16 Februari 2011
“Dua tahun lagi..”
“Setahun deh. Tahun depan. Ok?!,” tawarku.
“Ya udah, tengah-tengah, satu setengah tahun lagi,” tutup Muti seolah akhir dari negosiasi.
Di atas perahu yang mengantar kami berkeliling seputaran Pulau Tidung kami berdiskusi. Merenda masa depan bersama. Kapan kami menikah tepatnya.
28 Februari 2011
“Oh ya? Sudah daftar? semoga sukses ya! Ini Tante dulu pernah bertemu dengan seorang Bapak dari WHO saat ada conference di Bali. Mungkin Fadjar bisa coba hubungi beliau, barangkali masih ingat Tante dan bisa membantu.”
“Ludy Suryantoro,” sebuah nama Indonesia tertera di sana.
“Terima kasih Tante, nanti Fadjar coba.”
Malam itu sepulang mengantar Muti kembali dari kantor, aku mendapat dua pencerahan seketika. Pertama bertemu lagi dengan Muti setelah datang dari Jogja di sela-sela waktu yang ada, kedua diberikan kontak seseorang di WHO Headquarter dari Sang Mama .
Esok harinya aku langsung sowan meminta petunjuk Mbah Google perihal sosok Pak Ludy Suryantoro yang mungkin menjadi pembuka jalanku menuju Jenewa. Memang Mbah Google selalu luar biasa, banyak informasi berharga tentang beliau kutemukan di sana.
6 Maret 2011
Berbekal informasi mengenai sosok Pak Ludy, aku kirim sebuah email lamaran untuk bisa magang di department-nya. Aku menjual diri, mengaitkan fokus kerja beliau dengan pengalaman dan minat yang kumiliki. Juga aku jelaskan, kalau aku juga sudah mendaftar internship ke 12 department lainnya di WHO HQ sebelum deadline 31 Januari 2011 lalu.
Hanya butuh beberapa menit saja, aku langsung mendapat email balasan darinya.
“Thank you for your email.
I am on duty travel until 8 March 2011. For urgent matters, please contact my staff..”
Ah, automatic reply rupanya.
Satu jam kemudian, aku dapati lagi sebuah email dari alamat yang sama. Apa automatic reply lagi pikirku. Tapi masa’ dua kali?
“Fadjar, I’m in Tokyo. I’ll return to Geneva on Wednesday. You can make a letter of interest, CV, and one of you papers. Please send to my staff, she will take care everything if we might need an Intern..”
Regards,
Hari-hari berikutnya aku berkomunikasi dengan staff beliau, Katie. Bermula melalui email, diikuti beberapa kali call conference seputar peluangku untuk menjalani internship di WHO HQ, Jenewa.
17 Maret 2011
Pukul 11 malam, kudapati email konfirmasi dari Katie.
“Dear Fadjar,
I am pleased to inform you that we would like to invite you to join our team as an intern this summer.
Katherine B“
Alhamdulillah, doaku terkabul, lamaranku diterima. Internship selama bulan Juni hingga Agustus di markas pusat WHO di Jenewa. Matur sembah nuwun Gusti Pangeran, lagi-lagi mimpiku Engkau wujudkan. Bekerja di sebuah organisasi internasional, meskipun hanya magang. Dengan pengumuman yang tepat hanya satu jam sebelum hari berganti menjadi tanggal 18 Maret. Tanggal Almarhum Bapak 57 tahun lalu dilahirkan. Untuk Bapak, kabar baik ini kupersembahkan.
23 April 2011
23 April. Tanggal 23, bulan 4. Hari istimewa bagi kami berdua. Setelah bertahun-tahun hanya saling berkirim surat Beppu-Jogja, hari ini Muti berjumpa dengan Dik Mindar, adik bintangnya di
Hoshizora. Bersama Joni, kutemani Muti menjemput nya di Kantor Hoshi-zora di Kalakijo, Pejangan, Bantul, Yogyakarta.
“Kita ke Gramedia ya, lihat-lihat buku di sana,” Muti menjelaskan tujuan perjalanan kami bersama Joni ke Kotabaru, Jogja.
“Gramedia itu apa Mbak?”
Dik Mindar hanya sesekali ke Jogja dan belum pernah mengetahui ada toko buku dan pendukung sekolah lengkap sejenis ini di Jogja. Gramedia salah satunya. Saat waktu pulang tiba, ia nampak sangat kecewa. Tanpa sepengetahuannya, Muti telah menyiapkan kejutan untuknya. Novel Negeri Lima Menara, buku 7 Keajaiban Rezeki, dan sebuah Alquran. Aku bukan penikmat sinetron, tapi melihat Muti menyerahkan buku-buku yang diam-diam dibayarnya, disambut tatapan haru tak percaya, air mataku tak tertahan juga.
