbol-simbol ke-Paris-an bagi umumnya WNI dan banyak warga asia lainnya yang berkunjung ke Paris. Rupanya dugaanku salah besar, bukan La Tour Eiffel, L’Arc du Triomph, Le Louvre, atau Notre Dame. Muti menunjukkan Cinematheque Français adalah kunjungan pertama kami sekaligus akan menonto sebuah film karya Tim Burton. Dasar katrok, aku kira ini bakalan jadi film romantis, salahku sendiri tidak mengerti dunia film dan siapa Tim Burton. Alhasil sore itu menjadi sangat seru dengan Sleepy Hollow yang kami tonton. Mengendurkan otot-otot sejenak di perjalanan pulang kami berbelok menyebrangi sungai Seine dan meregangkan otot berenang di Piscine Josephine Barker yang mengapung di atas Sungai Seine.

Belum ke Paris kalau belum ke covered market nya. Selain ke museum, gedung bersejarah, cafe, dan restaurant, pasar adalah tempat yang harus dikunjungi untuk merasakan atmosfer kehidupan kota Paris seutuhnya. Di sinilah kita merasakan salah satu interaksi sosial paling mendasar yaitu transaksi jual beli di kalangan Parisien yang multietnis. Di hari ketiga kami memulai hari memenuhi ajakan berbelanja bersama Martha di Marché Aligré. Kami mempersiapkan hidangan makan malam Indonesia untuk malam Minggu besok.

Dari marché Aligré kami berturut-turut mengunjungi Sacre Coueur di Montmartre. Bertepatan dengan misa Paskah yang diadakan hari itu Sacre Coeur dibanjiri umat Katolik dari berbagai bangsa, nuansa spiritual begitu kental terasa meski volume manusia begitu padat suasana tetap kondusif dan berlangsung teratur.

Berjalan kaki menuruni lereng Montmartre, Galerie La Fayette, Jardin Tullerie dan Museé du Louvre menjadi pemberhentian selanjutnya.

Magnifique, kesan yang kami dapat dari museum terbesar di dunia ini. Dibangun selama hampir enam ratus tahun, museum Louvre kini memuat  . Kami berhasil “menuntaskan” museum yang terdiri dari tiga bagian utama Richelieu, Sully dan Denon ini dalam waktu lima jam meski idealnya dikatakan membutuhkan waktu empat bulan untuk menikmati seluruh koleksi museum. Selain beberapa koleksi terkenal seperti Monalisa, Winged Victory of Samothrace, Seasons, eksposisi dari koleksi peninggalan peradaban Mesopotamia begitu menarik perhatian kami. Beberapa waktu kami sempatkan untuk membaca kode Hammurabi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Begitu dalamnya pemikiran seorang Hammurabi dalam bidang hukum di masa itu, dua ribu tahun sebelum masehi.

Hari keempat Martha mengajak kami melihat keselurahan negeri Prancis dengan mengunjungi Miniature Francaise, sebuah taman berisikan miniature bangunan-banguna bersejarah di seluruh Prancis. Sorenya sesuai proposal kami, kami menyiapkan dine à l’Indonesie dengan Soto Madura, Rendang Sapi, dan Terong Balado serta Perkedel Daging sebagai menunya.

Fadjar, Muti we are thinking that you may stay longer. You have the key, there are still some food in the fridge, so feel free when we are not there,” Martha dan Pierre mempersilakan kami tinggal lebih lama sekaligus mempasrahkan rumahnya pada kami berdua. Awalnya kami hanya bisa tinggal sampai Senin pagi karena mereka berdua akan berlibur ke daerah Prancis selatan bersama sahabat mereka. Rupanya anak dari sahabat mereka ini, Mathieu, mulai hari Minggu akan menginap juga di rumah ini selama tiga hari. Mathieu perlu menyelesaikan beberapa urusan di Paris dan menemui beberapa temannya yang lama tidak ditemui sejak tinggal di Mali. Tiga hari ekstra di Paris, kami tidak kuasa menolaknya.

Aku selalu bertanya-tanya, apa yang membuat Martha dan keluarganya begitu baik terhadapku dan Muti, bahkan sejak pertama kali aku datang bersama Mama, Zul dan Greta dua tahun lalu tahu  mempercayai kami dan begitu memiliki memori kuat tentang Indonesia. Dulu ia sempat bercerita bahwa ayahnya pernah bekerja di Indonesia dan memiliki banyak teman orang Indonesia.

My father was a professor in economy from MIT. He used to work for Indonesian government to work together with Indonesian economy expert to set up Indonesian economy and arranging program to make Indonesian student being able to study in MIT and some other universities in America,” Martha menceritakan bagaimana mulanya keluarganya memiliki hubungan yang begitu dekat dengan Indonesia. Ayahnya, William Hollinger adalah seorang ahli ekonomi yang diminta membantu Prof. Widjojo Nitisastro dan Tim Ekonomi mafia Barkeley untuk menyiapkan pembangunan ekonomi Indonesia termasuk pendirian Bappenas. Ia juga sempat mengajar di Fakultas Ekonomi UI. Pertama kali datang ke Indonesia pada 1950, sang ayah kemudian mengajaknya tinggal beberapa tahun di Indonesia pada 1954 setelah menempuh perjalanan laut selama empat bulan dari Amerika termasuk transit dua minggu di Inggris Raya. Sejak saat itu ia dan keluarganya begitu akrab dengan Indonesia dan selalu merasa dekat dengan setiap orang Indonesia yang dikenalnya.

Kembali ke kunjungan kami di kota Paris. Paris is so romantic in the rain. Banyak yang mempercayai hal ini, termasuk yang diungkapkan oleh sebuah film berjudul Midnight in Paris. Meski tidak khusus meminta, kami beruntung hujan senantiasa turun setiap kali kami mencapai objek yang kami tuju. Di hari kelima, Senin, kami memutuskan untuk naik ke level  3, level puncak dari La Tour Eiffel. Sejak hari kedatangan kami mengamati masa mengantri yang paling sepi, tapi tidak ada tanda-tanda Eiffel beranjak sepi karena bertepatan musim liburan. Setelah mengantri hampir empat jam akibat hanya satu elevator yang berfungsi akhirnya kami naik pada pukul dua siang. Kurang dari lima menit sejak kami tiba di puncak, hujan turun membasahi Paris, menyisakan seribuan pengunjung yang masih rela mengantri di bawah.

Hari berikutnya, Selasa, saat kami mengunjungi Musee d’Orsay, museum yang sebelumnya berfungsi sebagai station hingga tahun 1939, hal yang sama terjadi. Setelah berada dalam antrian yang mengular selama dua jam, hujan turun tepat saat kami dan menyimpan berbagai koleksi ternama seperti Opera Garnier, The Dance, Ophelia, juga karya dari pelukis dan perupa terkenal sebut saja, van Gogh, Rembrandt.

Hari Rabu, sehari sebelum hari kepulangan kami sekali lagi menikmati pemandangan keseluruhan kota Paris dari atas Montmartre tepat di depan Sacre Coueur. Mengikuti anjuran Xin dan Thomas, sahabat Muti saat di APU yang kini berdomisili di Prancisdan kami undang makan malam di malam sebelumnya, kami mencoba hidangan makan siang di salah satu restaurant legendaries di Paris yang berdiri sejak 1886, Chartier. Restaurant bergaya Eropa klasik ini menyajikan hidangan kuliner Prancis rumahan. “They will exactly serve what your Mom would serve at home”, meniru Thomas yang begitu menganjurkan kami makan di situ. City Tour kami tutup dengan menelusuri Seine bersama Vedette Bateaux yang kami ambil dari  La Tour Eiffel.

Semoga nanti pas hujan,” harap Muti saat masih di Chartier. “Tapi masih terang gini Yang,” jawabku. Melihat langit yang sejak pagi cerah, bahkan saat kami melintasi Trocadero menuju tempat berlabuh kapal di bawah kaki La Tour Eiffel, rasanya hampir tidak ada peluang untuk hujan hari ini. Baru, kapal berjalan dua menit langit tiba-tiba berawan. “Hahaha, rejeki kamu Yang,” kataku. Hujan pun kembali membasahi Paris, menemani kami menelusuri La Seine rivière.

Indeed, Paris is so romantic in the rain. 

This slideshow requires JavaScript.

Paris Manis, 1

Mardi, 27 March 2012

“Wih, mirip banget ya Wowok sama Oom Udji. Kalo Edo kan mirip Bapake, Oom Sophie, iki si Wowok mirip karo Oom Udij. Wis jan, ora ngapusi Dik Muti, bisa mirip nemen si yaak,” seru Mbak Nunuk saat memasuki ruangan tempat aku menjalani internship di CRED (Center for Research on Epidemiology of Disaster). Kumplit dengan logat khas Brebes nya yang kental dan tertib qolqolah kubro’. Terakhir kali aku dan Muti bertemu Mbak Nunuk adalah di hari pernikahan kami Agustus lalu. Menurut Mbak Nunuk, tongkronganku sekarang sangat mirip dengan Oom Udji, adik nomor sebelas almarhum Bapak. Kami tidak mengira, selang beberapa hari kemudian seruan Mbak Nunuk ini ternyata merupakan sebuah pertanda kebetulan manis di Paris.

Jeudi, 10 Avril 2012

“Oke, cakep deh.. Yuk jalan lagi!” ujarku sambil memasukkan kembali kamera ke dalam tas.

“Yang, bener kan kubilang, pasti ketemu orang Indonesia!” seruku penuh yakin.

“Mana, koq tau?” sahut Muti cepat.

“Tadi kefoto di belakang kamu..”

Ih kamu terus kenapa kalau orang Indonesia.. Awas, kualat lho nanti.” Jauh-jauh hari sebelumnya aku sudah “mewanti-wanti” Muti, kalau di Paris pasti akan ketemu orang Indonesia. Bukan apa-apa, setiap kali aku berada di Paris, aku sering terkejut dengan begitu seringnya bertemu sesama orang, seringnya dalam sebuah rombongan dari Indonesia. Pertemuan-pertemuan ini biasanya menyimpan cerita menarik di baliknya. Salah satu pengalaman menarik, saat pertama kali tiba di Paris tujuh tahun lalu tidak sengaja aku bertemu dengan Pak Arif Rahman pakar pendidikan Indonesia yang saat itu sedang menghadiri konferensi UNESCO di Paris. Empat bulan sebelumnya, Pak Arif Rahman baru saja memberikan training kepada kami para siswa pertukaran pelajar Bina ANtarbudaya di orientation camp yang kami ikuti selama seminggu di Taman Mini. Mengetahui aku seorang siswa program AFS yang juga pernah beliau ikuti semasa SMA, beliau mengajakku berbincang-bincang dan bertukar kabar. Di akhir perbincangan beliau meninggalkan pesan sekaligus salam tempel, “Nih, untuk beli Coca Cola. Bawa selalu nama baik Indonesia!” Sejak saat itu selalu saja ada pertemuan menarik dengan sesama warga Indonesia setiap kali berada di Paris.

Belum jauh kami melangkah meninggalkan tempat kuambil foto Muti di depan gerbang istana Versailles tadi, langkahku terhenti. Tampak, serombongan bapak ibu berwajah khas Indonesia sedang berpose di depan kompleks istana Versailles. Mau tidak mau aku dan Muti beririsan jalur dengan rombongan Indonesia tadi yang sama-sama menuju entreé  Le château de Versaille. Tiga wajah di antaranya terasa begitu familiar bagiku, menangkap telak pandanganku.