Paginya, sebelum menjemput Dik Mindar di Hoshi-zora, aku meminta kesediaan Muti agar kami menikah segera. Seusainya dari Gramedia, bersama Dik Mindar yang masih turut serta, hari itu juga aku menghubungi Bude Is dan Pakde Salam sekeluarga. Aku ingin mengenalkan Muti pada beliau berdua. Sekaligus meminta restu keduanya
Pakde Salam, salah seorang kakak “terdekat” Bapak, dan Bude Is sudah seperti ayah ibuku sendiri. Dua tahun masa SMP di Jogja aku tinggal bersama mereka. Dari kecil juga aku dan Edo sudah bermain dengan Mas Dian dan Mas Didit, kedua putra beliau berdua. Alhamdulillah, hari itu juga dengan menceritakan kembali memori mereka di masa muda termasuk cerita Bapak dan Mama, Pakde dan Bude memberikan restunya. .
Beberapa hari sebelumnya, aku diberitahu Mas Heru, koordinator program beasiswa Erasmus Mundus-MAHEVA di UGM kampus tercinta, bahwa kemungkinan lamaran beasiswaku diterima. Ini berarti usai menjalani Internship WHO di Jenewa, aku harus segera berangkat ke Belgia untuk mengikuti program MAHEVA. Sepuluh bulan lamanya. Tiga belas bulan jika ditotal aku akan meninggalkan Indonesia. Bagiku, yang baru berjumpa dengan Sang Mutiara, bukan waktu yang singkat dan perkara mudah jadinya.
Kujelaskan proposalku pada Muti, sederhana, “3 bulan WHO tambah 10 bulan MAHEVA. Kalau menikah sekarang, bagaimana?”
7 Mei 2011
“Jadi hari ini saya langsung bawa pulang ke Malang. Gimana Mas Fadjar, 16 boleh ya?”, seorang Bapak bersama putranya datang hari ini dari Malang demi menawar si Joni. Mercy Tiger 2800 CC yang sangat kusayangi.
Dulu Joni kuambil dari Mas Fauzan owner kafe susu Kalimilk Jogja dalam rangka menghadiahi diriku sendiri di ulang tahun yang ke dua puluh dua. Dengan harga yang juga sudah diturunkan dari dibanding saat Mas Fauzan dari harga beli sebelumnya. Bukan untuk gaya-gayaan, hanya bentuk apreasiasi untuk diri sendiri atas perjuangan mengembangkan usaha pulsa bersama kawan-kawan. Joni kubeli karena mampu menghadirkan memori indah masa kecil dengan Bapak dan Mbah Kakung sesama penggemar Mercy.
Banyak kenangan yang diukir Joni. Mengantarku ke berbagai pelosok Jogja, juga Magelang dan Surakarta. Mengembangkan usaha pulsa yang saat itu menjadi sumber penghidupan utama. Meskipun bukan usahaku satu-satunya, mengecer parfum, menjadi agen asuransi, jualan tas wanita, menjadi distributor Melilea, hingga mengorganisir kreasi konten kesehatan untuk Nokia, bersama Joni aku lakoni semuanya sembari kuliah di Jogja.
Dalam suatu perjalanan ke Magelang, saat kembali ke Jogja dini hari pukul tiga, Joni kehilangan penglihatannya, putus kedua lampu depannya. Beruntung dengan kegigihannya, aku dan Mas Dimas kawanku diantarnya dengan selamat kembali ke Jogja.
Hari ini dengan terpaksa Joni kulepas. Tidak sampai hati Joni kutinggal sendiri. Sementara dalam hitungan hari aku harus segera pergi. Enam belas rupiah saja, bukan dua puluh seperti tawaranku sebelumnya, atau dua puluh lima ketika aku dulu menebusnya. Tapi pengorbanan Joni tidak sia-sia, dana darinya aku jadikan modal peganganku selama di Jenewa dan sisanya untuk tambahan ongkos persiapan pernikahan hingga ke Belgia.
23 Mei 2011
Didampingi Pakde Salam, Mama, Edo dan keluargaku dari Jogja, hari ini aku resmi melamar Muti, Mutiara Indriani. Mempertimbangkan perkiraan tanggal aku akan berangkat ke Belgia pada akhir bulan Agustus, keluarga mendukung rencana pernikahan kami pada 20 Agustus 2011. Tiga bulan lagi.