“Yang, Allah bercanda lagi coba Yang..”

“kenapa Mas?”

“Lihat itu siapa di dalam rombongan Indonesia yang Mas bilang tadi..” kuarahkan kepalaku memancing pandangan Muti ke tiga sosok yang sedang aku fokuskan. Masih setengah tidak percaya dengan sosok yang aku lihat, aku bilang kalau Allah bercanda. Maksudku Allah yang tidak mungkin bercanda dengan makhluk-Nya, untuk ke sekian kalinya menunjukkan kuasa-Nya kepada kami berdua. Bagaimana Dia bisa mengatur segala sesuatu tanpa bisa lagi akal sehat kami dengan sederhana mencernanya. Cukup meyakininya.

“Heh? kayak Tante Retno??!”

“Iya kan, terus itu Dik Laras sebelahnya. Nah, itu Oom Udjie lagi ambil foto!”

Aku tak bisa lagi bersuara untuk memanggil. Hanya melambaikan tangan sambil melempar senyum dengan lebar jarak optimal khas keluarga kami. Alhamdulillah, keluarga kami dianugerahi cukup keunggulan dalam bidang senyum. Selain sumeh, setiap kami senyum, barisan gigi kami akan serentak maju tanpa ampun. Desakan barisan gigi ini bahkan tak tertahankan lagi oleh kedua belah bibir. Dalam berbagai foto keluarga kami, semuanya pasti kelihatan gigi, bahkan gusi. Anugerah herediter ini sangat membantu kami untuk mengenali sesama anggota keluarga secara anthropologis, juga memperlancar rizki kami. Dengan konstruksi anatomi gigi seperti ini, kami menjadi mudah disenangi atasan, guru, dosen, klien dan pasien. Meski begitu, anugerah ini juga beronsekuensi logis membuat kami jadi sering haus karena gigi dan gusi yang tiada henti diterpa angin, terutama saat berada di belahan bumi sub-tropik seperti di Eropa atau saat menjalani ibadah umrah dan haki di Saudi.

“Loh, Mas? Kapan sampai? Minta maaf, Oom kemarin ndak sempat kabar-kabar. Eh, malah ketemu di sini, MasyaAllah.”

Aku spontan langsung memeluk Oom Udji yang di hari pernikahanku dan Muti menjadi pimpinan rombongan pihak keluarga temanten pria. Kami lalu bertukar cerita bagaimana kami masing-masing tiba di Versailles hari ini dan tanpa rencana dan komunikasi malah dapat berjumpa dengan Tante Retno, Dik Laras dan Oom Udjie. Rupanya Oom Uji sudah tiga hari di Paris dan ini adalah hari tur terakhirnya sebelum kemabli ke Semarang besok pagi. Sebelumnya selama tiga hari Oom Udji mengikuti konferensi infectious disease di London. Karena padatnya acara dan merasa sulit untuk dapat mengatur waktu untuk bertemu, Oom Udji tidak sempat memberi kami kabar mengenai lawatan ke Eropa nya kali ini.

Setahun terakhir sudah dua kali Oom Udji sekeluarga ke Eropa. Pada kunjungan yang pertama September lalu, Tante Retno sempat mampir menengok kami ke Brussels. Kesempatan wira-wiri ke luar negeri, buat Oom Udjie bukan serta merta datang sendiri.

“Pertama kali Oom ke luar negeri baru tahun 2004 Mas, sudah usia, tidak seperti Mas Wowok dan Mbak Muti.. Eh, tapi setelah itu koq malah pergi terus..”

“Kalau kita banyak membuka jalan untuk orang lain, banyak jalan terbuka untuk kita Mas. Dan semua dimulai dari bawah Mas..,” pesan Oom Udjie yang kuamini sepenuh hati. Dua tahun yang lalu ketika dalam lima bulan aku harus melakukan tiga kali kunjungan ke Eropa, pinjaman dana dari Oom Udjie sempat menjadi jalan pembuka untukku sebelum kemudian aku dapat dukungan dari berbagai pihak seperti Dirjen Dikti, Garuda Indonesia, dan fakultas.

Kedekatanku dengan Oom Udji dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya mungkin karena tanggal lahir Bapak dan Oom Udji hanya terpaut 1 hari, 18 dan 19 Maret. Berikutnya, almarhum Bapak sempat “menitipkanku” pada Oom Udji. Melihat kesuksesan Oom Udji sebagai dokter dan pengalaman Bapak pernah bekerja menjadi detailer obat semasa kuliah, seminggu sebelum wafatnya, almarhum Bapak seolah berwasiat agar aku diarahkan menjadi dokter. Sejak saat itu aku makin dekat dan sering berkomunikasi dengan Oom Udji mulai dari masalah kedokteran hingga rencana masa depan. Kebetulan saat aku menempuh kuliah S1 di FK UGM, Oom Udji sedang menyelesaikan disertasi doktoralnya. Setiap hari Jumat kami makan siang dan sholat Jumat bersama, kesempatan berharga bagiku mendengar kisah dan pengalaman beliau sewaktu muda yang sangat memotivasi. Selain kemiripan fisik, kami juga memiliki kesamaan nasib, menjadi yatim di usia remaja.

“Dulu, Oom ketua kelas di Muhi mas. Suatu hari Oom ditugasi untuk mengumpulkan sumbangan dalam rangka membantu teman seangkatan Oom yang ayahnya baru meninggal. Oom Udji spontan saja bilang ke teman-teman, ayah saya juga meninggal! Lalu kawan-kawan mengumpulkan sumbangan untuk oom. Oom kan tidak bohong Mas, Mbah Opo (Sofro) meninggal waktuOom kelas 3 SMP di Pemalang. Kemudian setelah uang terkumpul ada yang tanya, kapan meninggalnya. Oom jawab saja dengan jujur, tahun lalu. Eh, uangnya semua malah diambil kembali, kasihan ya. Padahal dulu Oom tidak dapat sumbangan waktu Eyang meninggal dan waktu hidup Oom hidup prihatin nunut pakde.”

Antara ingin menangis dan tertawa aku mendengar cerita ini. Tapi cerita ini selalu aku ingat sebagai pelajaran hidup, bahwa menjadi yatim bukan akhir segalanya. Keyatiman adalah salah satu cara Tuhan memandirikan seseorang lebih cepat. Kisah motivatif Oom udjie lainnya adalah semasa mahasiwa Oom Udji menghadiri acara pernikahan di Surabaya bersama Pakde Salam dan keluarga. Karena tidak ada pilihan transportasi lain, Oom Udji harus rela kulitnya nglotok karena kehujanan dan kepanasan demi menempuh perjalanan Jogja-Surabaya di bak belakang pick up.

Usai memasuki setiap sudut Versailles dan bagian tamannya kami bergabung makan siang dengan Oom Udjie dan rombongan para dokter ahli penyakit menular dari berbagai RS dan universitas di Indonesia. Usai makan siang giliran Oom Udjie sekeluarga yang memisahkan diri dari rombongan dan bergabung bersamaku dan Muti dengan kereta RER menuju pusat kota Paris dan berhenti di Station St.Michelle – Notre Dame. Kami kemudian menelusuri sungai Seine dimulai dari Fountain St. Michele, Cathédrale Notre Dame, hingga melihat pemandangan kota Paris dari puncak salah satu gedung paling penting untuk umat islam dan warga keturuna Arab di Prancis, Institut Monde de Arab. Melewati Love-lock bridge Pont de l’Archevêché, Oom Udjie dan Tante Retno menyempatkan memasang “gembok cinta” di salah satu jembatan paling fenomenal di Paris tersebut. Melihat aksi oom dan tante, satu sama lain, hati kami serasa ikut saling terkunci. Paris, Manis.

Prof Claire’s Trip to Indonesia

31 Januari 2012

“Hey, I am going to Malaysia and may pass your country to see Orangutan in Borneo..!”

“Really? How long will you stay?”

“I will have an Ottawa Pedagogical Conference in Kuala Lumpur, from March 9th to 16th but I will arrive four days prior to see Orangutan in Borneo. What do you think?”

“Will you spend out all those four days visiting Orangutan only? You have enough time to visit Yogyakarta. You will see my great university and lovely city. I will arrange everything for you and ask my family and friends support to help you!”

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap keunikan dan kelangkaan Orangutan, dalam hati aku menyayangkan kalau Prof Claire yang akan terbang dari Belgia menuju Malaysia, memiliki empat hari tersisa untuk mengunjungi Indonesia tetapi hanya sempat mengunjungi Orangutan saja. Jogja hanya dua jam penerbangan lagi saja jaraknya, sementara aku dan Muti ada di sini siap membantu memfasilitasi.

Aku dikirim ke Belgia dan bisa membawa Muti serta tak lepas dari program pertukaran dengan beasiswa, saatnya kami kini mensyukuri hal ini dengan gantian mengirim Professor kami ke Indonesia.

5 Februari 2012

“Magnificent.. your wife dance was wonderful, she is wonderful!!”

Berkali-kali Prof Claire memuji penampilan Tari Pendet Muti bersama kawan-kawan lainnya. Hari ini Prof Claire menepati janjinya, ia datang menyaksikan penampilan Tari Pendet yang diiringi grup gamelan Saling Asah di perhelatan Salon des Vacances beberapa waktu lalu. Berbagai pertunjukan seni komunitas Indonesia di Belgia semakin membuatnya bersemangat dan penasaran ingin segera tiba di Indonesia.

Berbekal peta nusantara raksasa yang terpajang di salah satu sisi stand Indonesia, aku menjelaskan satu per satu informasi mengenai keunikan dan keragaman Indonesia. Mulai dari luas wilayahnya, tiga zona waktunya, keragaman budaya dan bahasanya, hingga terkhir kuceritakan semua yang ada di kepala tentang Jogja.

“Definitely, I am going to Yogyakarta,” balasnya dengan mantap.

4 Maret 2012

Minggu siang setelah melalui transit di Istanbul dan Kuala Lumpur Prof Claire tibadi Jogja. Di bandara Adi Sucipto, Mama yang kebetulan sedang dinas ke Jogja menjemputnya dan langsung membawanya ke komplek Kraton Yogyakarta. Dalam tiga jam saja Prof Claire sudah menelusuri Kraton Jogja, Pasar Beringhardjo, menyaksikan pembuatan Batik hingga memborong berbagai macam oleh-oleh seperti tiga buah lukisan, aneka produk batik dan souvenir khas Jogja lainnya. Dibantu Mama, beliau memesan perjalanan dua hari satu malam untuk menyaksikan keindahan fajar menyingsing di kawah Bromo. Mengikuti pesanku, tidak lupa beliau dengan gembira menyempatkan diri merasakan empuknya tunggangan becak Jogja, sebelum akhirnya meletakkan semua barang bawaannya di tempatnya menginap, Hotel Mutiara.

Sejak semula kami ingin memberi optimum exposure kepada Prof Claire dalam kunjungan selama empat hari nya di Indonesia. Seizin Pakde dan Bude Salam dua minggu sebelumnya, malam ini agenda Prof Claire adalah makan malam bersama keluarga Pakde dan Bude di mana aku pernah ikut tinggal bersama, di kawasan Umbulharjo Yogyakarta.