Rencana pernikahan kami mengalami beberapa penyesuaian. Kami tidak menikah sebelum aku berangkat internship di WHO, melainkan sepulangnya karena waktu persiapan yang terlalu sempit. Di kemudian hari pun tanggal pernikahan kami diajukan, bukan 20 tetapi 13, menyusul jadwal keberangkatan ke Belgia maju satu minggu. Masa magangku di WHO kupersingkat satu bulan lebih pendek, agar dapat kembali dulu ke Indonesia, menikah di Jakarta, untuk kemudian bersama berangkat ke Belgia.
29 Mei 2011
Bersamaan dengan keberangkatan kakakku Edo ke Hamburg, hari ini aku berangkat ke Jenewa. Kebetulan sekali, bulan ini Edo juga akan mengikuti kursus selama tiga minggu di Jenewa. Ia tidak langsung e Jenewa karena ingin lebih dulu mudik ke Hamburg, kampung keduanya, menemui simbok Jermannya yang bertahun-tahun ia tidak berjumpa.
Berjalan menuju gate yang bersebelahan, aku menuju gate keberangkatan Qatar Airways, Edo menuju gate keberangkatan Emirates. Sepanjang jalan kami sempat mengenang pengalaman kami sewaktu kecil beberapa kali melepas Bapak di SOekarno Hatta berangkat ke luar negeri. Pengalaman yang selalu menjadi motivasi, kini giliran kami.
“Sayang yo Bapak wis ra ono..”
“Yo, nek Bapak sih ono, mungkin awak dewe saiki ra termotipasi koyo ngene. Yo wis alkhamdulillah, dipenak-penakke wae..”
30 Mei 2011
Aku tiba di Jenewa. Dari Pak Habib aku menerima pesan singkat bahwa Pak Tri dari PTRI berkenan menjemput di bandara untuk menuju ke rumah Pak Habib. Pak Habib adalah staff diplomatik Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Jenewa. Beliau dan keluarga berbaik hati menampungku selagi mencari akomodasi tetap di Jenewa.
“Fadjar, nanti sore ikut kami ke pengajian di PTRI mau? Kebetulan hari ini yang mengisi Pak Quraish Shihab,” terang Pak Habib ramah.
Pengajian dengan Pak Quraish Shihab? Meski badan kelelahan pasca perjalanan di udara 16 jam plus transit 6 jam di Doha, aku sambut tawaran dengan penuh semangat. Di Indonesia pun belum tentu aku punya kesempatan mengikuti pengajian beliau langsung.
Kebetulan sekali sepanjang perjalanan Jakarta – Doha – Jenewa aku membaca-baca salah satu buku Pak QUraish Shihab, Pengantin Alquran. Sebagai persiapan menuju pernikahan yang dilangsungkan tiga bulan ke depan. Pengajian ini menjadi pelipur hati yang gulana meninggalkan calon istri di Jakarta. Siraman rohani dan nasehat pernikahan langsung dari Bapak Quraish Shihab.
1 Juni 2011
Hari pertamaku ke kantor pusat WHO. Sebelum ke kantor beliau di PTRI, Pak Habib berbaik hati menyempatkan diri mengantarku.
Aku pun masuk lobby markas pusat WHO ini. Kutarik nafas dalam-dalam, antara percaya dan tidak pada apa yang sedang kualami. Sekarang aku benar-benar sudah tiba dan akan bekerja untuk beberapa saat ke depan di sini. WHO, Badan Kesehatan Dunia, organisasi di bawah PBB yang bertanggung jawab terhadap koordinasi upaya kesehatan di seluruh dunia. Dengan cita-cita implementasi semboyan, “Health for All”.
Setelah menunggu beberapa saat, Katie, supervisorku, datang menghampiri. Memberi petunjuk tentang segala yang perlu aku lakukan di hari pertama ini. Mendapatkan ID badge dan akun email WHO. Keduanya sangat menyenangkan unuk dimiliki. ID badge selain sebagai tanda pengenal juga berfungsi sebagai samrtcard untuk mengakses berbagai keperluan, membuka pintu otomatis dan menggunakan mesin fotokopi. Sementara email account merupakan satu hal yang sudah lama aku mimpikan. Sesuai dengan prosedur, untuk keperluan official aku diberi akun wibowom@who.int Alhamdulillah.
Aura briefing dengan Katie pagi ini berubah dari formal menjadi begitu santai dan mengalir setelah aku menjelaskan alasan pengurangan masa magangku karena akan segera menikah. Katie malah cerita padaku, kalau ia juga akan menikah di bulan yang sama, Agustus, dengan tanggal yang hanya selisih 5 hari denganku dan Muti!