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, kami tidak ingin menyiakan sedikitpun kesempatan beliau di Jogja. Sebisa mungkin beliau hami harap dapat bertemu dengan sosok yang menurut kami dapat saling memberi manfaat di masa yang akan datang. Prof Claire kami undang makan malam bersama dan berjumpa dengan Pakde Salam yang saat ini diberi amanah sebagai pimpinan Universitas Yarsi, juga Mas Ardian dan Oom Dirwan, yang memegang amanah di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammdiyah. Secara kebetulan pula ketiganya adalah alumni Fakultas Kedokteran UGM. Dalam satu makan malam saja Prof Claire telah mendapat overview dari tiga universitas dan fakultas kedokteran yang berbeda di Indonesia.

Sepanjang makan malam yang gayeng penuh keakraban yang diramaikan juga oleh putra-putra Pakde dan Bude beserta keluarganya masing-masing, Prof Claire begitu takjub akhirnya mimpinya kesampaian, merasakan buah-buahan tropis. Manggis, salak pondoh, buah naga pun dicicipinya. Dengan hidangan utama y sop ayam, ayam Code, dan bakmi Pak Pele alun-alun utara kegemaran almarhum Bapak. Malam itu Prof Claire benar-benar merasakan nikmatnya jadi orang Jawa!

5 Maret 2011

Hari ini juga, tiga institusi Prof Claire datangi. Pagi  Fakultas Kedokteran UMY. Siang Fakultas Kedokteran UGM. Sore Kantor Urusan Internasional (KUI) UGM. Sebelumnya sebagai keyword aku sudah mempromosikan kepada Prof Claire bahwa UMY memiliki summer course dalam bidang tropical medicine yang sukses diadakan setiap tahun. Begitu juga summer course on natural disaster management yang setiap tahun dikelola oleh FK UGM kupromosikan sebagai jembatan penghubung diskusi beliau dengan segenap pimpinan FK yang kebetulan hari itu semua berkumpul di kampus memperingati hari ulang tahun UGM. Harapan jangka dekat adalah kelak mahasiswa kedokteran di Université catholique de Louvain (UCL) tempatku belajar saat ini berbondong-bondong datang mengikuti summer course di Jogja. Jangka panjangnya semoga menjadi kontribusi untuk meningkatkan kerjasama strategis antara institusi pendidikan tinggi di Indonesia dengan Belgia khususnya dan Eropa.

Kunjungan beliau ke FK UGM tidak lepas dari dukungan aktif Mas Abe dan Mas Heru dari KUI UGM yang berkenan menyediakan waktu menyiapkan penyambutan kedatangan beliau di UGM. Aku dan Muti berusaha menyusun itinerary Prof Claire ke Jogja dan UGM ini tidak lepas dari inspirasi oleh success story Pak Gde dari ITB yang dengan inisiatifnya berhasil menciptakan sustainabilitas kerjasama Universitas Gent dalam menyelenggarakan beasisa Erasmus Lotus yang salah satunya berpartner dengan institusi asal beliau, ITB.

Lewat inisiatifnya, beliau berhasil menjaga kontinuitas pengiriman mahasiwa ITB dalam jumlah signifikan tiap tahunnya untuk memobilisasi staaf dan mahasiswa ITB ke UniGhent dan university partner lainnya di Eropa dalam skema program beasiswa Erasmus Mundus. kami mengharapkan begitu juga dengan sustainabilitas hubungan kerjasama antara UGM dengan UCL dan semoga dapat diikuti oleh UMY sebagaimana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) juga telah aktif menjadi partner university untuk program MOVER Mundus.

Sore itu juga didampingi Noor dari HI UGM Prof Claire menyaksikan dari dekat kecantikan Candi Prambanan dan melanjutkan hari yang tersisa menikmati sendratari Ramayana di Purawisata. Keesokan harinya perjalan Bromo selama dua hari satu malam pun ditempuh demi mewujudkan impian lainnya.

“Do you think I can get there and ride those pony’s..?!!” tanyanya penuh antusias padaku dan Muti usai melihat foto dari  sahabat kami Fransesca Ken yang dipajang di Bibliotheque Centrale Faculte UCL beberapa hari sebelumnyaDi foto berudul Horse-man itu tampak beberapa ekor kuda dengan pemandunya di kawasan kawah Bromo. Prof Claire begitu terobsesi untuk mewujudkan apa yang dilihatnya.

“Magnificent sunrise over Bromo volcanoes after climb in the dark, great poney ride, awesome fuming caldera..” pesan singkat dari Prof Claire setelah berhasil mewujudkan mimpi yang jadi pertanyannya beberapa hari yang lalu.

Harus kuakui agenda perjalanan Prof Claire begitu padat. Kamis pagi beberapa jam sebelum keberangkatannya ke Kuala Lumpur ia masih menyempatkan diri menikmati matahari terbit di Borobudur.

“I had one of my best sunrise experience at Merapi volcano dust covered Borobudur..”

Sebelum Prof Claire berangkat ke Indonesia, aku dan Muti bermaksud memberikannya sebuah pengalaman perjalanan yang paripurna. Memaparkan beliau pada kekayaan khasanah alam dan budaya Indonesia. Bukan sekedar perjalanan profesional antara dua institusi yang melibatkan utusannya, tetapi juga perjalanan yang sarat pengalaman sosial dan budaya. Menyaksikan kearifan lokal dan keluhuran budi yang tumbuh harmoni dengan kemajuan sains dan teknologi, di ibukota pendidikan Indonesia, Yogyakarta.

“Thank you very much for your warm and heartfelt welcome to Yogyakarta this afternoon & evening!
I very much enjoyed visiting the Kraton complex and the Batik boutique, going in a becak, having a great excursion to Bromo, and finally meeting all your lovely and wonderful family & friends! Thank you so much again for the unforgettable and unique experiences we’re looking forward to welcoming you in Brussels”
InsyaAllah, sepertinya itulah yang dirasakannya dari beberapa e-mail dan pesan singkat yang dikirimnya. Terimakasih Mama, Pakde dan Bude sekeluarga, Oom Dirwan, Zul, Wayan, Shendy, Noor, Mas Heru, Mas Abe dan segenap pimpinan Fakultas Kedokteran UMY, Fakultas Kedokteran UGM dan Kantor Urusan Internasional UGM, telah membuat kunjungan Prof Claire yang penuh kesan menjadi nyata.
Untuk Jogja, kami berharap, meski kecil, inisiatif ini kelak bisa terduplikasi dan semakin meningkatkan geliat perkembangan dan mobilitas dunia pendidikan di Jogja.  Kalau satu mahasiswa atau peneliti Indonesia di rantau bisa “mendatangkan” seorang dosen atau koleganya, mungkin ratusan ribu mahasiswa Indonesia yang belajar di berbagai negara di dunia di masa depan bisa berkontribusi menjadi penyumbang devisa dengan cara yang berbeda. Karena mahasiswa juga merupakan duta bangsa yang potensial untuk  Indonesia, yang sebagaimana Jogja, begitu istimewa.

Dalam suatu perbincangan di KBRI Brussel Ibu Diah Wibisono pernah berpesan kepada kami, “Kita sangat beruntung mendapat kesempatan menjalani hidup di luar negeri. Mau tidak mau kita pasti menjadi duta Indonesia. Makin banyak negara yang kita kunjungi, makin besar kemungkinan kita menjadi satu-satunya orang Indonesia yang pernah ditemui oleh seseorang. Apa yang kita tunjukkan, bisa menjadi kesan seumur hidup bagi orang tersebut. Bukan cuma terhadap kita, tapi juga Indonesia.”

Belum cukup mahasiswa Jogja dan Indonesia sekedar merasa beruntung mendapat kesempatan belajar di negara-negara maju, mari tunjukkan kita juga bisa mengirim dan membuat Professor dan kolega kita merasa beruntung bisa mencicipi keistimewaan Jogja dan Indonesia.

This slideshow requires JavaScript.

WHO Internship; Jenewa di Balik Layar

16 Februari 2011

“Dua tahun lagi..”

“Setahun deh. Tahun depan. Ok?!,” tawarku.

“Ya udah, tengah-tengah, satu setengah tahun lagi,” tutup Muti seolah akhir dari negosiasi.

Di atas perahu yang mengantar kami berkeliling seputaran Pulau Tidung kami berdiskusi. Merenda masa depan bersama. Kapan kami menikah tepatnya.

28 Februari 2011

“Oh ya? Sudah daftar? semoga sukses ya! Ini Tante dulu pernah bertemu dengan seorang Bapak dari WHO saat ada conference di Bali. Mungkin Fadjar bisa coba hubungi beliau, barangkali masih ingat Tante dan bisa membantu.”

“Ludy Suryantoro,” sebuah nama Indonesia tertera di sana.

“Terima kasih Tante, nanti Fadjar coba.”

Malam itu sepulang mengantar Muti kembali dari kantor, aku mendapat dua pencerahan seketika. Pertama bertemu lagi dengan Muti setelah datang dari Jogja di sela-sela waktu yang ada, kedua diberikan kontak seseorang di WHO Headquarter  dari Sang Mama .

Esok harinya aku langsung sowan meminta petunjuk Mbah Google perihal sosok Pak Ludy Suryantoro yang mungkin menjadi pembuka jalanku menuju Jenewa. Memang Mbah Google selalu luar biasa, banyak informasi berharga tentang beliau kutemukan di sana.

6 Maret 2011

Berbekal informasi mengenai sosok Pak Ludy, aku kirim sebuah email lamaran untuk bisa magang di department-nya. Aku menjual diri, mengaitkan fokus kerja beliau dengan pengalaman dan minat yang kumiliki. Juga aku jelaskan, kalau aku juga sudah mendaftar internship ke 12 department lainnya di WHO HQ sebelum deadline 31 Januari 2011 lalu.

Hanya butuh beberapa menit saja, aku langsung mendapat email balasan darinya.

“Thank you for your email.

I am on duty travel until 8 March 2011.  For urgent matters, please contact my staff..”

Ah, automatic reply rupanya.

Satu jam kemudian, aku dapati lagi sebuah email dari alamat yang sama. Apa automatic reply lagi pikirku. Tapi masa’ dua kali?

“Fadjar, I’m in Tokyo. I’ll return to Geneva on Wednesday. You can make a letter of interest, CV, and one of you papers. Please send to my staff, she will take care everything if we might need an Intern..”

Regards,

Hari-hari berikutnya aku berkomunikasi dengan staff beliau, Katie. Bermula melalui email, diikuti beberapa kali call conference seputar peluangku untuk menjalani internship di WHO HQ, Jenewa.

17 Maret 2011

Pukul 11 malam, kudapati email konfirmasi dari Katie.