Katie kemudian bertanya dari mana aku di Indonesia, ia kemudian menceritakan bagaimana ia bertemu dengan tunangannya, Matt, secara kebetulan di Gili Trawangan. Katie tergerak untuk berlibur ke Indonesia setelah mendapat banyak informasi dari Pak Ludy, tak disangka ia malah menemukan jodohnya di Indonesia. Pak Ludy memang sungguh-sungguh kreatif dan penuh inisiatif, atas sarannya pula lah di pernikahanku dan Muti aku menyanyikan Mutiara yang Hilang. Sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Ernie Djohan di era 70-an, sebuah lagu yang bahkan sebaris liriknya pun belum pernah kudengar.
2 Juni 2011
“Nanti kamar mandi di sini. Terus sepatu di situ. Kalau mau makan ambil aja apa yang ada. Mudah-mudahan suka ya Djaaarr..”
Mbak Rian menjelaskan seluk beluk apartemennya yang berada di Bouchet. Dua bulan ke depan, aku akan tinggal di sini. Bersama Mbak Rian, Pak Ludy, Raya dan Jejen.
Tinggal bersama Mbak Rian dan keluarga aku benar-benar jadi makmur dan subur. Benar-benar terasa seperti berada di keluarga sendiri. Mbak Rian yang begitu helpful dan terbuka pada banyak orang membuatnya sangat berkelimpahan termasuk urusan makanan, bahkan yang jauh-jauh dikirim dari Indonesia. Aku pun dengan senang hati menjadi penyapu ranjaunya. Selama berada di Bouchet aku menjadi semakin akrab dengan banyak komunitas Indonesia di Jenewa.
Mungkin memang sudah takdirku tidak jauh-jauh dari dunia bakulan, setiap hari senin dan Kamis Mbak Rian memasarkan Indoneisan Lucnh Box di berbagai kantor International Organization di Jenewa. Dengan senang hati aku menjadi distributornya di kantor WHO. Sebagai , aku dapat satu lunch box gratis.
10 Juni 2011
“Kepada Yth. Sdr. /Sdri. Mochammad Fadjar Wibowo
Selamat,
Anda telah dinyatakan LULUS SELEKSI Kegiatan Bantuan Keberangkatan Ke dan Dari Luar Negeri, periode Januari-Februari-Maret 2011 dengan jumlah dana..”
Alhamdulillah, sejak aku dan Muti memantapkan langkah untuk menikah, ada saja rezeki tak terduga yang kami temui. Hari ini sebuah konfirmasi bantuan dana dari Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Pendidikan Nasional aku terima. Sebelumnya aku mendaftarkan diri ke sebuah program bantuan yang saat itu dipromosikan melalui website www.bantuan.kemdiknas.go.id.
14 Juni 2011
Fadjar,
Kalau ada masa luang silakan kontak saya dan kita bisa ngobrol mengenai WHO dan minat anda dalam bidang kesehatan,
Wassalam,
Dr. Tikki Pang,
Director, Research Policy & Cooperation (RPC/IER), World Health Organization
Pagi-pagi kutemukan email ini di inbox. Sehari sebelumnya aku mengirim email massal memperkenalkan diri kepada komunitas Indonesia yang lebih senior dan telah bekerja di berbagai International Organization di Jenewa yang tergabung dalam INUNS, Indonesian Network within the United Nations Systems.
Senang bukan main aku yang baru dua minggu menjalani internship di sini mendapat email dari seorang Direktur di WHO. Aku pun segera menghubungi dan menjumpai beliau saat lunchbreak di ruangannya.
“Selamat datang Fadjar, silakan duduk.”
Pak Tikki menyambutku dnegan ramah. Baru kali ini aku merasakan disambut langsung oleh pejabat, di luar Indonesia pula.
Perbincangan pun bergulir mulai dari perkenalan saya hingga akhirnya beliau membagi pengalaman hidupnya yang sungguh menarik dan menginspirasi.
Beliau menceritakan panjang lebar perjalanan hidupnya. Aku pun menyimak menikmatinya. Lahir dan besar di Jakarta, hingga sekitar usia 15 tahun, beliau kemudian melanjutkan sekolahnya di Australia hingga mendapat gelar PhD di bidang microbiology dari Australian National University. Sebelum pindah ke Australia, beliau sempat aktif mengikuti berbagai aksi mahasiswa bersama Keatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) yang turut berdemo di belakang rombongan KAMI semasa terjadi pergolakan di Indonesia sekitar tahun 1966.
Mengetahui latar belakang kedokteran saya beliau banyak bercerita mengenai dokter-dokter senior yang pernah di WHO, maupun yang pernah bekerjasama melakukan penelitian bersama. Salah satu tokoh penting yang beiau sebut adalah dokter Nafsiah Mboi. Seoang expert dalam penanggulangan HIV.