Dear Fadjar,

I am pleased to inform you that we would like to invite you to join our team as an intern this summer.
Katherine B
Alhamdulillah, doaku terkabul, lamaranku diterima. Internship selama bulan Juni hingga Agustus di markas pusat WHO di Jenewa. Matur sembah nuwun Gusti Pangeran, lagi-lagi mimpiku Engkau wujudkan. Bekerja di sebuah organisasi internasional, meskipun hanya magang. Dengan pengumuman yang tepat hanya satu jam sebelum hari berganti menjadi tanggal 18 Maret. Tanggal Almarhum Bapak 57 tahun lalu dilahirkan. Untuk Bapak, kabar baik ini kupersembahkan.
23 April 2011
23 April. Tanggal 23, bulan 4. Hari istimewa bagi kami berdua. Setelah bertahun-tahun hanya saling berkirim surat Beppu-Jogja, hari ini Muti berjumpa dengan Dik Mindar, adik bintangnya di Hoshizora. Bersama Joni, kutemani Muti menjemput nya di Kantor Hoshi-zora di Kalakijo, Pejangan, Bantul, Yogyakarta.
“Kita ke Gramedia ya, lihat-lihat buku di sana,” Muti menjelaskan tujuan perjalanan kami bersama Joni ke Kotabaru, Jogja.
“Gramedia itu apa Mbak?”
Dik Mindar hanya sesekali ke Jogja dan belum pernah mengetahui ada toko buku dan pendukung sekolah lengkap sejenis ini di Jogja. Gramedia salah satunya. Saat waktu pulang tiba, ia nampak sangat kecewa. Tanpa sepengetahuannya, Muti telah menyiapkan kejutan untuknya. Novel Negeri Lima Menara, buku 7 Keajaiban Rezeki, dan sebuah Alquran. Aku bukan penikmat sinetron, tapi melihat Muti menyerahkan buku-buku yang diam-diam dibayarnya, disambut tatapan haru tak percaya, air mataku tak tertahan juga.
Paginya, sebelum menjemput Dik Mindar di Hoshi-zora, aku meminta kesediaan Muti agar kami menikah segera. Seusainya dari Gramedia, bersama Dik Mindar yang masih turut serta, hari itu juga aku menghubungi Bude Is dan Pakde Salam sekeluarga. Aku ingin mengenalkan Muti pada beliau berdua. Sekaligus meminta restu keduanya
Pakde Salam, salah seorang kakak “terdekat” Bapak, dan Bude Is sudah seperti ayah ibuku sendiri. Dua tahun masa SMP di Jogja aku tinggal bersama mereka. Dari kecil juga aku dan Edo sudah bermain dengan Mas Dian dan Mas Didit, kedua putra beliau berdua. Alhamdulillah, hari itu juga dengan menceritakan kembali memori mereka di masa muda termasuk cerita Bapak dan Mama, Pakde dan Bude memberikan restunya. .
Beberapa hari sebelumnya, aku diberitahu Mas Heru, koordinator program beasiswa Erasmus Mundus-MAHEVA di UGM kampus tercinta, bahwa kemungkinan lamaran beasiswaku diterima. Ini berarti usai menjalani Internship WHO di Jenewa, aku harus segera berangkat ke Belgia untuk mengikuti program MAHEVA. Sepuluh bulan lamanya. Tiga belas bulan jika ditotal aku akan meninggalkan Indonesia. Bagiku, yang baru berjumpa dengan Sang Mutiara, bukan waktu yang singkat dan perkara mudah jadinya.
Kujelaskan proposalku pada Muti, sederhana, “3 bulan WHO tambah 10 bulan MAHEVA. Kalau menikah sekarang, bagaimana?”
7 Mei 2011
“Jadi hari ini saya langsung bawa pulang ke Malang. Gimana Mas Fadjar, 16 boleh ya?”, seorang Bapak bersama putranya datang hari ini dari Malang demi menawar si Joni. Mercy Tiger 2800 CC yang sangat kusayangi.
Dulu Joni kuambil dari Mas Fauzan owner kafe susu Kalimilk Jogja dalam rangka menghadiahi diriku sendiri di ulang tahun yang ke dua puluh dua. Dengan harga yang juga sudah diturunkan dari dibanding saat Mas Fauzan dari harga beli sebelumnya. Bukan untuk gaya-gayaan, hanya bentuk apreasiasi untuk diri sendiri atas perjuangan mengembangkan usaha pulsa bersama kawan-kawan. Joni kubeli karena mampu menghadirkan memori indah masa kecil dengan Bapak dan Mbah Kakung sesama penggemar Mercy.
Banyak kenangan yang diukir Joni. Mengantarku ke berbagai pelosok Jogja, juga Magelang dan Surakarta. Mengembangkan usaha pulsa yang saat itu menjadi sumber penghidupan utama.  Meskipun bukan usahaku satu-satunya, mengecer parfum, menjadi agen asuransi, jualan tas wanita, menjadi distributor Melilea, hingga mengorganisir kreasi konten kesehatan untuk Nokia, bersama Joni aku lakoni semuanya sembari kuliah di Jogja.
Dalam suatu perjalanan ke Magelang, saat kembali ke Jogja dini hari pukul tiga, Joni kehilangan penglihatannya, putus kedua lampu depannya. Beruntung dengan kegigihannya, aku dan Mas Dimas kawanku diantarnya dengan selamat kembali ke Jogja.
Hari ini dengan terpaksa Joni kulepas. Tidak sampai hati Joni kutinggal sendiri. Sementara dalam hitungan hari aku harus segera pergi. Enam belas rupiah saja, bukan dua puluh seperti tawaranku sebelumnya, atau dua puluh lima ketika aku dulu menebusnya. Tapi pengorbanan Joni tidak sia-sia, dana darinya aku jadikan modal peganganku selama di Jenewa dan sisanya untuk tambahan ongkos persiapan pernikahan hingga ke Belgia.
23 Mei 2011

Didampingi Pakde Salam, Mama, Edo dan keluargaku dari Jogja, hari ini aku resmi melamar Muti, Mutiara Indriani. Mempertimbangkan perkiraan tanggal aku akan berangkat ke Belgia pada akhir bulan Agustus, keluarga mendukung rencana pernikahan kami pada 20 Agustus 2011. Tiga bulan lagi.

Rencana pernikahan kami mengalami beberapa penyesuaian. Kami tidak menikah sebelum aku berangkat internship di WHO, melainkan sepulangnya karena waktu persiapan yang terlalu sempit. Di kemudian hari pun tanggal pernikahan kami diajukan, bukan 20 tetapi 13, menyusul jadwal keberangkatan ke Belgia maju satu minggu. Masa magangku di WHO kupersingkat satu bulan lebih pendek, agar dapat kembali dulu ke Indonesia, menikah di Jakarta, untuk kemudian bersama berangkat ke Belgia.

29 Mei 2011

Bersamaan dengan keberangkatan kakakku Edo ke Hamburg, hari ini aku berangkat ke Jenewa. Kebetulan sekali, bulan ini Edo juga akan mengikuti kursus selama tiga minggu di Jenewa. Ia tidak langsung e Jenewa karena ingin lebih dulu mudik ke Hamburg, kampung keduanya, menemui simbok Jermannya yang bertahun-tahun ia tidak berjumpa.

Berjalan menuju gate yang bersebelahan, aku menuju gate keberangkatan Qatar Airways, Edo menuju gate keberangkatan Emirates. Sepanjang jalan kami sempat mengenang pengalaman kami sewaktu kecil beberapa kali melepas Bapak di SOekarno Hatta berangkat ke luar negeri. Pengalaman yang selalu menjadi motivasi, kini giliran kami.

“Sayang yo Bapak wis ra ono..”

“Yo, nek Bapak sih ono, mungkin awak dewe saiki ra termotipasi  koyo ngene. Yo wis alkhamdulillah, dipenak-penakke wae..”

30 Mei 2011

Aku tiba di Jenewa. Dari Pak Habib aku menerima pesan singkat bahwa Pak Tri dari PTRI berkenan menjemput di bandara untuk menuju ke rumah Pak Habib. Pak Habib adalah staff diplomatik Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Jenewa. Beliau dan keluarga berbaik hati menampungku selagi mencari akomodasi tetap di Jenewa.

“Fadjar, nanti sore ikut kami ke pengajian di PTRI mau? Kebetulan hari ini yang mengisi Pak Quraish Shihab,” terang Pak Habib ramah.

Pengajian dengan Pak Quraish Shihab? Meski badan kelelahan pasca perjalanan di udara 16 jam plus transit 6 jam di Doha, aku sambut tawaran dengan penuh semangat. Di Indonesia pun belum tentu aku punya kesempatan mengikuti pengajian beliau langsung.

Kebetulan sekali sepanjang perjalanan Jakarta – Doha – Jenewa aku membaca-baca salah satu buku Pak QUraish Shihab, Pengantin Alquran. Sebagai persiapan menuju pernikahan yang dilangsungkan tiga bulan ke depan. Pengajian ini menjadi pelipur hati yang gulana meninggalkan calon istri di Jakarta. Siraman rohani dan nasehat pernikahan langsung dari Bapak Quraish Shihab.

1 Juni 2011

Hari pertamaku ke kantor pusat WHO. Sebelum ke kantor beliau di PTRI, Pak Habib berbaik hati menyempatkan diri mengantarku.

Aku pun masuk lobby markas pusat WHO ini. Kutarik nafas dalam-dalam, antara percaya dan tidak pada apa yang sedang kualami. Sekarang aku benar-benar sudah tiba dan akan bekerja untuk beberapa saat ke depan di sini. WHO, Badan Kesehatan Dunia, organisasi di bawah PBB yang bertanggung jawab terhadap koordinasi upaya kesehatan di seluruh dunia. Dengan cita-cita implementasi semboyan, “Health for All”.

Setelah menunggu beberapa saat, Katie, supervisorku, datang menghampiri. Memberi petunjuk tentang segala yang perlu aku lakukan di hari pertama ini. Mendapatkan ID badge dan akun email WHO. Keduanya sangat menyenangkan unuk dimiliki. ID badge selain sebagai tanda pengenal juga berfungsi sebagai samrtcard untuk mengakses berbagai keperluan, membuka pintu otomatis dan menggunakan mesin fotokopi. Sementara email account merupakan satu hal yang sudah lama aku mimpikan. Sesuai dengan prosedur, untuk keperluan official aku diberi akun wibowom@who.int Alhamdulillah.

Aura briefing dengan Katie pagi ini berubah dari formal menjadi begitu santai dan mengalir setelah aku menjelaskan alasan pengurangan masa magangku karena akan segera menikah. Katie malah cerita padaku, kalau ia juga akan menikah di bulan yang sama, Agustus, dengan tanggal yang hanya selisih 5 hari denganku dan Muti!

Katie kemudian bertanya dari mana aku di Indonesia, ia kemudian menceritakan bagaimana ia bertemu dengan tunangannya, Matt, secara kebetulan di Gili Trawangan. Katie tergerak untuk berlibur ke Indonesia setelah mendapat banyak informasi dari Pak Ludy, tak disangka ia malah menemukan jodohnya di Indonesia.  Pak Ludy memang sungguh-sungguh kreatif dan penuh inisiatif, atas sarannya pula lah di pernikahanku dan Muti aku menyanyikan Mutiara yang Hilang. Sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Ernie Djohan di era 70-an, sebuah lagu yang bahkan sebaris liriknya pun belum pernah kudengar.

2 Juni 2011

“Nanti kamar mandi di sini.  Terus sepatu di situ. Kalau mau makan ambil aja apa yang ada. Mudah-mudahan suka ya Djaaarr..”

Mbak Rian menjelaskan seluk beluk apartemennya yang berada di Bouchet. Dua bulan ke depan,  aku akan tinggal di sini. Bersama Mbak Rian, Pak Ludy, Raya dan Jejen.

Tinggal bersama Mbak Rian dan keluarga aku benar-benar jadi makmur dan subur. Benar-benar terasa seperti berada di keluarga sendiri. Mbak Rian yang begitu helpful dan terbuka pada banyak orang membuatnya sangat berkelimpahan termasuk urusan makanan, bahkan yang jauh-jauh dikirim dari Indonesia. Aku pun dengan senang hati menjadi penyapu ranjaunya. Selama berada di Bouchet aku menjadi semakin akrab dengan banyak komunitas Indonesia di Jenewa.

Mungkin memang sudah takdirku tidak jauh-jauh dari dunia bakulan,  setiap hari senin dan Kamis Mbak Rian memasarkan Indoneisan Lucnh Box di berbagai kantor International Organization di Jenewa. Dengan senang hati aku menjadi distributornya di kantor WHO. Sebagai , aku dapat satu lunch box gratis.

10 Juni 2011

“Kepada Yth. Sdr. /Sdri. Mochammad Fadjar Wibowo

Selamat,

Anda telah dinyatakan LULUS SELEKSI Kegiatan Bantuan Keberangkatan Ke dan Dari Luar Negeri, periode Januari-Februari-Maret 2011 dengan jumlah dana..”

Alhamdulillah, sejak aku dan Muti memantapkan langkah untuk menikah, ada saja rezeki tak terduga yang kami temui. Hari ini sebuah konfirmasi bantuan dana dari Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Pendidikan Nasional aku terima. Sebelumnya aku mendaftarkan diri ke sebuah program bantuan yang saat itu dipromosikan melalui website www.bantuan.kemdiknas.go.id.

14 Juni 2011

Fadjar,

Kalau ada masa luang silakan kontak saya dan kita bisa ngobrol mengenai WHO dan minat anda dalam bidang kesehatan,

Wassalam,

Dr. Tikki Pang,

Director, Research Policy & Cooperation (RPC/IER), World Health Organization

Pagi-pagi kutemukan email ini di  inbox. Sehari sebelumnya aku mengirim email massal memperkenalkan diri kepada komunitas Indonesia yang lebih senior dan telah bekerja di berbagai International Organization di Jenewa yang tergabung dalam INUNS, Indonesian Network within the United Nations Systems. 

Senang bukan main aku yang baru dua minggu menjalani internship di sini mendapat email dari seorang Direktur di WHO. Aku pun segera menghubungi dan menjumpai beliau saat lunchbreak di ruangannya.

“Selamat datang Fadjar, silakan duduk.”

Pak Tikki menyambutku dnegan ramah. Baru kali ini aku merasakan disambut langsung oleh pejabat, di luar Indonesia pula.

Perbincangan pun bergulir mulai dari perkenalan saya hingga akhirnya beliau membagi pengalaman hidupnya yang sungguh menarik dan menginspirasi.

Beliau menceritakan panjang lebar perjalanan hidupnya. Aku pun menyimak menikmatinya. Lahir dan besar di Jakarta, hingga sekitar usia 15 tahun, beliau kemudian melanjutkan sekolahnya di Australia hingga mendapat gelar PhD di bidang microbiology dari Australian National University. Sebelum pindah ke Australia, beliau sempat aktif  mengikuti berbagai aksi mahasiswa bersama Keatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) yang turut berdemo di belakang rombongan KAMI semasa terjadi pergolakan di Indonesia sekitar tahun 1966.

Mengetahui latar belakang kedokteran saya beliau banyak bercerita mengenai dokter-dokter senior yang pernah di WHO, maupun yang pernah bekerjasama melakukan penelitian bersama. Salah satu tokoh penting yang beiau sebut adalah dokter Nafsiah Mboi. Seoang expert dalam penanggulangan HIV.

Aku selalu senang mencari persamaan dengan lawan bicara, seringkali persamaan-persamaan ini membuat pembicaraan lebih hangat dan mengalir. Beliau kemudian bercerita mengenai riwayat karir dan akademiknya. Menyadari beliau seorang alumni ANU, aku teringat Pakdeku yang juga meraih Doktor nya di ANU ,

“Apa Bapak sempat mengenal Prof Abdul Salam Sofro, sesama alumni ANU?”

“Oh yaa ya.. saya pernah bertemu, salam ya untuk beliau..”

Ketika Pakde ke Australia untuk studi, Bapak sempat ikut untuk mengadu nasib di luar negeri. Sehingga aku ingat betul soal ini. Mengetahui Pak Tikki dan Pakde adalah sesama satu alumni, aku beranikan menyampaikan perihal ini.

Setelah menyelesaikan gelar doktoralnya di ANU beliau mengajar di Universitas Malaya, Malaysia. Alasan beliau sederhana, kalau tetap di Australia, sudah terlalu banyak peneliti di bidang yang beliau tekuni,microbiology. Sementara kalau di negara Asia, kontribusinya akan lebih bermakna. Malaysia dipilihnya karena di Indonesia hingga saat itu belum banyak fasilitas pendukungnya.

Selama dua puluh dua tahun beliau menjadi peneliti dan dan mengajar di Malaysia. Meski demikian, bertahun-tahun pula beliau menjalin kerjasama dengan para peneliti dari Indonesia. Ada suatu masa di mana setiap beliau mengunjungi Indonesia, beliau selalu membawa serta tabung-tabung reaksi hinga media agar-agar untuk penelitian. Memenuhi permintaan kawan-kawan peneliti yang kadang masalah fasilita dasar pun kesulitan.

“Memang lebih baik kamu di luar Tikki, membantu kami-kami dengan cara seperti ini,” ujar beliau menirukan komentar kawan-kawannya sesama peneliti di Indonesia.

Di sela-sela perbincangan beliau menanyakan tentang rencanaku ke depan.

“InsyaAllah dua bulan lagi, sepulang dari sini, saya akan menikah Pak, kami senang sekali kalau Bapak bisa hadir.” Spontan aku malah mengundang beliau. Kemudian kami pun berdiskusi  tentang karir.

Beliau menasehati, “Kalau bercita-cita berkarir di International Organization atau di bawah United Nation system, sebaiknya masuk sebagai seorang expert. Memulai terlalu muda sebagai project officer staff  membuat kita terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang sifatnya adminitratif, prosedural, dan  hanya berorientasi pada proses. Sehingga kehilangan kemampuan analitis dan inisiatif.”

“Kumpulkanlah pengalaman sampai menjadi seorang expert, miliki keahlian teknis, lakukan banyak-banyak research, publikasi, pengalaman kerja lapangan, sebagai dokter di daerah misalnya. Nanti, ketika mengajukan diri ke level internasional sudah memiliki landasan yang kuat di bidang keahlian masing-masing.”

Beliau juga mengingatkan, berkarir di IO perlu menyadari situasi dan mengikuti perkembangan. saat ini banyak International Organization yang sedang mengalami reformasi besar-besaran. Salah satunya WHO yang akan merumahkan hingga hampir separuh staffnya di headquarter.

Suatu hari, Sebagai sebuah organisasi yang sudah berusia, manajemen organisasi WHO tidak mampu mengikuti perkembangan zaman dengan ketatnya kompetisi di antara NGO di dunia di bidang spesifik. Untuk kesehatan misalnya, WHO memiliki banyak pesaing. Contohnya, Global Fund dan Bill Melinda Gates Foundation yang lebih banyak bergerak dalam bidang kemanusiaan dengan produk yang tampak lebih nyata hasilnya. Sementara WHO dikenal “hanya” menghasilkan produk berupa kebijakan-kebijakan. Ini menjadi tampak tidak menarik bagi para donator. Sementara WHO dihidupi oleh para donator yang salah satu donator utamanya adalah Bill Gates.

“Sebetulnya saya bercita-cita jadi jadi diplomat Pak Tikki, tapi nasib membawa saya sekolah di kedokteran,” tak sengaja tiba-tiba aku malah curhat.

Seolah ingin menjawab kegalauanku beliau kemudian beringsut menyodorkan dua lembar kertas.

“Global Health Perspective. Ilona Kicbusch, Director of Graduate Institue Geneva.”

Beliau menjelaskan dunia kesehatan kini sudah menjadi begitu luas, Global Health. Sambil menjelaskan tentang paper tersebut beliau berbicara tentang peluang untuk meningkatkan partisipasi warga Indonesia dalam intertanional organization, mulai dari WHO misalnya.

“Jadi  boleh saya referensikan junior untuk intern disini Pak?” tanyaku penasaran.

“SEBARKAN! This is a very good field to get involved. Ya, tentu saja, tapi kalau bisa jangan UI, UGM dan ITB terus, dari daerah sekali-sekali. Kalau perlu dijadikan sebuah program, barangkali Deplu sebagai penanggungjawabnya, karena kaitannya dengan diplomasi Indonesia. Dulu pernah ada pembicaraan dengan Pak Trian, Dubes PTRI,  tapi belum ada follow up lagi dari Jakarta. Karena saya tahu, untuk berangkat kemari membutuhkan dana yang tidak sedikit, saya harap akan ada perkumpulan alumni intern misalnya yang akan menaungi dan mengupayakan penggalangan dana untuk memberangkatkan intern dari Indonesia ke berbagai UN Bodies di sini. Indonesia butuh lebih banyak wakilnya disini.”

“Somehow, we need to start somewhere!!!” tukasnya lugas.

Sampai titik ini saya benar-benar menangkap semangat nasionalisme Pak Tikki. Menurut beliau kini sudah saatnya Indonesia tidak melulu berkutat dalam urusan dalam negeri, tapi juga muncul ke permukaan internasional menunjukkan taji. Aktif berpartisipasi. Dalam bidang penelitian, beliau menekankan bahwa penelitian Indonesia tidak kalah kelas, hanya saja masalah keberanian dan penguasaan bahasa menjadi kendala dalam mengangkat dan mempublikasikannya.

Penelitian-penelitian ini dapat menarik perhatian internasional yang hasilnya dapat diimplementasikan dan membuat Indonesia leading dalam suatu bidang. Pengalaman kasus virus H5N1 anatara pemerintah dan WHO dapat menjadi pelajaran berharga bagaimana Indonesia dapat menjadi perhatian internasional.

Aku pun memberanikan diri bertanya lebih lanjut, “So far, saya lihat meskipun Bapak sudah begitu lama di Malaysia, hanya 15 tahun tinggal di Indonesia, apa yang membuat Bapak memiliki nasionalisme yang begitu besar?”

“Mungkin karena ayah saya. Ketika saya sudah 15 tahun di Malaysia dan merasa semua yang saya miliki dan dapatkan ada di Malaysia, saya sempat berpikir untuk berpindah kewarganegaraan, ketika mendengar itu ayah saya yang sedang sakit berkata..”

“Selama saya masih hidup, jangan berani-berani jadi orang Malaysia, Malaysia itu nggak ada apa-apanya!!! Apa kata orang, anak Pang Laykiem jadi orang Malaysia! Saya yang malu!!”

Tergetar dalam hati aku mendengar ceritanya. Ya, masa itu masa di mana Indonesia masih tampak benar-benar unggul dibanding Malaysia. Tidak heran jika melihar latar belakang ayah beliau.