Aku selalu senang mencari persamaan dengan lawan bicara, seringkali persamaan-persamaan ini membuat pembicaraan lebih hangat dan mengalir. Beliau kemudian bercerita mengenai riwayat karir dan akademiknya. Menyadari beliau seorang alumni ANU, aku teringat Pakdeku yang juga meraih Doktor nya di ANU ,
“Apa Bapak sempat mengenal Prof Abdul Salam Sofro, sesama alumni ANU?”
“Oh yaa ya.. saya pernah bertemu, salam ya untuk beliau..”
Ketika Pakde ke Australia untuk studi, Bapak sempat ikut untuk mengadu nasib di luar negeri. Sehingga aku ingat betul soal ini. Mengetahui Pak Tikki dan Pakde adalah sesama satu alumni, aku beranikan menyampaikan perihal ini.
Setelah menyelesaikan gelar doktoralnya di ANU beliau mengajar di Universitas Malaya, Malaysia. Alasan beliau sederhana, kalau tetap di Australia, sudah terlalu banyak peneliti di bidang yang beliau tekuni,microbiology. Sementara kalau di negara Asia, kontribusinya akan lebih bermakna. Malaysia dipilihnya karena di Indonesia hingga saat itu belum banyak fasilitas pendukungnya.
Selama dua puluh dua tahun beliau menjadi peneliti dan dan mengajar di Malaysia. Meski demikian, bertahun-tahun pula beliau menjalin kerjasama dengan para peneliti dari Indonesia. Ada suatu masa di mana setiap beliau mengunjungi Indonesia, beliau selalu membawa serta tabung-tabung reaksi hinga media agar-agar untuk penelitian. Memenuhi permintaan kawan-kawan peneliti yang kadang masalah fasilita dasar pun kesulitan.
“Memang lebih baik kamu di luar Tikki, membantu kami-kami dengan cara seperti ini,” ujar beliau menirukan komentar kawan-kawannya sesama peneliti di Indonesia.
Di sela-sela perbincangan beliau menanyakan tentang rencanaku ke depan.
“InsyaAllah dua bulan lagi, sepulang dari sini, saya akan menikah Pak, kami senang sekali kalau Bapak bisa hadir.” Spontan aku malah mengundang beliau. Kemudian kami pun berdiskusi tentang karir.
Beliau menasehati, “Kalau bercita-cita berkarir di International Organization atau di bawah United Nation system, sebaiknya masuk sebagai seorang expert. Memulai terlalu muda sebagai project officer staff membuat kita terjebak dalam rutinitas pekerjaan yang sifatnya adminitratif, prosedural, dan hanya berorientasi pada proses. Sehingga kehilangan kemampuan analitis dan inisiatif.”
“Kumpulkanlah pengalaman sampai menjadi seorang expert, miliki keahlian teknis, lakukan banyak-banyak research, publikasi, pengalaman kerja lapangan, sebagai dokter di daerah misalnya. Nanti, ketika mengajukan diri ke level internasional sudah memiliki landasan yang kuat di bidang keahlian masing-masing.”
Beliau juga mengingatkan, berkarir di IO perlu menyadari situasi dan mengikuti perkembangan. saat ini banyak International Organization yang sedang mengalami reformasi besar-besaran. Salah satunya WHO yang akan merumahkan hingga hampir separuh staffnya di headquarter.
Suatu hari, Sebagai sebuah organisasi yang sudah berusia, manajemen organisasi WHO tidak mampu mengikuti perkembangan zaman dengan ketatnya kompetisi di antara NGO di dunia di bidang spesifik. Untuk kesehatan misalnya, WHO memiliki banyak pesaing. Contohnya, Global Fund dan Bill Melinda Gates Foundation yang lebih banyak bergerak dalam bidang kemanusiaan dengan produk yang tampak lebih nyata hasilnya. Sementara WHO dikenal “hanya” menghasilkan produk berupa kebijakan-kebijakan. Ini menjadi tampak tidak menarik bagi para donator. Sementara WHO dihidupi oleh para donator yang salah satu donator utamanya adalah Bill Gates.
“Sebetulnya saya bercita-cita jadi jadi diplomat Pak Tikki, tapi nasib membawa saya sekolah di kedokteran,” tak sengaja tiba-tiba aku malah curhat.
Seolah ingin menjawab kegalauanku beliau kemudian beringsut menyodorkan dua lembar kertas.
“Global Health Perspective. Ilona Kicbusch, Director of Graduate Institue Geneva.”
Beliau menjelaskan dunia kesehatan kini sudah menjadi begitu luas, Global Health. Sambil menjelaskan tentang paper tersebut beliau berbicara tentang peluang untuk meningkatkan partisipasi warga Indonesia dalam intertanional organization, mulai dari WHO misalnya.
“Jadi boleh saya referensikan junior untuk intern disini Pak?” tanyaku penasaran.