Di akhir perjumpaan beliau mengenalkan seorang intern asal Canada di bagiannya pada saya dan menjelaskan project kecil yang ia amanatkan untuk meresearch Global Health Center/Institute yang ada di negara-negara berkembang. Beliau diminta oleh NTU dan NUS di Singapore untuk menjadi salah satu inisiator pembentukan Global Health Centre di kawasan Asia dengan Singapore sebagai pusatnya. Agar Asia dapat berkompetisi dengan dominasi negar-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

“So please, within these two to three years, you keep in touch with me. Please come by before you leave for Indonesia. I need young candidate like you.”

Juni-Juli 2012

Selama dua bulan ini aku bekerja di bagian Resource and Mobilization. Sebuah tim di bawah koordinasi Assistant Director General (ADG) Health Security & Environment (HSE), Keiji Fukuda. Uniknya, Resource and Mobilization Team ini tidak tertulis di organigram WHO pun tidak terdapat di setiap ADG lain karena tim ini terbentuk berkat keuletan dan prestasi big boss kami yang sangat brillian dan begitu dipercaya oleh Director General Dr. Margaret Chan.

Tim ini awalnya berperan sebagai fund-raiser ADG-HSE, namun kesuksesan   Pak Ludy sebagai leader di tim ini dalam berbagai negosiasi, ditandai dengan massive  resource yang berhasil diperolehnya, menjadikan tim ini kemudian malah menjadi tumpuan beberapa ADG lain di WHO guna mendukung pelaksanaan program-program mereka.

Berkat informasi dari Mama Nani lah aku mengawali langkah mengajukan diri melamar posisi intern kepada Pak Ludy. Sejak itu, beliau mempersilakan ku untuk mengirimkan lamaran untuk di-review dan diwawancara oleh Katie hingga akhirnya diterima dan sampai di Jenewa.

Merujuk pada pengalamanku yang sarat dengan keberuntungan, sering aku bertanya pada intern lain dari berbagai negara bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan kesempatan internship nya. Karena keberuntungan juga kah? Setelah mendengar banyak dari mereka ada beberapa cara yang umumnya mereka tempuh.

Rekomendasi. Rekomendasi dapat diberikan oleh professor di universitas mereka yang memiliki koneksi atau menjadi researcher di WHO. Rekomendasi juga dapat dilakukan oleh seorang yang pernah bekerja atau mengenal seorang key person di salah satu bagian. Suatu hari Mas Ivan Rahmatullah, seorang ahli public health dari Universitas Airlangga pernah berbaik hati mengenalkan aku pada supervisornya di salah satu bagian di mana beliau pernah magang.

Aplikasi via IFMSA. Mailing-list International Federation of Medical Student’s Association (IFMSA) secara berkala memberikan informasi vacancy internship di WHO. Kebetulan sekali yang kini menjadi Liassion Officer IFMSA untuk WHO adalah salah seorang sahabatku dan partner sholat Jumat semasa kami menjalani internship, Usman Mushtaq dari Norwegia.

Aplikasi On-Line. Ini adalah jalur paling formal untuk mendaftar internship di WHO. Namun justru pihak HRD WHO yang sempat menjumpai kami dalam sebuah kesempatan menyatakan maafnya bahwa justru aplikasi on-line lah yang paling sulit ditembus. Karena lamaran yang masuk mencapai ribuan per periodenya menyisakan mayoritas lamaran bahkan tidak sempat di-review. Dalam kesempatan tersebut terungkap juga bahwa hampir separuh intern berasala dari Amerika Serikat dan Kanada.

Jalur lain yang sempat aku temukan dari pengalaman intern  lain adalah dengan mengikuti training yang ditawarkan oleh Duke University

 ”Absolutely, it’s all about networking. Seven thousands application per year, can you imagine?!! No one in HRD would take a look on any single of those million files, Fadjar. They will just take it from their contact of reference in their inbox, yes network!!!” kata seorang kawan sesama intern  dari India yang sedang menyelesaikan Master of Public Health meskipun sudah mendapat gelar MBA dari universitas yang sama, UCLA.

Ketika aku bergabung, tim Resource and Mobilization yang terdiri dari lima orang dengan lima kewarganegaraan yang berbeda saat itu sedang fokus menyiapkan dua acara besar, Formal Meeting of Public Private Collaboration yang akan diselenggarakan bulan Juli di Singapur dan Table Top Exercise for Public Private Collaboration in Global Health Security yang akan diadakan di Jakarta.

Bersama Yuki, seorang kolega dari Jepang yang kemudian menjadi sahabat, aku membantu menyiapkan profil kandidat sekaligus undangan peserta meeting dan training ini yang rata-rata adalah CEO dari berbagai perusahaan international sebut saja Siemens, Zurich Bank, Dexia, Bank of China, Air Asia dan lain-lain.

Banyak hal yang membuatku terkesan bekerja dengan orang Jepang, salah satu yang paling berkesan adalah prinsip “double check“. Mereka selalu memeriksa ulang setiap pekerjaan sebelum berganti ke pekerjaan lainnya. Meskipun diistilahkan dengan double check, yang aku alami mereka memeriksanya bahkan hingga tingga kali. Benar-benar detail, rapi, nyaris sempurna.

Untuk mendukung persiapan dua acara di atas, aku juga diminta oleh Pak Ludy untuk membuat beberapa laporan analisis mengenai pandemic preparedness di beberapa negara Asia Pasifik dan Eropa untuk membandingkan rencana strategis di antara pemerintah negara-negara yang rentan dengan ancaman pandemic. Laporan analisis lain yang sempat kubuat atas permintaan Pak Ludy adalah implementasi publc private collaboration di beberapa negara dalam berbagai sektor.

Tugas-tugas ini semakin membuka wawasanku betapa luasnya dunia kesehatan terutama ketika kita masuk ke ranah Global Health.

Sementara tugasku yang bersifat administratif antara lain menyusun travel claims Pak Ludy yang sudah dua tahun ini belum selesai tergarap karena kesibukan para staffnya dan tingginya frekuensi perjalanan beliau. Dari laporan yang kukerjakan, dalam sepuluh hari berurutan, aku dapat menemukan jejak beliau di tiga benua berbeda. Roma, Tokyo, Bangkok, India, New York, Singapore, Bali, London, Sydney adalah beberapa kota yang sempat dua tahun ini dikunjunginya. Bahkan dari network system dapat aku temukan beliau sempat menjadi top rank duty traveler di WHO.

Kadang aku yang malah berimajinasi seolah turut merasakan perjalanannya. Dari kumpulan email dan dokumen yang ada, aku harus menganalisis latar belakang, tujuan, hasil, dan follow up dari duty travel beliau kemudian mendeskripsikannya dalam sebuah laporan. Kadang dokumen yang ada sangat terbatas sehingga aku harus bisa mengira-ngira apa yang terjadi dalam pertemuan-pertemuan yang beliau lakukan. Beruntung kalau aku dapat mengkonfirmasi langsung dengan beliau. Meski ruang kami bersebelahan, belum tentu setiap hari kami aku bisa mengumpulkan informasi darinya.

“Fadjar, you should think as if you were Ludy..!” Julia seorang staff asal Jerman menasehatiku menjawab keraguanku sebelumnya, “I don’t think we have sufficient record on this trip..”

Di bawah arahannya setiap hari aku perlu, kalau tidak mau dibilang harus, menyelesaikan tiga traveling report dengan dua hingga tiga kali revisi darinya. Terasa sekali karakter perfeksionis ala Jerman-nya setiap kali mengoreksi pekerjaanku. Sejak bekerja bersama Julia pulalah aku terbiasa pulang larut karena setiap kali merasa selesai mengerjakan tugas, aku merasa tugasku ini masih bisa terus dikoreksi. Bagaimanapun juga dari Julia aku belajar banyak merangkai laporan dalam bahasa Inggris yang berbunga-bunga penuh dengan frasa dan kata diplomatis.

Bekerja di WHO, banyak hal baru yang kutemukan, hampir sama sekali tidak berhubungan dengan pendidikanku di kedokteran. Membuatku harus cepat beradaptasi,  salah satunya dengan bertanya sana-sini. Beruntung ternyata sudah ada beberapa senior di kantor ini. Seperti Monica dan Tante Mieke yang sudah lama bekerja di sana. Pada keduanya aku bertanya dan belajar banyak hal, tidak jarang aku hanya berniat bertanya malah ditraktir ngopi dan jajan.

Pekerjaan administratif membuatku perlu bekerja menggunakan printer dan mesin fotokopi. Di minggu pertama aku benar-benar menikmati pekerjaan ini karena baru kali ini aku menemukan mesin fotokopi yang begitu pintar. Selain failitas scan dan printer, mesin ini juga dapat diperintahkan hingga menjilid dan menyusun perintah printing seperti kita ingin menyusun sebuah buku.

Hingga suatu hari..

“Bisa??” tanya seorang bule yang mengantri di belakangku melihat aku kikuk mengoperasikan mesin fotokopi dan printer ini.

“Bisa,” jawabku.

“Sudah berapa lama di sini?” tanya bule itu lagi.

“Heh?? Did you just speak Indonesian?” aku baru sadar, ada seorang bule di lorong WHO menyapaku dengan bahasa Indonesia??!!

“Iya, kamu dari mana?”

“Hah?? Jogja, eh Indonesia,” aku masih meyakinkan diri kalau aku tidak salah dengar dan bahwa bule ini memang sedang berbahasa Indonesia.

“Oh, wong Yojo tho..”

“Haaahh???!!” aku masih belum sepenuhnya menerima kenyataan. Kalau di Belanda atau Jerman bertemu orang yang sangat akrab dengan budaya Indonesia aku mungkin tidak jauh penasaran. Tapi kalau dari Swiss aku masih bertanya-tanya.

Setelah bertukar nama dan cerita, barulah aku paham duduk masalahnya. Dominique namanya, ia sempat bertugas sekitar tiga tahun di Indonesia dan begitu mencintai Indonesia, budaya bahkan orangnya, sehingga kini telah menikah dengan seorang Indonesia. Sejak saat itu kami sering bertegur sapa dan sesekali minum kopi bersama. Sosok yang luar biasa.

15 Februari 2012

Hari ini aku dan Muti akhirnya bersama-sama mengunjungi Jenewa, Swiss. Perjalanan ini bagi kami menyimpan banyak arti. Dua bulan lamanya di sana aku magang sambil “terpingit”. Tahun lalu bulan Mei hingga Juli, setiap orang yang kukenal tak luput kukabari dan kuundang ke pernikahanku dan Muti. Bahkan sebuah lagu, Mutiara yang Hilang, bersama sebuah cincin mutiara yang kusertai di pelaminan pun dari sini asalnya.

This slideshow requires JavaScript.

Lima hari kami berusaha menjumpai seluruh keluarga di WHO dan Jenewa, mengenalkan Muti, mengucapkan terimakasih dan bernostalgia. Terimakasih Mbak Rian, Pak Ludy dan semuanya yang sudah kami anggap keluarga. Terimakasih Jenewa.

Mutiara Namanya

Bayi cantik itu lahir di suatu pagi yang cerah  di RS Bersalin Asih, Kebayoran Baru. Merupakan rumah sakit bersalin terbaik pada era itu dan masih menjadi pilihan utama banyak warga Jakarta hingga saat ini.  Kelahirannya  ditolong oleh dr. Waluyo Sapardan, Sp.OG. Seorang ahli kandungan ternama, bahkan para artis rela mengantri menjadi pasiennya.

Demi menantikan kehadiran Sang Dokter yang cakap bersosialita, malam itu Sang Ibu menunggu Sang Dokter dengan rela. Bahkan para perawat pun  tidak berani menghubunginya.  Tepat 23 tahun lalu, pukul 9:20 pagi, 23 Februari,  hanya sepuluh menit setelah Sang Dokter tiba,  bayi berkulit putih bersih itu lahir ke dunia.  Sang Ibu sudah menyiapkan nama  untuknya, Monika, terkesan dengan bocah cantik Monika yang selalu riang dan tidak bisa diam.

Namun Sang Ibu berubah pikiran dan mengganti menjadi Mutiara, yang dirasa lebih pas dan indah dengan harapan sang bayi akan tumbuh menjadi gadis cantik dan berhati mulia.

Bayi Mutiara tumbuh sehat dan sempurna, umur enam bulan sudah bisa merangkak meniti tangga dan pada umur sebelas bulan sudah bisa berjalan.  Umur tiga tahun  masuk Taman Kanak Kanak dan sudah terlihat sifat percaya dirinya yang tinggi.

Mutiara mendapat didikan keras dari Sang Ayah,  sehingga tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat aktif dan berani. Ketika umur tujuh tahun Mutiara kecil terluka. Di Mall Metropolitan Bekasi, lengan tangan  kanannya patah karena Mutiara yang lugu bermaksud melambaikan tangan, memasukkan lengannya di jeruji kincir angin yang sedang berputar. Dibawa ke RS Mitra Keluarga sambil menangis menahan sakit dia berteriak-teriak, “Allahu Akbar..Allahu Akbar..!”

Dokter, pengunjung, pasien dan perawat di rumah sakit terharu iba mendengar jeritannya. Melihat Mutiara kecil yang berbeda dengan anak seusianya.

Waktu berjalan, di bangku SMP Mutiara tumbuh menjadi gadis mandiri. Diterima program akselerasi, ia meninggalkan rumah di Bekasi, tinggal bersama Sang Pakde dan Bude di Slipi. Setiap pagi ia berangkat  ke Al-Azhar di Kebayoran Baru dengan mengambil bus kota di depan RS Harapan Kita. Melintas jembatan penyeberangan Harapan Kita, setiap pagi Mutiara menyedekahkan sebagian uang jajannya kepada mereka yang selalu duduk tersebar di atas sana.

Suatu hari tiba-tiba ia ditunjuk oleh gurunya untuk ikut lomba pidato antar SMP di Jakarta.  Tanpa persiapan dia berangkat mengikuti lomba, dan dalam kegalauannya menunggu waktu  dia sholat dhuha. Di akhir lomba dan pengumuman  pun tiba, di luar nalarnya dia mendapatkan dirinya menjadi juara pertama.

Atas nasehat Ayah tercinta,  ketika masuk SMA 8 Jakarta Mutiara dianjurkan mengikuti berbagai macam kegiatan ekstrakurikular, agar belajar berorganisasi dan memupuk jiwa sosialnya. Hari tertentu, selepas sekolah ia menyambangi anak jalanan di Rumah Singgah Sakinah, kepada mereka mengajari Matematika. Semua dilakukannya di kala teman-teman sekelasnya sibuk dengan tuntutan program akselerasi.

Di penghujung bangku SMA, kala siswa lain sibuk menentukan bangku kuliah dan memperiapkan ujian, Mutiara malah sibuk latihan menari dan menyanyi  mempersiapkan diri menjadi duta Indonesia lewat program pertukaran pelajar Bina Antarbudaya – AFS, satu tahun ajaran ke Italia.

Menghabiskan sepuluh bulan tinggal bersama keluarga Romano di sebuah desa terpencil berpenduduk seribu orang, lebih sedikit dari domba yang digembala, Mutiara bertemu dengan Patty, salah satu sahabat sejatinya.

Kembali dari Itali, hanya beberapa minggu setelah mendaratkan kakinya di Jakarta Mutiara kembali harus terbang meninggalkan tanah air Indonesia. Kini ke Jepang memenuhi kesempatan beasiswa. Begitu dahsyatnya tantangan yang harus dihadapi seorang diri selama di negeri Sakura. Berbekal niat suci membahagiakan orang tua ia berhasil mendapatkan gelar sarjana tepat pada waktunya.

(Ketika teman seangkatannya sibuk bertahan di Jepang dan mencari kerja, Mutiara begitu yakin untuk segera kembali pulang ke Jakarta. Entah dalam bentuk apa, tapi ia yakin ada yang menantikannya.)

Puncak kesuksesan Mutiara adalah ketika ia menemukan jodohnya. Di depan Masjid Agung Al-Azhar Allah mempertemukan keduanya. Dalam waktu singkat,  atas ridho Allah SWT dan restu kedua belah pihak orang tua, Mutiara dan Fadjar akhirnya berikrar diri  untuk hidup bersama. Ternyata ini yang “menarik” kepulangannya.

Begitu “sederhana” perjalanan hidup Sang Mutiara, segalanya berjalan begitu cepat dan  indah. Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah mengatur perjalanan hidup hamba-hambaNya dengan begitu sempurna.

Selamat ulang tahun anakku tersayang Mutiara.., semoga Ananda selalu bahagia, semakin  sabar dan dewasa dalam menjalani kehidupan rumah tangga.  Tetap menjadi istri yang istiqomah dan shalehah kebanggaan suami tercinta. Amiin.

With all best wishes and love,

Peluk Cium,

Mama & Papa

I Live to Love You

Arti di Balik Sebuah ID

22 Desember 2011

“It can take months, even years..” jawab seorang petugas Maison de Communale, instansi setingkat Dinas Dukcapil kalau di Indonesia, terkait permohonan izin tinggal dan national ID card Belgia untuk Muti.

Take years??! Aku dan Muti hanya akan tinggal di Belgia sepuluh bulan saja, menunggu tahunan bukan jawaban yang kami sangka. Empat bulan sudah sejak kedatangan kami di Belgia, dari jawabannya bukan titik terang, malah seolah pada jalan buntu kami dihadapkan.

Hanya dua minggu sejak dokumen dan aplikasi kami masuk seharusnya kami setidaknya mendapat jawaban, aplikasi ini diterima atau tidak. Minggu berganti bulan. Bulan pertama, seminggu dua kali kami mendatangi commune. Bulan kedua seminggu sekali. Bulan ketiga menjadi dua minggu sekali, dengan keyakinan yang memudar. “Please just wait, we did the all the thing we could, we’ll contact you as soon as we got any response from the State Ministry”. Antara iba melihat perjuangan kami dan tidak bisa membantu lebih jauh, petugas dari commune mencoba menenangkanku yang mulai berargumen dengan nada emosi.

Tanpa Belgian National ID ini Muti berarti belum secara resmi tercatat dalam administrasi pemerintah setempat. Telah habisnya masa berlaku Schnegen visa Muti yang lalu membuat Muti, secara hukum, tidak boleh meninggalkan Belgia. Perjalanan kami ke Belanda yang lalu pun dengan nekat dan penuh asumsi tidak akan terperiksa polisi. Meski kadang terdapat random checking di Rosendaal, stasiun perbatasan yang harus kami lalui. Saat ke Aachen Jerman, kami beruntung bepergian bersama Bu Anita sekeluarga dengan mobil beliau yang berplat CD, Corps Diplomatique. Begitu juga saat menari saman di resepsi diplomatik di Luxembourg, kami bergabung dalam rombongan KBRI lagi-lagi dengan mobil CD.

Njlimet nya situasi yang kami hadapi, aku terpikir untuk mengikuti saran seorang agen yang membantu legalisasi dokumen kami di Jakarta. “Sewa lawyer saja Mas Fadjar, dulu klien saya sewa lawyer, 2000 Euro, keluar ID nya.” Pertanyaannya sekarang, Dua ribu Euro? Mungkin sehari sebelum pulang ke Indonesia pun belum tentu terkumpul.

19 September 2011

Tiga hari terakhir kami telah berkonsultasi dengan petugas commune dan dua lembaga bantuan hukum untuk orang asing di Brussels. Untung saja semua pelayanan ini tidak berbiaya. Keluar rumah sebelum Subuh, mengantri di cuaca gerimis nan dingin bersama para pendatang dari negara lain adalah bayarannya. Informasi yang kami dapat, dengan visa turis yang Muti pegang saat ini, berakhir dalam 4 hari, kami dapat segera langsung mengajukan titre de sejour, izin tinggal kepada Maison de Communale di Belgia. Prosedur ini bertolak belakang dari instruksi kedutaan Belgia di Jakarta, di mana Muti perlu kembali ke Indonesia untuk mengajukan family reunion visa di kedutaan Belgia di Jakarta.

Salah satu pertimbangan kami menikah segera adalah dengan sepuluh bulan hanya berdua di Belgia, periode emas berasmara sekaligus membangun pondasi rumah tangga. Kalau baru sebulan di Belgia sudah harus kembali lagi ke Jakarta, akan banyak waktu terbuang percuma.

Dalam 3 x 24 jam, kami harus memutuskan apakah Muti perlu pulang. Banyak yang menyarankan untuk aku tidak ambil risiko. Karena jika permohonan ini ditolak, Muti akan menjadi penduduk ilegal. Saat kembali ke Indonesia nanti, akan menjadi masalah berkepanjangan. Seorang bapak yang sempat menyatakan dirinya “bertanggung jawab” dengan urusan kependudukan warga Indonesia di Belgia sempat memperingatkanku, ”Hati-hati Mas, kalau deportasi saja nggak masalah, tapi selanjutnya bisa black list masuk Schengen area  lima tahun lho!”

“Ya, nanti kalau nggak bisa ke Eropa lagi kami cari sekolah di Amerika, Jepang atau Australia Pak!”

“Oo, hati-hati ya, embassy-embassy itu connected, bisa-bisa istri di black list dimana-mana”

“Ya bismillah aja Pak, namanya juga usaha.”

Aku hanya ingin segera pergi dari hadapan Bapak ini. Panas telinga dan hati rasanya. Aku tahu secara teori beliau benar, tetapi sebagai seorang warga negara aku merasa berhak mendapatkan tawaran solusi selain sekedar peringatan. Bukan emosi semata, aku memilih berargumen dengan beliau karena aku dan Muti tahu dalam hal ini beliau ternyata ketinggalan banyak informasi.

Meski begitu keputusan kami bulat. Muti tidak akan pulang bulan ini tapi menunggu hingga ada jawaban. Kami berpegang pada informasi yang petugas commune saat itu berikan, jika Muti pulang, tidak ada jaminan di Jakarta Muti proses pengurusan family reunion visa akan berjalan cepat. Belajar dari pengalaman senior pelajar Indonesia lain, kadang butuh waktu enam bulan sampai setahun hingga berhasil mendatangkan pasangannya. Aku membatin, “kalau sekarang dipulanginngapain kemarin abis kawin langsung diajakin”. Sekali layar terkembang, pantang surut kembali.

8 Agustus 2011

“Bu, kenapa tidak bisa 90 hari? Kita sudah booking hotelnya dan tiketnya untuk tiga bulan..”, aku memelas pada ibu petugas yang melayani kami.

Sambil menyorongkan berkas dokumen dan aplikasi visa Muti, aku sertakan juga undangan pernikahan kami yang tinggal empat hari lagi. Sebagai syukur dan terimakasih, setidaknya aplikasinya sudah diterima. Sekaligus upaya terakhir, menunjukkan keseriusan kami barangkali beliau berubah pikiran.