“SEBARKAN! This is a very good field to get involved. Ya, tentu saja, tapi kalau bisa jangan UI, UGM dan ITB terus, dari daerah sekali-sekali. Kalau perlu dijadikan sebuah program, barangkali Deplu sebagai penanggungjawabnya, karena kaitannya dengan diplomasi Indonesia. Dulu pernah ada pembicaraan dengan Pak Trian, Dubes PTRI, tapi belum ada follow up lagi dari Jakarta. Karena saya tahu, untuk berangkat kemari membutuhkan dana yang tidak sedikit, saya harap akan ada perkumpulan alumni intern misalnya yang akan menaungi dan mengupayakan penggalangan dana untuk memberangkatkan intern dari Indonesia ke berbagai UN Bodies di sini. Indonesia butuh lebih banyak wakilnya disini.”
“Somehow, we need to start somewhere!!!” tukasnya lugas.
Sampai titik ini saya benar-benar menangkap semangat nasionalisme Pak Tikki. Menurut beliau kini sudah saatnya Indonesia tidak melulu berkutat dalam urusan dalam negeri, tapi juga muncul ke permukaan internasional menunjukkan taji. Aktif berpartisipasi. Dalam bidang penelitian, beliau menekankan bahwa penelitian Indonesia tidak kalah kelas, hanya saja masalah keberanian dan penguasaan bahasa menjadi kendala dalam mengangkat dan mempublikasikannya.
Penelitian-penelitian ini dapat menarik perhatian internasional yang hasilnya dapat diimplementasikan dan membuat Indonesia leading dalam suatu bidang. Pengalaman kasus virus H5N1 anatara pemerintah dan WHO dapat menjadi pelajaran berharga bagaimana Indonesia dapat menjadi perhatian internasional.
Aku pun memberanikan diri bertanya lebih lanjut, “So far, saya lihat meskipun Bapak sudah begitu lama di Malaysia, hanya 15 tahun tinggal di Indonesia, apa yang membuat Bapak memiliki nasionalisme yang begitu besar?”
“Mungkin karena ayah saya. Ketika saya sudah 15 tahun di Malaysia dan merasa semua yang saya miliki dan dapatkan ada di Malaysia, saya sempat berpikir untuk berpindah kewarganegaraan, ketika mendengar itu ayah saya yang sedang sakit berkata..”
“Selama saya masih hidup, jangan berani-berani jadi orang Malaysia, Malaysia itu nggak ada apa-apanya!!! Apa kata orang, anak Pang Laykiem jadi orang Malaysia! Saya yang malu!!”
Tergetar dalam hati aku mendengar ceritanya. Ya, masa itu masa di mana Indonesia masih tampak benar-benar unggul dibanding Malaysia. Tidak heran jika melihar latar belakang ayah beliau.
Di akhir perjumpaan beliau mengenalkan seorang intern asal Canada di bagiannya pada saya dan menjelaskan project kecil yang ia amanatkan untuk meresearch Global Health Center/Institute yang ada di negara-negara berkembang. Beliau diminta oleh NTU dan NUS di Singapore untuk menjadi salah satu inisiator pembentukan Global Health Centre di kawasan Asia dengan Singapore sebagai pusatnya. Agar Asia dapat berkompetisi dengan dominasi negar-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.
“So please, within these two to three years, you keep in touch with me. Please come by before you leave for Indonesia. I need young candidate like you.”
Juni-Juli 2012
Selama dua bulan ini aku bekerja di bagian Resource and Mobilization. Sebuah tim di bawah koordinasi Assistant Director General (ADG) Health Security & Environment (HSE), Keiji Fukuda. Uniknya, Resource and Mobilization Team ini tidak tertulis di organigram WHO pun tidak terdapat di setiap ADG lain karena tim ini terbentuk berkat keuletan dan prestasi big boss kami yang sangat brillian dan begitu dipercaya oleh Director General Dr. Margaret Chan.
Tim ini awalnya berperan sebagai fund-raiser ADG-HSE, namun kesuksesan Pak Ludy sebagai leader di tim ini dalam berbagai negosiasi, ditandai dengan massive resource yang berhasil diperolehnya, menjadikan tim ini kemudian malah menjadi tumpuan beberapa ADG lain di WHO guna mendukung pelaksanaan program-program mereka.
Berkat informasi dari Mama Nani lah aku mengawali langkah mengajukan diri melamar posisi intern kepada Pak Ludy. Sejak itu, beliau mempersilakan ku untuk mengirimkan lamaran untuk di-review dan diwawancara oleh Katie hingga akhirnya diterima dan sampai di Jenewa.