“Mas, sebenarnya sekarang sedang sulit untuk buat visa Schengen di sini. Sebentar lagi pun pelayanan Schengen akan dipindah ke kedutaan Belanda. Harusnya ini nggak kita lolosin. Tapi karena kalian baru menikah, sekarang aplikasi tetap saya masukkan tapi hanya 30 hari saja ya.”

“Lalu, selama tiga puluh hari saya bisa urus izin tinggal Muti langsung ke gemeente di Belgia kan?”

“Tidak, dalam tiga puluh hari Muti harus pulang dulu, lapor diri kemari bahwa sudah tiba kembali di Indonesia baru bisa mengajukan long stay visa untuk family reunion.”

“Ya, sudah lah Bu, ngga papa 30 hari, yang penting sekarang kami bisa berangkat dulu ke Belgia sama-sama.”

Setelah meminta appointment sejak bulan Juni, baru hari ini, 8 Agustus lima hari sebelum pernikahan, Muti mendapat appointment memasukkan aplikasi visanya. Sebuah proses panjang nan melelahkan. Dua bulan penantian appointment ini bahkan sempat terselingi dinas Muti ke Tokyo, masa magangku di Jenewa. Sementara itu sambil dibantu orang tua kami proses administrasi pernikahan yang melibatkan tiga KUA; Yogyakarta, Bekasi, Tanah Abang dan dua kelurahan terus berjalan. Seriring dengan proses penyebaran undangan pernikahan kami, persiapan gedung dan hidangan untuk para undangan.

Inilah salah satu faktor mengapa begitu banyak kerabat yang terlewat, prioritasku adalah proses “menggondol” Muti ke Belgia. Hanya menikah di masjid atau KUA dengan resepsi keluarga utama saja pun kami bahagia. Yang terpenting adalah bagaimana Muti bisa turut berangkat juga.

31 Oktober 2011

“Hi guys, how are you doing, I am Tom”

“Hi, I’m good. I am Fadjar and this is Muti, my wife”

“Well, I see you guys just keep sitting around here. Do you feel kind of boring or something?”

Hedeuh, ini anak sotoy banget. Ujug-ujug mendekatiku dan Muti yang memang dari awal acara hanya duduk-duduk di sofa. Malam ini, sebagai silaturahmi balasan, kami memenuhi undangan Patty dan Anthonie di acara housewarming apartemen baru mereka. Aku dan Muti yang siangnya jalan-jalan keliling centrum Antwerp memang sudah kelelahan sejak awal acara. Sementara teman-teman dekat Patty dan Anthonie yang lain masih terus berdatangan. Mungkin inilah yang menarik perhatian Tom. Sepasang wajah Asia yang hanya asyik sendiri duduk berdua di pojokan.

Berusaha ramah, aku setengah hati melayani Tom bicara. Awalnya aku tidak begitu berminat, tapi dari obrolan itu aku jadi tahu kalau Tom juga pernah mengikuti program Erasmus Mundus dua tahun yang lalu, ke Universidade do Porto. Mulai ada kesamaan di antara kami, pembicaaan menjadi lebih hangat. Belakangan kuketahui, Tom adalah instruktur berlayar Patty dan Anthonie.

“Nice to talk to you, if you need guide to discover Brussels, just contact me!!”

Di akhir perjumpaan kami mulai akrab. Asyik juga anak ini rupanya. Tahu aku dan Muti tinggal di Brussels, Tom yang dua tahun kuliah di Brussels  menawarkan diri menjadi tour guide kami suatu hari di Brussels.

Malam harinya aku bilang pada Muti, “Aneh ya, temennya Patty tadi, kekeuh banget ndeketin kita”.

21 Januari 2012

Hari itu aku, Muti, Patty, Anthonie berjalan kaki berkeliling centrum Brussels diipandu oleh Tom. Menyambut tawarannya tiga bulan lalu, kami mengunjungi Margritte Museum dan beberapa sudut kota seperti Palace de Justice dan Joue de Bal. Dengan Patty dan Anthonie, aku dan Muti sudah begitu dekat kami sudah seperti keluarga sendiri. Dengan Tom, berkat kepiawaannya memandu kami dan mengobrol seharian, hari ini kami menjadi semakin akrab.

Di sebuah kafe kami berhenti untuk beristirahat sebelum akhirnya berpisah. Saat Muti dan yang lain menikmati chocolate chaud dan cappuccino nya masing-masing, aku berbincang dengan Tom.

“So, Tom, tell me what are you doing for work exactly?”

“I am a laywer”

“Lawyer? What do you do exactly, attending court, assisting client?!”

Mendengar kata lawyer seketika aku merasakan impuls yang begitu kuat mengalir di serabut-serabut saraf otakku. Terbayang di kepalaku masalah yang aku dan Muti hadapi dalam pengajuan ID. Seolah membaca isi kepalaku, Tom bercerita panjang lebar tentang law firm tempatnya bekerja. Tom menjelaskan kantornya umumnya membantu multinational company untuk masalah legal draft terutama yang berkaitan dengan hiring pekerja asing. Perusahaan-perusahaan ini perlu membuat kontrak yang sesuai dengan kebutuhan pekerja asing dan hukum di Belgia.

“If your firm assists these companies, will there be someone works on the foreign worker side then?”

Aku penasaran, pertemuan kami dengan Tom pastilah bukan tanpa arti. Dengan fakta bahwa firm tempat Tom bekerja berkecimpung dengan hukum bagi orang asing, sudah seharusnya Tom juga familiar dengan situasi yang aku dan Muti hadapi.

“Yes, which we do also. There are eleven of us in the office, ten of us working on legal draft to meet companies needs and one, which is me, working to assist the expatriate to win their rights, for example for their retirement and other needs such as gaining work permit.”

“Work permit for foreigner? You must be then familiar with all the regulation regarding immigration, one’s settlement and family reunion?!”

Palpitasi, jantungku berdetak semakin cepat, aku merasa segala kebuntuan kami akan segera berakhir, dengan cara yang tidak pernah kami duga.

“Yes, that is my area of work.”

Alhamdulilah!! Akhirnya setelah berbulan-bulan aku bertemu dengan orang yang capable terkait masalah izin tinggal Muti. Selama ini kami hanya diberi saran sana-sini namun tidak ada yang benar-benar bermakna. Selain Gusti Allah, hanya petugas commune, petugas lembaga bantuan hukum yang pernah kami datangi, dan kami sendiri yang benar-benar mengetahui situasi yang kami hadapi. Bahkan kadang kami tahu lebih baik dari mereka karena belakangan ini membuat beberapa perubahan peraturan terkait ke-imigrasi-an.  Sementara para petugas ini tidak selalu meng-update-nya. Perubahan peraturan ini sempat membuat kami semakin patah arang. Tepat tiga hari setelah aplikasi Muti masuk ke commune terdapat peraturan baru yang berlaku mulai 22 September 2011 dan berbunyi, hanya mereka yang sudah menetap di Belgia selama dua tahun yang dapat mengajukan family reunion.

“Well, tonight just send me the number of your application. I will make a call to the commune and update your application status. As a lawyer, I have a particular line to them. I don’t promise anything but I hope I can give some intervention.”

7 Februari 2011

Hari ini di kantor KBRI kami berjumpa dengan Bapak Aria. Seorang staf diplomatik di KBRI Brussel yang sangat helpful dan attentive. Mendengar sedikit penjelasanku, beliau langsung memahami urgensi situasi kami. Secara spontan beliau mengajak aku dan Muti bergabung untuk makan siang bersama istri beliau, Ibu Diah. Sepuluh menit beliau mendengarkan aku berbicara, memahami lebih jauh situasi yang ada.

“Ok, I got your point Mas Fadjar. Right after this lunch I will write you a letter regarding to your situation. This letter may not assist directly in a way of your permit application procedure, but at least you will have something to declare!”

Sejak kami mengajukan permohon izin tinggal Muti, kami tidak mendapatkan surat bukti penyerahan dokumen aplikasi izin tinggal. Tidak ada bukti hitam di atas putih. Artinya kami tidak bisa membuktikan pada pihak yang berwenang kalau kami sedang dalam masa pengajuan izin tinggal. Kondisi yang memberatkan jika kami harus berurusan dengan polisi misalnya. Apalagi visa Muti sudah habis sejak lama. Dengan sigap Pak Aria membuatkan sebuah surat keterangan menjelaskan situasi kami dengan kop Kedutaan Besar RI.

Secara administrasi, kami tidak dapat menyertakan surat ini sebagai pendukung untuk mempercepat prosedur izin tinggal Muti. Tetapi secara psikologis surat ini berdampak besar karena dengan demikian sebagai WNI kami merasa dilindungi.

9 Februari 2011

Pulang dari perpus, aku mampir sejenak ke rumah untuk sholat zuhur dan ashar sebelum berangkat ke tempat les sekaligus mengambil bekal berbuka yang Muti sudah siapkan. Muti sendiri sudah berangkat ke toko buku dan berencana berbuka di Masjid Agung Brussels di daerah Schumann.

Sambil membuka sepatu, kuperiksa ponselku. 2 missed call. You have one new voice message.

“Hello, Mr. Wibowo, this is a call from commune of Woluwe Saint Lambert to inform that your wife will have a card until October 2012. Could you..”

Alhamdulillah!! Langsung kutelpon Muti yang sudah di jalan untuk kembali arah menuju dan bertemu di commune, bergegas mem-follow up panggilan ini.

“Vous allez bien Monsieur, Madame Wibowo ??!”

Madame Martins, petugas commune yang sudah melayani kami dengan sabar sejak pertama kali kami datang, tersenyum menyambut kami di balik kaca loketnya.

“Oui, absolument, et vous ?!”

Kami pun memperhatikan petunjuk Madame Martins untuk prosedur berikutnya.

“Yes, there was a lawyer called us. I am also surprised of your application process. Your case is very rare. Most of application in your situation may take years even do not get any response from the ministry, but you does,” Madame Martins menjelaskan.

Akhirnya, untuk pertama kalinya kami keluar gedung Maison de Communale Woluwe Saint Lambert ini dengan perasaan lega dan penuh suka cita. InsyaAllah sebentar lagi ID card Muti jadi. Kartu yang memberikan kebebasan untuk Muti mengunjungi 29 negara di Schengen area.

Nggak kebayang ya sayang kita kenal Patty, dari dia kita kenal Tom yang awalnya maksa tapi justru lewat dia dapat jalan keluarnya. “Gimana pertemanan dan silaturahmi bisa begitu bernilai jauh dari yang bisa kita kira”.

Ya Mas, this is one thing among many things that money can’t buy”.

Senja di Brussels mengiringi langkah kaki kami, pulang dengan lega hati mengiringi, suhu minus 12 celcius tak terasa lagi.

22 Februari 2012

Hari ini, sehari sebelum tanggal ulang tahunnya, positif Muti menerima Belgian national ID card nya. Mulai besok, Muti sudah bebas untuk beperjalanan ke negara-negara Schengen, “membayar” tahun AFS-nya yang tak sempat sekalipun meninggalkan Italia.

Selamat ulang tahun Sayang, ini kado ulang tahun untuk kamu dari pemerintah Belgia.

Titre de Sejours, Mutiara Indriani