Merujuk pada pengalamanku yang sarat dengan keberuntungan, sering aku bertanya pada intern lain dari berbagai negara bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan kesempatan internship nya. Karena keberuntungan juga kah? Setelah mendengar banyak dari mereka ada beberapa cara yang umumnya mereka tempuh.
Rekomendasi. Rekomendasi dapat diberikan oleh professor di universitas mereka yang memiliki koneksi atau menjadi researcher di WHO. Rekomendasi juga dapat dilakukan oleh seorang yang pernah bekerja atau mengenal seorang key person di salah satu bagian. Suatu hari Mas Ivan Rahmatullah, seorang ahli public health dari Universitas Airlangga pernah berbaik hati mengenalkan aku pada supervisornya di salah satu bagian di mana beliau pernah magang.
Aplikasi via IFMSA. Mailing-list International Federation of Medical Student’s Association (IFMSA) secara berkala memberikan informasi vacancy internship di WHO. Kebetulan sekali yang kini menjadi Liassion Officer IFMSA untuk WHO adalah salah seorang sahabatku dan partner sholat Jumat semasa kami menjalani internship, Usman Mushtaq dari Norwegia.
Aplikasi On-Line. Ini adalah jalur paling formal untuk mendaftar internship di WHO. Namun justru pihak HRD WHO yang sempat menjumpai kami dalam sebuah kesempatan menyatakan maafnya bahwa justru aplikasi on-line lah yang paling sulit ditembus. Karena lamaran yang masuk mencapai ribuan per periodenya menyisakan mayoritas lamaran bahkan tidak sempat di-review. Dalam kesempatan tersebut terungkap juga bahwa hampir separuh intern berasala dari Amerika Serikat dan Kanada.
Jalur lain yang sempat aku temukan dari pengalaman intern lain adalah dengan mengikuti training yang ditawarkan oleh Duke University
”Absolutely, it’s all about networking. Seven thousands application per year, can you imagine?!! No one in HRD would take a look on any single of those million files, Fadjar. They will just take it from their contact of reference in their inbox, yes network!!!” kata seorang kawan sesama intern dari India yang sedang menyelesaikan Master of Public Health meskipun sudah mendapat gelar MBA dari universitas yang sama, UCLA.
Ketika aku bergabung, tim Resource and Mobilization yang terdiri dari lima orang dengan lima kewarganegaraan yang berbeda saat itu sedang fokus menyiapkan dua acara besar, Formal Meeting of Public Private Collaboration yang akan diselenggarakan bulan Juli di Singapur dan Table Top Exercise for Public Private Collaboration in Global Health Security yang akan diadakan di Jakarta.
Bersama Yuki, seorang kolega dari Jepang yang kemudian menjadi sahabat, aku membantu menyiapkan profil kandidat sekaligus undangan peserta meeting dan training ini yang rata-rata adalah CEO dari berbagai perusahaan international sebut saja Siemens, Zurich Bank, Dexia, Bank of China, Air Asia dan lain-lain.
Banyak hal yang membuatku terkesan bekerja dengan orang Jepang, salah satu yang paling berkesan adalah prinsip “double check“. Mereka selalu memeriksa ulang setiap pekerjaan sebelum berganti ke pekerjaan lainnya. Meskipun diistilahkan dengan double check, yang aku alami mereka memeriksanya bahkan hingga tingga kali. Benar-benar detail, rapi, nyaris sempurna.
Untuk mendukung persiapan dua acara di atas, aku juga diminta oleh Pak Ludy untuk membuat beberapa laporan analisis mengenai pandemic preparedness di beberapa negara Asia Pasifik dan Eropa untuk membandingkan rencana strategis di antara pemerintah negara-negara yang rentan dengan ancaman pandemic. Laporan analisis lain yang sempat kubuat atas permintaan Pak Ludy adalah implementasi publc private collaboration di beberapa negara dalam berbagai sektor.
Tugas-tugas ini semakin membuka wawasanku betapa luasnya dunia kesehatan terutama ketika kita masuk ke ranah Global Health.
Sementara tugasku yang bersifat administratif antara lain menyusun travel claims Pak Ludy yang sudah dua tahun ini belum selesai tergarap karena kesibukan para staffnya dan tingginya frekuensi perjalanan beliau. Dari laporan yang kukerjakan, dalam sepuluh hari berurutan, aku dapat menemukan jejak beliau di tiga benua berbeda. Roma, Tokyo, Bangkok, India, New York, Singapore, Bali, London, Sydney adalah beberapa kota yang sempat dua tahun ini dikunjunginya. Bahkan dari network system dapat aku temukan beliau sempat menjadi top rank duty traveler di WHO.
Kadang aku yang malah berimajinasi seolah turut merasakan perjalanannya. Dari kumpulan email dan dokumen yang ada, aku harus menganalisis latar belakang, tujuan, hasil, dan follow up dari duty travel beliau kemudian mendeskripsikannya dalam sebuah laporan. Kadang dokumen yang ada sangat terbatas sehingga aku harus bisa mengira-ngira apa yang terjadi dalam pertemuan-pertemuan yang beliau lakukan. Beruntung kalau aku dapat mengkonfirmasi langsung dengan beliau. Meski ruang kami bersebelahan, belum tentu setiap hari kami aku bisa mengumpulkan informasi darinya.
“Fadjar, you should think as if you were Ludy..!” Julia seorang staff asal Jerman menasehatiku menjawab keraguanku sebelumnya, “I don’t think we have sufficient record on this trip..”
Di bawah arahannya setiap hari aku perlu, kalau tidak mau dibilang harus, menyelesaikan tiga traveling report dengan dua hingga tiga kali revisi darinya. Terasa sekali karakter perfeksionis ala Jerman-nya setiap kali mengoreksi pekerjaanku. Sejak bekerja bersama Julia pulalah aku terbiasa pulang larut karena setiap kali merasa selesai mengerjakan tugas, aku merasa tugasku ini masih bisa terus dikoreksi. Bagaimanapun juga dari Julia aku belajar banyak merangkai laporan dalam bahasa Inggris yang berbunga-bunga penuh dengan frasa dan kata diplomatis.
Bekerja di WHO, banyak hal baru yang kutemukan, hampir sama sekali tidak berhubungan dengan pendidikanku di kedokteran. Membuatku harus cepat beradaptasi, salah satunya dengan bertanya sana-sini. Beruntung ternyata sudah ada beberapa senior di kantor ini. Seperti Monica dan Tante Mieke yang sudah lama bekerja di sana. Pada keduanya aku bertanya dan belajar banyak hal, tidak jarang aku hanya berniat bertanya malah ditraktir ngopi dan jajan.
Pekerjaan administratif membuatku perlu bekerja menggunakan printer dan mesin fotokopi. Di minggu pertama aku benar-benar menikmati pekerjaan ini karena baru kali ini aku menemukan mesin fotokopi yang begitu pintar. Selain failitas scan dan printer, mesin ini juga dapat diperintahkan hingga menjilid dan menyusun perintah printing seperti kita ingin menyusun sebuah buku.
Hingga suatu hari..
“Bisa??” tanya seorang bule yang mengantri di belakangku melihat aku kikuk mengoperasikan mesin fotokopi dan printer ini.
“Bisa,” jawabku.
“Sudah berapa lama di sini?” tanya bule itu lagi.
“Heh?? Did you just speak Indonesian?” aku baru sadar, ada seorang bule di lorong WHO menyapaku dengan bahasa Indonesia??!!
“Iya, kamu dari mana?”
“Hah?? Jogja, eh Indonesia,” aku masih meyakinkan diri kalau aku tidak salah dengar dan bahwa bule ini memang sedang berbahasa Indonesia.
“Oh, wong Yojo tho..”
“Haaahh???!!” aku masih belum sepenuhnya menerima kenyataan. Kalau di Belanda atau Jerman bertemu orang yang sangat akrab dengan budaya Indonesia aku mungkin tidak jauh penasaran. Tapi kalau dari Swiss aku masih bertanya-tanya.
Setelah bertukar nama dan cerita, barulah aku paham duduk masalahnya. Dominique namanya, ia sempat bertugas sekitar tiga tahun di Indonesia dan begitu mencintai Indonesia, budaya bahkan orangnya, sehingga kini telah menikah dengan seorang Indonesia. Sejak saat itu kami sering bertegur sapa dan sesekali minum kopi bersama. Sosok yang luar biasa.
15 Februari 2012
Hari ini aku dan Muti akhirnya bersama-sama mengunjungi Jenewa, Swiss. Perjalanan ini bagi kami menyimpan banyak arti. Dua bulan lamanya di sana aku magang sambil “terpingit”. Tahun lalu bulan Mei hingga Juli, setiap orang yang kukenal tak luput kukabari dan kuundang ke pernikahanku dan Muti. Bahkan sebuah lagu, Mutiara yang Hilang, bersama sebuah cincin mutiara yang kusertai di pelaminan pun dari sini asalnya.
This slideshow requires JavaScript.
Lima hari kami berusaha menjumpai seluruh keluarga di WHO dan Jenewa, mengenalkan Muti, mengucapkan terimakasih dan bernostalgia. Terimakasih Mbak Rian, Pak Ludy dan semuanya yang sudah kami anggap keluarga. Terimakasih Jenewa.
0.000000
0.000000
Like this:
Be the first to like this post.